
"Kira-kira apa ya yang ingin di bicarakan Goman?" Pertanyaan Rasha membuat Silsi langsung mengelus dada Rasha yang melihat Silsi bertingkah seperti itu membuatnya bingung. "Kamu kenapa?" Tanya Rasha yang melihat tingkah Silsi.
"Eh... Saya juga gak tau bos, mungkin dia mau nanya tentang adiknya mungkin." Jawab Silsi sekenanya.
"Kalau begitu berarti satu jam lagi ia akan datang," Rasha melihat jam di dinding ruangannya itu. " Bilang aja kamu teman aku, terus kamu bilang lagi butuh Sekretaris untuk bantu-bantu kamu masalah kantor. Terus kamu bilang kamu nanya ke aku bagusnya siapa, jadi aku bilanglah kalah adik Goman" Jelas Rasha.
"Oke bos, tapi kalau dia nanya yang lain-lain bagaimana?" Silsi masih takut jika ia salah bicara nanti.
"Jawab aja sesukamu ingat jangan sampai dia tahu kalau aku pemilik Edelweis Group , oke?"
"Oke siap bos." Tegas Silsi.
Mendengar itu Rasha langsung berdiri, "oke aku mau pulang dulu ya, sudah capek aku disini." Rasha langsung keluar meninggalkan Silsi yang masih berdiri melihatnya beranjak di tempat tadi.
"Huh capek apaan kerjaan cuma tidur kok." Ucap Silsi, ia langsung duduk di kursinya kemudian mengeluarkan handphone untuk menghubungi kekasih yang baru beberapa jam di kenalnya itu.
Rasha keluar dari kantor mata-mata para karyawan di perusahaan itu melihatnya berjalan dengan percaya diri penuh tanya di dari para karyawan tapi tidak ada yang berani bicara dengannya. Rasha pergi ke pos Security di depan kantor besar itu, melihat orang yang menjaga sudah berbeda mungkin sudah ganti shift pikir Rasha.
"Hai Pak udah ganti shift ya?" Tanya Rasha dengan senyum hangat.
"Iya Bu kami sudah ganti shift, ada keperluan apa Bu?" Rasha memang kurang dekat dengan Security yang satu ini tetapi semua Security yang ada di perusahaannya pasti mengenal dia.
"Oh iya mobil saya yang di parkir di situ kemana ya?" Tanya Rasha menunjuk mobil yang di parkirnya kemarin sudah tidak ada.
__ADS_1
"Mobil Ibu sudah di antar ke Apartemen Ibu kemarin sore. Soalnya Ibu tidak kembali ke kantor jadi kami inisiatif mengantarnya, apa Ibu marah?" Jelas Security itu walaupun tampak dari wajahnya takut-takut.
"Oh bagus lah, saya gak marah kok." Jawab Rasha sambil tersenyum, " sekalian tolong panggil sopir perusahaan saya mau pulang." Perintah Rasha.
"Oke baik Bu sebentar ya."
Rasha mengangguk ia beralih pandang ke gedung besar miliknya itu ia tersenyum bahagia melihat hasil dari kerja kerasnya itu. Mobil perusahaan yang di minta mengantarnya tadi sudah datang dengan cepat, ia langsung masuk meninggalkan kantornya.
Apartemen yang sudah sehari lebih ditinggalnya itu membuatnya masuk dengan bahagia ia langsung berlari menghempaskan badan di kasur empuk kesayangannya itu, sejuk dan nyaman sudah menjalar ke dalam tubuhnya dan dalam sekejap ia sudah tertidur lelap.
"Maafkan saya Bu yang lancang sudah meminta menghadap ibu." Ucap Goman yang sudah berdiri di depan Silsi yang duduk di kursinya.
"Tidak apa-apa, silahkan duduk." Silsi menyuruh Goman duduk di depan meja kerjanya.
"Terima kasih Bu." Jawab Goman dan langsung duduk.
"Tadi saya melihat Bu Silsi sama Rasha dan adik saya Minam di depan gudang office, apa boleh saya tahu ada ada apa sebenarnya?" Goman dengan sopan bertanya.
"Oh itu, saya menyuruh adik kamu Minam menjadi sekretaris saya." Goman langsung kaget mendengar perkataan Sekretaris nomor satu di perusahaan itu.
"Tapi kenapa Bu, adik sayakan masih kuliah."
