Rasha Dan Goman

Rasha Dan Goman
Tujuh Belas


__ADS_3

"Apa-apaan kalian, apa yang kalian lakukan?" Amek ketakutan melihat pria yang di depannya itu sementara Silsi langsung menyuruh pria itu diam.


"Sssttt," ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya memberi kode agar pria itu tidak berisik. "Ada bos sssttt." Jawabnya pelan.


"Ada bos?" Ia langsung senyum sumringah, wanita yang di sukainya itu ternyata ada di kantor. Siapa lagi kalau bukan Joan, Manajer di kantor pusat itu tampak sangat bahagia. Ia melihat kursi bos itu sudah menghadap ke arah luar ia tahu pasti Rasha sedang tidur, Joan langsung menyuruh keluar Silsi dan Amek hanya dengan menggunakan gerakan tangannya. Silsi dan Amek langsung bergegas keluar, mereka tahu siapa pria itu ia sangat buas, kasar, jauh lebih gila dari Rasha.


Joan mendekati Rasha yang masih terlelap, ia menatap wajah Rasha sambil tersenyum menang. Gadis yang pernah menolak cintanya itu sudah ada di depan matanya, ia memperhatikan wajah Rasha dengan seksama. Melihat di bibir Rasha ada sesuatu yang kecil bekas ia makan tadi membuat ia makin mendekati wajah Rasha, makin dekat sangat dekat membuat nafasnya membangunkan Rasha. Rasha membuka mata dan kaget ia langsung menonjok orang yang dikira akan menciumnya itu dengan kuat sampai terjatuh kelantai meringis kesakitan, mulut Joan mengeluarkan darah. Jurus ilmu bela diri Rasha memang di gunakan ya untuk menjaga diri, ia pun langsung kaget ternyata yang di tombolnya itu Joan.


"Eh kamu gak apa-apa?" Rasha membantu Joan berdiri, ia melihat sofa sudah kosong membawa Joan untuk duduk.


"Udah aku gak apa-apa." Ucap Joan yang masih meringis.


"Gak apa-apa apanya, kamu sih kenapa coba mau cium aku segala." Rasha mengambil tisu di atas meja itu dan membantu mengelap darah yang ada di bibir Joan.


"Siapa juga yang mau nyium, berarti kamu beneran mau di cium dong." Joan tersenyum lalu meraih tangan Rasha yang masih membersihkan darah di bibirnya.


"Apaan sih kalau mau kenapa juga aku nonjok kamu." Rasha langsung melepaskan tangannya dan kembali ke singgasananya.


"Iya juga ya. Tapi ngomong-ngomong tumben kamu ke kantor, ada keperluan apa?" Tanya Joan yang melihat Rasha sudah duduk di kursinya.


"Gak ada aku lagi bosan aja, kamu kenapa keruangan ini?" Tanya Rasha balik.


"Aku cuma feeling aja kayaknya kamu ada disini, ternyata benar kamu beneran ada disini." Jelas Joan.


"Mmm kayak gak masuk akal aja, sudah pergi sana sudah abis juga waktu makan siang waktunya kerja kan?" Usir Rasha ia malas meladeni lelaki di depannya itu.


"Aku mau tanya sesuatu sama kamu boleh gak?" Sambil melihat jam di tangannya.

__ADS_1


"Mmm mau nanya apa." Jawab Rasha Malas.


"Kenapa kamu nolak cinta aku?" Joan tak sabar mendengarkan jawaban dari Rasha.


"Karena aku sudah punya teman hati." Jawabnya singkat, walaupun saat Joan menyatakan perasaannya ia belum bertemu dengan Goman tetapi ia tidak sedikitpun merasakan cinta untuk Joan.


"Hah, teman hati. Maksudnya?"


"Iya aku sudah punya kekasih." Joan kaget mendengar itu.


"Tapi siapa?" Tanya Joan kecewa.


"Nanti kamu juga akan tahu sendiri." Rasha langsung membalikkan kursinya dan menghadap ke jendela kaca besar itu lagi. " Sudahlah kamu kembali kerja sama aku mau tidur lagi." Usir Rasha.


