
"hai bang tumben kok abang nonton tv, nonton drama lagi katanya gak suka." Tanya Minam yang langsung mau masuk ke kamarnya.
"Eh tunggu dulu, duduk sini dulu Abang mau nanya." Goman menepuk sofa di sampingnya.
"Mau nanya apa? Pasti masalah tadi siang kan nanti ya aku jelasin soalnya capek banget." Minam berdiri menghadap abangnya yang duduk, ia sangat lelah hatlri ini membuatnya malas bicara.
"Enggak, bukan masalah itu Abang sudah tau tadi sama Bu Silsi." Jawab Goman.
"Hah Abang serius tadi bicara apa sama Bu Silsi emang apa katanya?" Minam langsung duduk mendekati abangnya.
"Dia bahas tentang kerjaan mu lah." Jawab Goman singkat.
"Oh... Ada yang lain gak." Minam langsung menatap lekat abangnya ia khawatir jika Bu Silsi bicara sesuatu yang lain ke abangnya.
"Gak ada sih dek, tapi kan Abang penasarannya sama Rasha." Goman makin mendekatkan wajahnya ke Minam.
"Apaan sih abang gak jelas ah." Minam langsung mendorong kepala abangnya ke belakang Goman langsung terdorong ke belakang.
"Iihh kamu kurang ajar ya sama Abang." Goman kesal dengan tingkah Minam.
"Abang sih kenapa coba penasaran sama kak Rasha tapi ia aku masih penasaran, kalau Abang sih gak mungkin lah kan Abang yang membawanya kesini masa Abang gak tau dia sih." Tutur Minam.
"Iya juga ya, ya udah istirahat sana jangan lupa mandi bau tau." Goman langsung menutup hidungnya.
"Enak aja, sebanyak apapun aku berkeringat tetap aja aku wangi." Minam langsung pergi meninggalkan abangnya yang mati penasaran.
__ADS_1
Bulan makin meninggi aktivitas sudah di hentikan saatnya istirahat, malam yang dingin menambah totalitas istirahat dengan damai. Minam yang kelelahan sangat terlelap dengan tidurnya, sedangkan Goman masih terjaga ia menatap ke samping tempat tidurnya tempat dimana ia berharap Rasha ada di sampingnya menemani malam bersamanya.
Tengah malam yang gelap apartment Rasha baru di hidupkan lampunya, Rasha baru terbangun dari tidur lelapnya dari sore tadi. Melihat jam menunjukkan tengah malam membuatnya tertawa sendiri, ia tidur saat matahari menderang dan bangun saat bulan meninggi.
"Kenapa dengan diriku apa ada yang salah?" Rasha berbicara dengan dirinya sendiri, ia mengambil handphone miliknya ternyata kehabisan batre ia lalu mengisi batre itu dan kembali ke tempat tidur empuknya.
"Mancung kapan kamu pulang?" Jerit Rasha "aku bosan sendiri cung." Racaunya sendiri.
Rasha beranjak ke kamar mandi ia melihat dirinya di kaca kamar mandi, memperhatikan wajahnya yang kusut dan rambut yang acak-acakan.
"Dasar aku, aku sudah punya segalanya tetapi kenapa aku jadi seperti ini." Rasha masih memperhatikan wajahnya dengan seksama kemudian melihat ke arah baju yang di pakainya membuatnya sangat kaget ia lupa baju yang dipakainya punya Minam dan ia lupa memberi tahu Goman.
"Astaga dasar bodoh, kenapa aku lupa sih." Rasha langsung berlari melihat handphonenya ia langsung menghidupkan handphonenya ia takut jika Goman marah atau sesuatu yang buruk akan terjadi.
"Maaf Goman, aku tadi ketiduran ini aku baru bangun tidur." Balasnya cepat.
Di seberang sana Goman masih terjaga handphone di sebelahnya berbunyi membuatnya langsung mengambil handphone dan membuka pesan yang masuk ia langsung tersenyum yang mengirimkan pesan untuknya adalah Rasha.
"Hah jadi kamu sekarang benar-benar baru bangun tidur, kamu dimana sekarang apa mau aku jemput." Goman khawatir dengan wanitanya itu.
