
"Minam, kamu kenapa sih? Minam?" Jerit Goman setelah memasuki rumahnya melihat sekitar rumah tampak hening, "kamu dimana sih, kenapa nelpon Abang?" Banyak pertanyaan muncul di pikiran Goman ia khawatir tentang Minam ia takut terjadi apa-apa dengan adik satu-satunya itu.
"Abang..." Pekik Minam dari dalam kamar, Goman mendengar itu langsung berlari menuju kamar adiknya.
"Ada apa dek." Goman sudah membuka pintu kamar Minam ia kaget melihat Minam yang sudah berdiri ketakutan di atas tempat tidurnya. "Kamu kenapa dek?" Tanya Goman lagi dan mendekati adiknya.
"Bawa aku keluar bang aku takut." Minam melihat sekeliling karena ketakutan.
"Ya udah sini Abang dukung kamu keluar." Goman langsung berbalik badan dan memberikan punggungnya agar adiknya menaikinya. Minam yang melihat itu langsung menaiki abangnya dan berjalan ke luar kamar sampai di ruangan tv-nya.
"Kamu takut apa sih Minam?" Tanya Goman saat menurunkan adiknya.
"Ada kecoa bang, aku takut." Raut wajah Minam ketakutan sambil melihat abangnya itu.
"Ya ampun kamu ini ya kirain ada apa tadi, Abang langsung pulang tadi gara-gara kamu nelpon. Mana Abang sama teman Abang tadi, ya ampun kamu ini Minam." Goman tampak kesal dengan Minam ia yang berdiri di depan Minam sudah beranjak duduk di sofa.
"Kan aku takut bang, maaf lah kalau aku ganggu." Minam tertunduk sedih.
"Makanya itu, kamu itu perempuan sudah kuliah dan mau hampir selesai bentar lagi juga mau nikah tolong dong jangan jorok. Pantesan aja kamar mu banyak kecoa toh baju berserakan buku juga, mentang-mentang Abang jarang masuk kamar kamu seenaknya jorok gitu." Goman menasehati adiknya ia berusaha sedewasa mungkin.
"Aku tuh capek bang mana tugas kuliah banyak banget, skripsi aku belum kelar juga gimana coba sempat beres-beres." Bantah Minam tapi ia tidak berani menatap wajah abangnya.
"Kamu itu tugasnya saat ini cuma belajar Minam masih banyak waktu juga kan beresin kamar, kamu coba deh liat kamar abang mana ada berserakan. Abang kerja loh Minam capek juga tapi Abang sempat kok beresin kamar, kamu itu perempuan harus belajar dari sekarang kalo sekiranya nanti kamu nikah rumah berserakan pasti suami mu marah-marah nantinya. Mulai dari sekarang kamu harus rajin disiplin juga ya, jangan kecewain Abang ya." Goman menasehati adiknya dengan perlahan agar adiknya itu tidak marah biasalah anak seumurannya kalau dinasehati pasti makin melonjak.
__ADS_1
"Iya bang, aku janji akan jadi pembersih mulai hari ini." Minam melihat abangnya yang perhatian dengannya langsung memeluk hangat. "Terima kasih ya bang jadi Abang yang terbaik buat Minam." Lanjut Minam sambil memeluk erat abangnya.
"Iya, yuk Abang bantu beresin kamar kamu, tapi janji ya jangan berserakan lagi." Goman mengelus rambut adiknya pelan.
"Yuk, maafin Minam ya bang." Sambil melepas pelukannya.
"Yuk." Goman sudah berdiri dan mereka beranjak ke kamar adiknya.
Melihat sekeliling kamar adiknya Goman berdecak kemudian melihat adiknya yang hanya tersenyum karena takut di marahi lagi, mereka berdua berkemas ada beberapa kecoa yang muncul membuat Minam berlari kemana-mana tapi tetap di dalam kamar melihat itu Goman tertawa terbahak melihat adiknya. Kebersamaan malam itu membuatnya bahagia walaupun hanya dengan berkemas kamar, waktu mereka berdua hanya banyak di habiskan untuk kerja dan kuliah tidak seperti waktu dulu saat orang tua mereka masih hidup.
Berbeda dengan Rasha ia yang terbenam di tempat tidurnya merasakan bahagia karena berjumpa dengan lelaki pujaannya yaitu Goman, ia sangat senang hari ini walaupun kebersamaan mereka tadi hanya sebentar tapi waktu yang dirasakannya sangat panjang.
"Selamat malam kak Rasha, aku rindu loh sama kakak. Kakak kok jarang sih ke kantor lagi, kemarin kakak rapat aku gak datang soalnya lagi sakit. Aku boleh gak datang ke apartemen kakak malam ini?" Pesan dari Silsi membuat Rasha langsung duduk di kasurnya pasti ada yang ingin di bicarakannya pikir Rasha.