Joan pergi tanpa pamit ia sangat kecewa dengan ucapan Rasha tadi ia meninggalkan tisu untuk mengelap bibirnya yang berdarah, ia tak habis pikir tentang Rasha entah siapa lelaki yang di cintainya itu membuatnya sangat frustasi.


Silsi sudah kembali ke dalam ruangan, ia melihat kursi Rasha masih menghadap ke jendela pertanda Rasha masih tidur. Pandangannya beralih ke sofa ia mengingat kebersamaan dengan Amek tadi membuatnya tersenyum sendiri. Matanya beralih ke atas meja ia melihat ada tisu dengan bercak darah, Silsi panik melihat tisu itu ia langsung berlari kecil untuk melihat Rasha ia khawatir terjadi sesuatu dengan bos gilanya itu.


"Aww bos..." Silsi meringis kesakitan sambil memegang kepala yang di jitak bos gilanya itu.


"Ada apa sih, kurang kerjaan sampe liat lubang hidung aku." Kesal Rasha yang sudah berdiri di depan Silsi.


"Sakit tau bos, aku eh.. saya tuh cuma khawatir soalnya ada darah di tisu makanya saya memperhatikan wajah bos mana tau ada yang terluka kalau-kalau saja mimisan." Silsi menunjuk tisu bekas Joan tadi di atas meja.


"Oh... Tadi Joan yang berdarah bukan aku." Rasha langsung kembali duduk di singgasananya.


"Hah kenapa Pak Joan berdarah bos, waktu dia masuk tadi kayaknya baik-baik aja." Silsi kaget mendengar Joan yang berdarah.

__ADS_1


"Jadi kamu tau kalau Joan masuk tadi, kenapa gak bangunin aku?" Tanya Rasha duduk sambil melihat Silsi yang berdiri di depannya.


"Karena Pak Joan yang suruh, tapi kenapa Pak Joan sampai berdarah tadi bos?" Tanya Silsi yang masih penasaran.


"Saya tonjok dia." Jawab Rasha singkat.


Belum Silsi berbicara terdengar pintu di ketok mereka berdua serentak saling pandang, Rasha langsung sembunyi di bawah meja kerjanya. Silsi tersenyum bahagia karena yang datang adalah pria yang di sukainya yaitu Amek, cinta dengan sentuhan sederhana membuat mereka berdua semakin erat.


"Mmm sayang, kamu lagi ngapain?" Amek melihat raut wajah Silsi yang tersenyum tadi langsung tegang karena Amek memanggilnya sayang, ia takut jika Rasha marah besar jika mendengarnya.


"Mmm ..." Belum sempat berkata yang lain Rasha langsung muncul dari bawah meja kerjanya, Amek yang melihat itu langsung terperanjat lagi.


"Sayang... Sayang... Bukannya kerja malah mau pacaran ya." Bentak Rasha marah.


"Anu mbak, eh bos saya hanya mau menyampaikan sesuatu saja kesini." Ucap Amek gemetar.


"Oh mau bilang apa kamu?" Tanya Rasha dengan suara yang masih kuat.


"Anu... Goman mau ketemu sama Bu Silsi bos." Jawabnya gemetar.


Rasha langsung menatap Silsi masam, Silsi yang di hadapannya itu langsung terkejut.


"Di mana dia sekarang?" Tanya Rasha.


"Dia masih bekerja bos, dia bilang kalau sudah selesai dengan tugasnya ia akan langsung datang kemari." Jelas Amek lalu kepalanya langsung menunduk.


"Ya aku tunggu sebelum waktu pulang ya." Jawab Silsi membuka suara lalu langsung melihat ke arah Rasha dengan raut wajah berpikir.

__ADS_1


"Baiklah saya pergi dulu, terimakasih." Amek pamit dan langsung meninggalkan ruangan.


Rasha langsung melihat ke arah Silsi yang di lihat malah makin takut, ia harus waspada dengan tindakan bis gilanya itu. Ia langsung teringat perkataan bos gilanya itu yang sudah menonjok Pak Joan sampai berdarah lagi, bagaimana dengan dia apa dia langsung mati. Pikiran Silsi sudah kemana-mana, ia sudah berkeringat dingin Rasha dengan wajah yang menebak melihat Silsi membuatnya segera ingin di kubur.


__ADS_2