
"Ah Edelweis ah males lah aku, emang tega ya. Pokoknya males, aku gak mau tega amat ih."
Mancung merengek mendengar penjelasan Rasha yang menyuruhnya belajar di rumah Silsi, Lucya yang melihat tingkah Mancung hanya bisa tertawa.
"Udah berangkat sana, coba jangan manja mau aku tabok ya." Rasha sudah mengangkat tangan membuat Mancung langsung terdiam, tetapi wajahnya tetap cemberut.
"Iya aku pergi, tapi kenapa aku harus belajar tentang Edelweis Group sih." Tanya Mancung dengan wajah cemberutnya.
"Aku mau kamu itu mandiri cung, jangan hanya ngikutin aku aja. Aku mau kamu ngurus perusahaan di Sumatera, aku baru bangun disana jadi aku bakal pergi ke sana bulan ini. Sebelum bisa kamu harus belajar dulu sampai bisa, kalau nggak kamu gak usah tidur di sini lagi." Kata-kata Rasha membuat nyali Mancung menciut pertama ia akan ngurus sebuah perusahaan jika tidak ia akan di usir dari apartemen ini.
" Iya deh iya, aku pergi sekarang." Rasha dan Lucya hanya tersenyum menatap satu sama lain melihat wajah Mancung yang makin cemberut.
Mancung pergi meninggalkan Rasha dan Lucya, ia pergi dengan wajah cemberutnya menuruti perkataan Edelweisnya itu.
"Lucya kamu bakal lama ya di Indonesia?" Tanya Rasha yang sedang duduk di sofa berdua dengan Lucya.
"Aku belum tau kak, kenapa kak aku merepotkan ya?" Tanya Lucya khawatir.
"Bukan itu, kamu gak merepotkan kok. Aku cuma tanya aja kamu bakal lama gak di Indonesia?"
"Aku sih belum tau kak, tapi aku tuh malas aja balik ke Amerika soalnya Daddy aku nyuruh aku ngurusin salah satu Bar miliknya disana. Daddy aku tuh punya beberapa Bar walaupun gak banyak tapi cukup berkelas juga." Jelas Lucya.
"Wah berarti Bar Daddy kamu lebih dari satu dong, kok kamu gak mau sih ngurusin Bar di sana kan bisa belajar bisnis juga." Kata Rasha.
"Iya sih kak bisa belajar bisnis, apalagi yang kayak kakak udah jadi miliarder di Indonesia. Tapi aku tuh gak suka di Bar tau lah banyak buaya daratnya." Tutur Lucya.
"Mmm kalau gitu kamu kerja di Indonesia aja Lus, biar bisa mandiri mana tau kamu bisa bikin perusahaan sendiri disini." Kata Rasha yang mulai semangat berbicara bisnis.
"Aku tuh mau aja, tapi bingung kak mau kerja apa disini. Lagian aku juga belum banyak pengalaman, tapi aku sarjana ekonomi kok." Mendengar itu Rasha langsung punya ide untuk memasukkan Lucya ke kantornya.
"Kalau gitu kerja di Edelweis Group aja mau gak?" Tanya Rasha semangat.
"Hah, aku kak? Aku gak bisa apa-apa kak, lagian aku mau jadi apa di sana kak." Lucya kaget dengan perkataan Rasha.
__ADS_1
"Jadi asisten manajer." Jawab Rasha sumringah, sebenarnya ia mau menjodohkan Joan dengan Lucya. Ia tidak mau jika Joan terus menaruh hati kepadanya, dipikiran Rasha hanya ada satu pria yaitu Goman.
"Tapi kak aku gak bisa apa-apa loh kak."
"Sudah besok kamu ke kantor aja, nanti aku bilangin ke Manajer Joan. Aku jadiin kamu asisten Manajer karena Asisten disana bakal aku pindahin ke Sumatera dan jadi gantinya kamu, dia juga bakal nemanin aku ke Sumatera lusa nanti." Jelas Rasha.
"Kakak mau ke Sumatera lusa nanti, jadi aku gimana dong aku tidur di mana nanti kak?" Tanya Lucya panik karena ia akan akan berdua saja dengan Mancung di apartemen.
"Hahaha pasti kamu takut sama Mancung ya, tenang dia itu gak berani macam-macam dia itu polos. Lagian dia jarang tidur di apartemen, di bakal tidur di apartemen Sekretaris aku nanti." Jelas Rasha sambil tertawa kecil.
"Oh gitu, oke deh kak aku bakal ke kantor besok." Jawab Lucya.
"Mantap... Gitu dong, malam ini kamu tidur sendiri ya aku mau tidur di rumah teman aku soalnya."
