
"Edelweis!" Pekik seorang pria yang sudah masuk kedalam rumah Goman tanpa permisi.
Rasha dan Goman langsung melepaskan ciuman mereka dan saling berdiri di depan tv, Rasha sangat kaget karena laki-laki yang di depannya itu.
"Mancung, kenapa kamu ada di sini?" Tanya Rasha gelalapan.
Mancung langsung mendekati mereka dan tanpa aba-aba tangannya sudah menghantam wajah Goman yang membuat laki-laki itu terjatuh. Dengan sigap Rasha langsung menarik Mancung dan menahan tubuh pria itu dengan kuat, kekuatan Rasha lebih besar dari Mancung karena ia pernah belajar bela diri waktu remaja.
"Stop.. stop Mancung biar aku jelasin." Jawab Rasha yang masih menahan Mancung yang ingin melepaskan diri ia masih ingin menghantam wajah lelaki yang mencium Rasha. " Stop sekarang cung apa mau aku tonjok kamu." Mendengar itu amarah Mancung mulai reda ia takut jika wajahnya yang mulus di tonjok Rasha, ia tahu jika Rasha sekali menonjok pasti berdarah.
"Iya lepasin aku dulu." Jawab Mancung mengalah.
"Kamu gak apa-apa?" Rasha menghampiri Goman yang sudah bangkit sambil memegang pipinya yang lebam.
"Siapa dia?" Tunjuk Goman ke arah Mancung.
"Aku kekasihnya, kenapa kamu?" Jawab Mancung asal, ia tak rela jika Edelweisnya berciuman dengan lelaki yang tanpa status. Ia melihat dari luar rumahnya saja ia tahu keadaan lelaki ini, di tambah Silsi bilang kepadanya tadi bahwa lelaki yang di depannya itu hanya staff gudang.
"Kekasih!" Pekik Rasha dengan raut wajah marah, melihat itu Mancung langsung gemetaran ia tahu apa yang akan terjadi pada dirinya kepalanya pasti akan menjadi sasaran. Rasha langsung mendekati Mancung dengan wajah marah, ia langsung mengayunkan tangannya ke kepala Mancung dengan kuat. Membuat anak itu langsung terhenyak kebelakang dan meringis kesakitan, Goman melihat itu langsung kaget karena tingkah Rasha.
"Maafkan aku Edelweis." Mancung meringis kesakitan tapi ia tahu pukulan kedua yang akan menghantamnya akan semakin keras.
__ADS_1
Tangan Rasha sudah terangkat siap untuk menghantam kepala Mancung untuk kedua kalinya tapi suara Goman langsung menyadarkan Rasha untuk berhenti. " Sudah Rasha, jangan pukul dia."
Goman langsung memegang tangan Rasha ia khawatir akan terjadi yang tidak-tidak nantinya.
"Oke kamu aku maafin ya mancung tapi awas ya macam-macam sekali lagi." Kata Rasha dengan suara lantang.
"Iya maaf." Suara Mancung pelan, ia masih menunduk tak berani menatap wajah Rasha.
"Sudahlah kamu duduk aja dulu di situ." Rasha menunjuk tempat yang didudukinya tadi dengan Goman, ia langsung beranjak menuruti perkataan Rasha. "Aku mau ke toilet dulu perutku sakit karena marah-marah tadi." Rasha langsung melepaskan tangan Goman yang memegangnya ia langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Mancung yang duduk dengan diam tanpa kata langsung menatap kotak yang ada di atas meja, ia langsung mengambil kotak kosong itu tetapi ia tahu isi kotak itu adalah jam terlihat merk dari kotak itu bahwa barang itu pasti bermerk. Ia langsung melihat ke arah tangan Goman ia mengetahui bahwa jam yang di pakai Goman itu pasti baru yaitu isi dari kotak yang di pegangnya, Goman yang berdiri dari tempat tadi langsung mendekatinya dan duduk di samping Mancung.
"Kamu manfaatin Edelweis kan?" Tanya Mancung dengan suara pelan namun ia bertanya dengan nada penuh tekanan.
"Alah... Gak usah sok sok maksudnya, kamu tahu kan dia itu siapa? Dan jam ini pasti di belikan Edelweis kan?" Mancung masih bersuara dengan pelan ia menunjukkan jam yang di tangan Goman.