"Iya saya sudah tahu, selama adik kamu belum wisuda ia akan belajar disini dengan saya. Tapi saya akan menjamin nanti adik kamu akan bekerja di Edelweis Group, jadi kamu tidak perlu khawatir." Jelas Silsi meyakinkan.
__ADS_1
"Tapi Bu kenapa harus adik saya dan apa hubungannya dengan Rasha tadi?" Tanya Goman penasaran.
"Rasha itu teman baik saya dia juga bekerja disini ya walaupun hanya bersih-bersih di kantor tapi saya sudah berteman baik dengan dia, Rasha yang merekrut adik kamu jadi saya memanggil mereka kesini tadi kemudian saya tertarik jadi saya terima deh adik kamu." Jelas Silsi lagi.
"Tapi Bu ..." Belum selesai bicara perkataan Goman sudah di potong Silsi. " Sudahlah kamu jangan khawatir perusahaan akan membayar setiap adik kamu datang kesini untuk belajar jadi kamu tenang aja." Mendengar penjelasan Sekretaris di depannya itu membuat Goman percaya walaupun iantodak menyangka itu bisa terjadi.
"Baiklah Bu, saya pamit dulu saya akan kembali ke gudang office. Maaf ya Bu jika saya mengganggu waktu Ibu." Goman berdiri kemudian menundukkan kepalanya menghormati.
"Baiklah, tolong bilangin Pak Amek untuk menghadap saya ya." Perintah Silsi, Goman sudah meninggalkan ruangan sedangkan Silsi sedang senyum-senyum sendiri menantikan kedatangan Amek.
Silsi bersyukur tadi tak ada pertanyaan aneh-aneh yang di tanya Goman ia takut jika salah bicara, ia pasti akan di kutuk bos gilanya itu jika ia bicara sembarang.
"Sayang," pintu kantor perlahan terbuka, Silsi sudah merona melihat siapa yang datang. Amek tahu jika Rasha sudah pergi, ia sudah mendapat pesan dari Silsi tadi. "Ada apa mau ketemu, pasti kangennya?" Amek sudah berdiri di belakang Silsi yang sedang duduk ia memijat pundak Silsi pelan.
"Baru berapa jam kenal udah panggil sayang." Jawab Silsi dengan wajah sok jutek Amek yang berdiri sudah ada di depan Silsi, membungkuk mendekati wajah Silsi.
"Tapi kamu suka kan?" Amek meraih dagu Silsi halus.
"Heh eh." Silsi mengangguk malu.
Waktu sudah menunjukkan jam pulang kerja tetapi Amek dan Silsi masih berada di dalam ruangan tanpa gangguan orang lain, cinta mereka sudah terikat. Sentuhan sederhana membuat mereka jatuh dalam naungan cinta, tak memandang jabatan ataupun umur jika sudah merasa saling mencintai pasti akan berjalan dengan sendirinya.
Goman sudah sampai di rumah ia melihat sekitar tidak ada tanda-tanda kehidupan dari Minam dan Rasha, ia tahu jika Minam masih kuliah pasti anak itu pulang malam pikir Goman. Ia masuk ke kamarnya berharap ada Rasha di sana, tetapi yang di harapkannya itu tidak ada membuat sangat kecewa.
__ADS_1
"Kamu ada dimana kok gak ada di rumah?" Goman mengirim pesan ke Rasha berharap mendapat balasan cepat, tetapi setelah menunggu beberapa saat ia melihat tak ada tanda jika Rasha sudah membaca pesan darinya ia langsung beranjak untuk mandi. Ia khawatir dengan Rasha, ia takut terjadi apa-apa dengan wanitanya itu. Tapi ia juga penasaran kenapa Rasha sangat berteman baik dengan Bu Silsi padahal di lihat dari status mereka sangat beda jauh, tetapi ia baru teringat ia tidak tahu di mana Rasha tinggal dan tidak mengetahui tentang Rasha membuatnya yang sedang mandi berpikir keras.
Malam sudah menunjukkan jam 8 malam lewat,17 menit lagi mendekati jam 9. Pintu terbuka membuat Goman langsung menoleh ia melihat Minam yang masuk, Goman yang berada di depan tv langsung berdiri mendekati adiknya yang tampak kelelahan itu. Ia masih berharap kedatangan wanita yang di cintai nya itu, banyak pertanyaan yang harus di tanyakan dengan Rasha membuatnya makin tak sabar menemui Rasha.