
Pagi yang cerah di tambah bunyi alarm yang menunjukkan pukul 7 pagi, dingin AC masih terasa menusuk tubuh. Ruangan masih gelap karena tirai belum terbuka, pastinya jelas sekali aroma sisa pizza semalam masih tercium. Rasha seperti mayat hidup tanpa gerakan tanpa bunyi membiarkan alarmnya bersua, seperti biasanya tingkat kemalasannya lebih tinggi.
Teringat waktu dulu Rasha yang hidup di jalanan mendapat makanan jika ada yang berbelas kasih, sejak Panti Asuhan yang di tempatnya di gusur ia dan teman-temannya harus keluar mencari jalan hidup sendiri. Mereka berpisah di sepanjang jalanan membawa baju seadanya hanya Mancung saat itu tetap bersamanya saling menjaga,menemani, dan membantu satu sama lain. Soal sekolah jangan di tanya lagi ia bahkan tak tamat sekolah dasar, tetapi sikap ingin belajarnya tak pernah padam. Faktor keuangan membuatnya harus merelakan cita-cita menjadi seorang dokter apalagi biaya hidupnya di tanggung oleh Panti Asuhan yang kini sudah di gusur, hidup berkelana di jalanan menambah kerasnya hidup. Berjaga setiap malam membuatnya jarang tidur karena takut akan orang asing, ia tahu banyak kasus pemerkosaan bahkan pbunuhan ia selalu terjaga setiap malam ia harus menjaga diri sendiri ia tak bisa berharap banyak dengan Mancung karena mereka seumuran. Tidur di depan toko, di bawah jembatan, bahkan pernah menumpang di beranda rumah orang. Sikapnya saat ini hanya pembalasan tentang masa lalunya, ia ingin menikmati keberhasilannya ia hanya ingin merasakan manis perjuangan selama ini.
"Malasnya diriku." Suara Rasha menekan saat mematikan alarm di handphone, ia melihat ke arah sofa tidak kelihatan Silsi di sana. " Ternyata sudah pergi." Gumamnya, lalu ia membenamkan wajahnya ke bantal.
Dua Minggu berlalu tanpa Mancung membuatnya kesepian biasanya Mancung yang membangunkannya tidur ia merasa rindu dengan teman jalanannya itu tapi jika mengingat kebersamaan mereka membuatnya sedikit sebal karena Mancung selalu membuatnya marah.
Rasha meraih handphone ia merasa begitu rindu dengan Mancung yang sudah di anggap adiknya sendiri mengirim pesan agar ia cepat pulang.
"Cung aku rindu loh sama kamu, pulang dong cepetan bete nih di apartemen sendirian." Pesan terkirim, tak lama kemudian kebiasaannya muncul saat ia makan malam begitu banyak pasti paginya langsung buang air besar. Rasha tidak tahan lagi berlari menuju kamar mandi belum sampai ia tersandung pastinya ia lupa menghidupkan lampu apalagi membuka tirai, terjatuh cukup keras membuatnya meringis kesakitan dan yang di sandungnya lebih meringis keras.
"Aduh... Pasti kak Rasha nih, otak mu di mana sih kak sakit tau." Silsi memegang perut bagian kirinya karena kena kaki Rasha.
"Otak.. otak enak ya kamu ngomong sama bos, awas kamu ya nanti aku mau buang air dulu." Rasha ingin sekali memaki lebih lama tapi harus ada yang di buang terlebih dahulu.
Merdeka jika sesuatu yang mengganjal sudah pergi, Rasha keluar dari kamar mandi cahaya yang masuk ke apartemennya membuat matanya silau tapi ia tetap saja ingin memaki Silsi. Melihat sekeliling kosong belaka tidak ada tanda-tanda kehidupan orang lain hanya dirinya saja dan terlihat kotak bekas pizza tadi malam. Rasha geram mencari Silsi ke seluruh ruangan tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Tentu saja teriakan Rasha akhirnya keluar menggema di seluruh apartemennya.