Setelah membalas pesan Rasha langsung membaringkan diri lagi, baru mau memikirkan Goman tiba-tiba bel Apartemennya berbunyi dalam ia beranjak keluar berharap pizza yang di pesannya segera sampai. Ia terlalu lapar malam ini hanya makan semangkuk mie ayam bakso mana bisa menjejali lambung rakusnya.
Rasha membuka pintu yang muncul bukan lah kurir pizzanya malah Silsi yang muncul ia kecewa karena lapar dan kaget karena Silsi secepat ini datang ke apartemennya.
"Kok cepat amat sih Si perasaan tadi kamu baru kirim aku pesan deh." Rasha yang masih berdiri di balik pintu langsung menunjukkan tangan supaya Silsi masuk ke apartmentnya.
"Sebenarnya aku udah dari tadi kesini kak di depan pintu kakak, aku takut aja kakak ada di luar soalnya hujan lebat makanya aku kirim pesan dulu." Jelas Silsi yang sudah duduk di sofa depan tv Rasha.
"Maksud kamu apa sih aku gak ngerti loh." Rasha bingung dengan penjelasan Silsi ia pun duduk di samping Silsi yang mau menyalakan tv.
__ADS_1
"Udah ah kak yang penting aku udah sampe sini, boleh dong aku nginap di sini malam ini kak." Silsi bicara sambil mencari chanel yang bagus.
Rasha sebal melihat tingkahnya." Ya udah deh mana makanan, kamu bawa makanan kan?" Rasha mengulurkan tangan ke arah Silsi, Silsi yang sadar akan diminta langsung tersenyum polos itu membuat Rasha sebal apalagi dia sudah lapar lagi." Sudah kuduga." Rasha melengos pergi ke tempat tidur untuk mengambil handphonenya.
Bel berbunyi lagi Rasha yakin kalau pizzanya sudah sampai, ia membuka pintu dengan senyum lebar jiwa kerakusannya keluar kemudian mendekati Silsi Dangan membawa pizza miliknya, Silsi yang melihat wajah Rasha menjadi menjijikan karena lapar ia melihat pizza yang di bawa Rasha menjadi tidak berselera.
"Kak kamu kenapa sih jarang banget masuk kantor, sebulan sekali kalo kamu masuk kantor tuh rasanya keajaiban banget." Silsi yang memperhatikan Rasha makan terburu-buru membuatnya ingin muntah.
"Kak aku gak bakal ambil kok pizza mu." Lanjut Silsi sambil tutup mulut melihat Rasha.
Rasha yang sudah menelan pizzanya itu langsung angkat bicara. "Suka-suka aku dong Si mau datang apa enggak toh aku juga kan yang punya perusahaan, lagian kalo aku makan dengan caraku apa salahnya soalnya kamu tau juga kan berapa lama aku hidup dijalan sampai aku dapat merubah keadaan hidupku sekarang."
"Iya sih kak, tapi kan kak masa kakak gak mau sih nunjukin ke staff lainnya kalo kakak itu pemilik perusahaan." Silsi menjawab seperti itu agar Rasha mau datang ke kantor agar dapat berbicara dengan sesama petinggi di perusahaan tidak hanya dengan Joan.
"Aku mau kenalkan diriku juga nantinya udah hampir 6 tahun perusahaanku berjalan tapi aku belum memperkenalkan diri terutama di kantor pusat." Jelas Rasha.
"Oh ya kapan kak aku dandan yang cantik hari itu juga." Semangat Silsi mendengar penjelasan bosnya itu.
"Udah tenang aja kamu kan sekretaris aku, orang kepercayaan aku aku bakal kabarin kamu duluan. Tugasmu harus tetap jalan ya awas aja ada yang korupsi atau gaji karyawan ada yang ke potong kamu harus memperhatikan Joan ya." Kata Rasha sambil menyuapkan pizza ke dalam mulutnya.
"Oke tenang aja kak, aku kan suka sama Joan setiap langkah dan gerakannya pasti aku tahu aman lah kak." Kata Silsi mantap.
"Oke baiklah aku percaya sama kamu."
__ADS_1
Malam semakin larut Silsi sudah tertidur di sofa tak lupa Rasha memberikannya selimut, Rasha tidak suka tempat tidurnya di naikin orang lain iya anti akan hal itu. Sementara Rasha ia terpaku melihat foto di laptopnya di atas tempat tidurnya ia menerawang jauh bersama khayalan yang di ciptakannya bagaimana tidak hanya foto Goman yang di lihatnya senyum bahagia di wajahnya terlihat sekali tak lupa jantungnya selalu berdebar jika ia mengingat momen dimana bibir mereka saling bertemu.