"Aku ada di rumah sekarang, udah aku gak apa-apa besok malam aku kerumah kamu ya soalnya besok aku ada keperluan." Jawab Rasha asal, padahal ia mau nonton Drakor semalaman ia tahu pasti ia besok ketiduran sampai sore.
"Ok besok aku jemput ya, kamu bisa kirim alamatmu sekarang." Goman masih khawatir dengan Rasha tapi rasa kekhawatirannya tidak separah tadi, ia juga senang karena Rasha memberi kabar kepadanya.
"Besok aku datang sendiri aja ya, sekarang kamu tidur aja besok kan mau kerja." Minam melihat jam ia tahu pasti Goman khawatir tentang dirinya.
__ADS_1
"Oke deh, kamu hati-hati di sana ya sayang. Bye." Goman senyum-senyum sendiri saat menulis kata-kata itu.
"Oke sayang." Rasha merasa terbang ke awan ia merasa bermimpi di alam sadar saat tengah malam, ia langsung mematikan handphonenya dan berjalan menuju laptop apa lagi yang ditunggunya selain drama Korea.
Sementara di rumah yang lain pria berumur 42 tahun itu masih mengobrol dengan cintanya, siapa yang berani menandingi kekuatan cinta sampai jam berapapun pasti akan kuat. Amek dan Silsi, dua sejoli itu sudah terbuai dengan manisnya cinta hingga lupa dengan dunia.
"Kamu nakal ya kenapa coba gak mau pulang pasti sengaja kan mau tidur di sini?" Tanya Amek yang baring di samping Silsi, di dalam kamar yang hening hanya terdengar suara dua sejoli yang cekikikan.
"Gimana coba aku gak pulang, tangan kamu aja masih nempel terus di pinggang aku." Jawab Silsi yang memegang tangan Amek yang berada di pinggangnya.
"Aku mau nikah sama kamu, apakah kamu mau jadi istriku?" Pertanyaan yang di ajukan Amek membuat Silsi langsung duduk menatapnya hangat.
"Kamu serius?" Hanya itu yang dapat di katakan Silsi ia sangat kaget sekaligus senang mendengar ucapan Amek.
"Iya." Amek berkata sambil mengangguk mantap.
Silsi langsung memeluk Amek, baru pertama kalinya ia mengenal pria yang langsung mengajaknya menikah. Ia sudah mengenal banyak lelaki tetapi ia hanya di jadikan teman bergaul saja, mendengar apa yang di katakan Amek itu membuatnya makin percaya dengan laki-laki yang di pelukannya itu.
"Kamu tau, baru pertama kali aku mengenal laki-laki dengan cinta dan kedewasaan." Ucap Silsi dalam pelukan Amek. "Aku berharap kau lah satu-satu cintaku kedepannya."
"Jadi kamu mau menikah denganku, walaupun aku sudah 42 tahun.Aku merasa tidak pantas untukmu, tapi aku mengakui karena aku mencintaimu aku tahu kau begitu sempurna aku memang tak sebanding untukmu. Kau lebih dari segalanya di banding aku, aku akan menjadi pemilikmu aku harap kau juga menjadi pemilikmu." Amek membelai kepala Silsi.
"Umurku 26 tahun tapi aku yakin aku sudah mantap untuk menikah, dengan siapapun pria itu aku hanya ingin dia bertanggung jawab atas diriku dan keluarga. Aku siap menikah denganmu, jadi aku harap kau setia dengan cinta ini aku juga akan begitu. Hari ini hari yang bahagia untukku." Silsi bangun memegang pipi Amek ia meyakinkan menerima Amek dengan segala yang dimiliki pria itu.
"Terimakasih sayang." Pelukan yang hangat membuat mereka menyatu, ungkapan cinta untuk menghadapi masa depan sudah ada di depan mata. Cinta hadir dari keduanya membuat kepercayaan makin erat, keharmonisan menjadi kebanggaan bagi sebuah cinta. Harapan banyak hadir dari awal sebuah hubungan, semoga kesetiaan membuat jalan cinta makin indah.
__ADS_1