__ADS_1
"Aarggggghhhhh Silsi otak mu yang gak ada...." Teriaknya geram.
Silsi yang sedang mengendarai mobil tersedak tiba-tiba ia yakin pasti Rasha memaki dirinya, "pasti dia makin gila hahaha." Silsi tertawa sambil membawa laju mobilnya ke rumahnya.
Jam menunjukkan pukul 7:52 Rasha sudah ada di ruangan kerjanya bersama sekretaris kepercayaannya,kursi empuk miliknya di kantor membuatnya tersandar, ia menatap meja kerja Silsi seperti mau segera menerkam pemilik si kursi.
"Cih jam segini belum juga datang melihat jam di dinding ruangannya." Rasha masih geram dengannya dari malam hingga pagi, pertama kalinya ia datang ke kantor sepagi ini tanpa mandi,tanpa gosok gigi, tanpa cuci muka rambut kusut di ikat sembarang dan parahnya baju tidur warna kuning miliknya masih melekat di tubuhnya.
Suara nyanyian terdengar samar dari luar ruangan, Rasha yang mendengar terus menatap pintu. Lagu bahagia di pagi hari pasti menambah semangat menjalankan aktivitas.
Pintu terbuka Rasha langsung berdiri menatap marah, matanya melotot seperti mau keluar. Silsi yang di depannya sangat terkejut melihat Rasha dengan kondisi seperti itu, ia kembali menutup pintu dan berlari menjauh. Rasha makin kesal dan mengejarnya teriakan nama Silsi menggema seisi kantor, Silsi dengan baju kantornya berlari kencang di tambah lagi sepatu hak tinggi yang di pakainya membuat lambat larinya. Sedangkan Rasha laju larinya seperti kesetanan di tambah sendal jepit yang dipakai membantunya kali ini, kegeramannya dengan Silsi harus di obati hari ini.
"Itu Sekretaris Silsi kan?"
"Gila tuh cewek pakai baju tidur ke kantor."
"Sekretaris kok lari-lari sih."
__ADS_1
"Gua curiga sama mereka berdua."
"Dasar stress."
Mendengar itu Rasha makin geram ia menyuruh Silsi ngomong, ia tidak mau jadi bahan omongan orang.
"Si kamu suruh mereka pergi, jangan bilang siapa aku." Perintah Rasha.
"Siap bos." Katanya pelan.
Rasha menganggukkan kepala berharap tak ada yang menanyai dirinya.
Silsi melihat para karyawan dengan tatapan marah.
"Apa lihat-lihat sudah masuk sana!" Perintah Silsi dengan keras.
Para karyawan ketakutan melihatnya ada yang beberapa tertawa juga saat meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Awas kamu ya, aku mau pulang dulu urusan kita belum kelar." Sambil menunjuk ke arah Silsi dan menyuruhnya masuk ke dalam.
Melihat Silsi memutar balikkan badan ia pun begitu Rasha ingin cepat keluar ia terlalu malu dengan dirinya saat ini, ia berjalan beberapa langkah dan terhenti saat melihat Goman sudah ada di depan matanya. Perasaannya jadi satu terlebihnya sangat kacau, ia menyadari dirinya seperti orang gila di hadapan Goman. Goman menatapnya aneh perasaannya juga menjadi satu terlebih lagi ia bingung, menatap Rasha dari ujung kaki sampai kepala. Pertanyaan demi pertanyaan terlintas di kepalanya ia tidak berani berprasangka kepada Rasha sedangkan wanita yang dihadapannya masih mematung melihat Goman, ia tak mampu berbicara bahkan ia juga bingung harus menjelaskan apa ia tidak ingin Goman mengetahui identitasnya dalam waktu dekat ia ingin memberi tahu di saat yang tepat. Tidak tahu juga kapan tapi yang jelasnya tidak sekarang, kepalanya pengap ia bingung harus berbuat apa ia hanya menatap Goman menganga.