Goman bingung dengan apa maksud yang di katakan laki-laki di sampingnya itu, dia juga heran kenapa laki-laki ini memanggil Rasha Edelweis. Kenapa juga Rasha sangat marah tadi, dan kenapa pukulan Rasha bisa sangat kuat? Goman makin bingung dengan keadaan yang terjadi sedangkan Mancung dengan raut wajah makin marah melihat ke arah Goman karena pertanyaannya tak di jawab malah tak di perhatikan.
"Kok berisik banget tadi, ada apa sih?" Minam mendekati kedua lelaki itu, ia sudah datang dengan pakaian tidurnya baju pemberian Rasha tadi di simpannya dengan rapi. "Oh pantesan aja rupanya ada tamu ya?" Minam mendekati Mancung ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan, "hai aku Minam adiknya bang Goman." Mancung menyambut tangan Minam tetapi wajahnya menjadi hambar, ia makin kesal tak terbayang berapa banyak uang yang di habiskan Edelweis untuk mereka.
"Hai aku ..." Mereka masih berjabat tangan rasanya Mancung malas menyebutkan namanya untuk kedua orang ini.
__ADS_1
"Namanya Anta, tapi aku manggilnya Mancung." Kata Rasha yang berjalan mendekati mereka bertiga.
Goman baru teringat dengan nama itu, ia pernah membaca pesan yang dikirim Mancung untuk Rasha waktu Rasha tidur di kamarnya.
"Oh iya aku tahu diakan yang kirimpesan ke handphonenya pas tidur di sini." Goman berdiri langsung menghadap Rasha yang sudah di depannya.
"Hah. Kamu baca pesan dari Mancung, tapi kapan?" Tanya Rasha yang masih berdiri di depan Goman, Minam dan Mancung baru tersadar belum melepaskan jabatan tangannya langsung melepaskan jabatan tangan mereka.
"Waktu aku abis mandi pas yang di kamar, kamu langsung keluar kamar tapi handphonemu tertinggal makanya aku baca." Jawab Goman malu karena dia membaca tanpa sepengetahuan Rasha.
"Hah. Kamar?" Teriak Mancung membuat Minam yang di depannya kaget. "Maksudnya?" Tanyanya lagi, Minam yang dekat depannya mundur beberapa langkah takut terkejut lagi.
"Iya, kenapa?" Jawab Rasha sinis menghadap Mancung, melihat tatapan itu ia langsung tertunduk lagi tapi ia nampak makin kesal. "Terus kamu ada baca pesan dari yang lain?" Tanya Rasha yang sudah menghadap Goman.
"Aku baca cuma itu aja, gak ada yang lain kok." Jawab Goman.
"Ya udah deh, eh kenalin ini Anta dia sudah aku anggap Abang sendiri kami tinggal bersama. Dia baru pulang liburan dari Amerika jadi dia belum mengenal kalian, tapi aku yakin dia nanti akan sangat terbiasa dengan kita." Rasha melirik Mancung sambil tersenyum, Mancung melihatnya dengan tatapan hambar.
"Oh." Jawab Minam singkat sambil mengangguk.
"Aku Goman, salam kenal ya." Goman mengulurkan tangannya, langsung di sambut dengan Mancung karena dia tahu di perhatikan dengan Rasha.
__ADS_1
"Oke kalau gitu, hari ini aku akan pulang ke rumah sama Mancung jadi gak jadi deh tidur disini tapi kapan-kapan aku bakalan tidur di sini deh." Kata Rasha semangat. "Tapi kita makan pizzanya dulu ya sayangkan kalau gak di makan." Mereka mengangguk dan mengambil satu potong pizza masing-masing begitupun dengan Mancung ia hanya terpaksa karena atas perintah Rasha.
Goman menikmati kebersamaan mereka dengan tawa, tetapi banyak pertanyaan yang ada dipikirannya. Siapa Rasha sebenarnya, ia akan menanyakan saat Rasha di rumahnya tetapi setelah ada Mancung membuatnya tidak jadi bertanya. Dia juga penasaran tentang Anta lelaki itu tampak begitu dekat dengan Rasha di tambah lagi kata Rasha tadi ia abis liburan dari Amerika, begitupun dengan Minam ia masih penasaran dengan Rasha.