Kata Rasha yang sudah berdiri hendak bersiap-siap.
"Oke kak." Kata Lucya semangat.
"Gak apa-apa kan?"
Rasha menatap keluar kaca jendela taksi, ia bingung apa yang akan di jelaskannya nanti ke Goman. Ia tahu pasti Goman bertanya tentang dirinya, banyak alasan yang tak masuk akal bersemayam di kepalanya saat itu.
Setelah sampai di depan rumah Goman, ia tak melihat mobil Goman di sana. Ia juga mengetok pintu rumah Goman tapi tak ada tanda-tanda orang di dalam. Rasha memutuskan duduk di ayunan duduk di teras rumah itu, di halaman rumah Goman banyak sekali bunga Kembang Sepatu. Ia teringat Pak Haris yang selalu membantunya menjalankan bisnis di awal-awal perjalanannya dulu, Pak Haris selalu membawakan satu bunga Kembang Sepatu dan meletakkan di telinga Rasha tak lupa ia juga meletakkan di telinga Mancung.
"Kamu itu harus lebih feminim biar kayak wanita seutuhnya, ini nggak malahan yang lebih feminim daripada Anta ya gak cung?" Pak Haris menarik hidung Mancung yang tersenyum.
"Hehehe Pak Haris kok tega sih sama Mancung entar dia nangis loh." Kata Rasha sambil tertawa.
"Kamu tuh Ha, kek gak ada rasa aja udah di bilangin kok kamu itu harus feminim ini malah makin menjadi kerasnya." Kata Mancung sebal, Pak Haris yang mendengar itu langsung tertawa.
"Wek... Biarin aja, aku ini mau jadi kayak bunga Edelweis biar di injak-injak, di tengah hujan maupun panas ia tetap abadi ia juga tetap tumbuh tanpa rasa takut." Jelas Rasha sambil menepuk dada bangga.
"Beh dasar Edelweis." Ejek Mancung.
__ADS_1
"Wah bagus juga nama itu Rasha, kalau bisnis kamu berkembang kamu bikin perusahaan namanya Edelweis aja sesuai dengan artinya abadi." Saran Pak Haris.
"Iya juga ya Pak Haris, aku janji aku bakal jadi miliarder suatu hari nanti." Kata Rasha semangat.
Rasha masih menatap lekat bunga itu, tak sadar air matanya tumpah ia sangat merindukan Pak Haris yang selalu bersamanya dulu tetapi Pak Haris hilang tiba-tiba ia pergi tanpa pamit, bahkan Rasha dan Mancung tak tahu dimana ia tinggal.
Cahaya lampu mobil Goman menyilaukan Rasha yang masih menangis ia pun langsung mengusap air matanya dan langsung berdiri karena Goman sudah berjalan menghampirinya.
"Eh Goman.." sambil menyeka air matanya.
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Goman khawatir.
"Nggak aku cuma kelilipan aja, kamu dari mana?"
Rasha melihat wajah Goman yang sudah tenang.
"Aku tadi abis nganterin Minam ke apartemen Bu Silsi, masuk yuk di luar dingin." Ajak Goman sambil membukakan pintu rumah yang terkunci.
"Ngapain Minam ke rumah Bu Silsi?" Tanya Rasha yang pura-pura tidak tahu.
"Oh itu, katanya dia di suruh belajar di sana tapi gak tau juga dia gak jelasin untuk apa." Goman mengunci pintu kembali dan melangkah menuju kamar dan di ikuti oleh Rasha.
"Bagus dong berarti Bu Silsi percaya sama dia, tapi jam berapa dia pulang kok belajarnya malam sih?" Tanya Rasha
"Dia tidur di sana, mudah-mudahan dia gak bikin kesalahan." Jawab Goman.
"Semoga aja, mmm... Aku boleh gak tidur di sini malam ini?" Pinta Rasha ragu-ragu ia khawatir jika Goman menolaknya.
"Kok nanya sih kamu itu bebas tidur di sini." Mereka yang sudah duduk di kasur tersenyum hangat, Rasha tampak bahagia tapi ia sedih karena akan meninggalkan Goman untuk sementara waktu ke Sumatera.
"Tapi Anta gimana? Eh maksudnya Mancung?" Tanya Goman.
"Dia ninggalin aku di kost sendiri katanya mau tidur di tempat temannya, jadi aku takut makanya aku kesini." Jawab Rasha bohong.
__ADS_1
"Udah gak apa-apa kamu tidur di sini aja sama aku." Goman menepuk kasurnya tanda menyuruh Rasha tidur di kasurnya, ia pun langsung berdiri membuka bajunya Rasha yang melihat itu membuat wajahnya bersemu merah.