Rasha Dan Goman

Rasha Dan Goman
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Rasha dan Mancung sudah ada di depan apartmentnya, sebelum masuk Rasha menatap Mancung datar antara marah dan rindu dengan laki-laki di depannya itu. Mancung yang melihat Rasha dengan tatapan itu takut-takut ia merasa siap jika Rasha memukulnya, ia pun langsung menundukkan kepalanya walaupun gaya Mancung mengikuti trend terkini dan memiliki wajah mulus tampan serta berhidung mancung tetapi ia sangat penurut dengan Rasha. Ia tahu karena Rasha lah ia bisa menikmati semua yang yang di milikinya kini, kesuksesan Rasha yang di capainya sendiri sedangkan dia hanya menemani wanita pekerja keras itu.


"Sini aku peluk." Rasha merentangkan tangannya, mereka masih berdiri di depan pintu apartemen mewah itu. Mancung yang melihat Rasha dengan senyum bahagia langsung memeluk Rasha dengan hangat melepas rasa rindu. "Jangan marah masalah tadi ya, nanti aku jelasin." Menepuk pelan punggung Mancung, badan Mancung yang tinggi darinya membuat pria itu mendekap Rasha dengan kuat.


"Iya Edelweis, aku rindu loh. Aku bawa Lucya kesini dia ada di dalam sekarang." Rasha langsung melepaskan pelukan, ada sedikit tetesan air mata di pipinya.


"Kamu kenapa nangis?" Tanya Mancung khawatir.


"Aku tuh rindu tau, dasar." Rasha menghapus air matanya juga di bantu Mancung. " Udah yuk masuk kasian sama temanmu." Kata Rasha menurunkan tangan Mancung.


Rasha dan Mancung sudah masuk, wanita berambut pirang nampak sangat menawan walaupun ia duduk di sofa membelakangi mereka berdua. Wanita itu terlihat sangat asik bermain dengan handphonenya hingga tak sadar kedatangan Rasha dan Mancung.


"Ba..." Kejut Mancung memegang pundak Lucya.


"O... M... G kaget aku." Teriak Lucya terkejut, lalu melihat Mancung mengejutkannya. Mancung melihat reaksi Lucya tertawa terbahak-bahak sedangkan Lucya hanya tertawa kecil sambil mengelus dadanya karena tadi.


"Mancung emang jahil." Rasha tertawa kecil. "Oh iya saya Rasha, kamu Lucya kan?" Rasha mengulurkan tangannya ke Lucya yang sudah berdiri di depannya.


"Eh.. iya kak, aku Lucya salam kenal ya kak." Menyambut jabat tangan dari Rasha.


"Kamu sudah makan?" Tanya Rasha ia khawatir wanita di depannya ini kelaparan, karena dia tahu jika mereka baru sampai tapi Mancung langsung menemuinya tadi.


"Sudah kok kak di bandara tadi." Jawab Lucya sambil tersenyum, wajah cantiknya membuat Rasha iri. Lucya blasteran Amerika wajahnya ke bule-bulean membuat Rasha minder di tambah lagi tangan Lucya yang lembut dan kulitnya yang halus, betapa beruntungnya Lucya memiliki ayah bule apalagi kaya.


"Oh baguslah tapi kalau lapar bilang ya nanti aku pesanin makanan, pokoknya jangan canggung yuk kita duduk sambil ngobrol-ngobrol." Ajak Rasha duduk di sofa besarnya itu.

__ADS_1


Mereka sudah duduk di ikuti Mancung yang juga duduk di samping Lucya sambil senyum-senyum melihat Rasha, Rasha yang melihat itu langsung berwajah datar ia tidak mau meladeni tingkah konyol Mancung.


"Oh iya kak aku ada saudara tapi di kota lain, aku juga mau nginap di hotel malas kalau sendirian. Boleh gak aku nginap di sini sebelum aku pulang ke Amerika?" Tanya Lucya takut-takut lalu memandang ke arah Mancung yang di sampingnya, Mancung langsung menggangguk-angguk menghadap Rasha.


"Ya gak apa-apalah, anggap aja kami ini keluargamu sendiri bebas dong." Jawab Rasha ramah.


"Yes.. yes.. yes." Teriak Mancung senang, Lucya tersenyum senang mendengar itu.


"Makasih ya kak." Kata Lucya.


"Iya, tapi ..." Semuanya langsung diam begitu juga Mancung ia khawatir jika Edelweissnya itu memberi perintah yang tidak-tidak.


"Tapi apa Edelweis?" Mancung langsung memotong perkataan Rasha saat menyebut tapi.


"Tapi Lucya tidur di kamar kamu, berhubung kamar di apartemen ini cuma dua jadi Lucya tidur di kamar kamu." Lucya bingung mendengar itu ia tak menyangka harus tidur dengan Mancung tak habis pikirnya.


"Yes yes apanya cung, Lucya tidur di kamar kamu. Tapi kamu tidur di sini di sofa ini." Tunjuk Rasha dengan tersenyum di sofa yang di duduknya.


"Hah." Mancung langsung menganga, pikiran negatifnya sedari awal ternyata benar tak mungkin Edelweis memberinya tidur hanya berdua dengannya. " Tapi Edelweis kenapa Lucya gak tidur sama kamu aja?" Tanya Mancung bete.


"Kamu taukan kalau aku gak suka tempat tidurku di tidurin orang selain aku bahkan juga di sentuh." Jelas Rasha dengan tegas. "Kamu ambil selimut dan bantal dalam lemari itu masih baru beresin dulu tempat tidur di kamar kamu sana nanti selimut dan bantal yang lama untuk kamu yang baru biar Lucya yang pakek. Oke.?" Perintah Rasha.


"Hah." Mancung langsung melihat wajah Lucya yang gak enakan." Oke lah, bentar ya aku mau beresin dulu." Kata Mancung yang menyentuh lengan Lucya, ia bermaksud mengajak Lucya membantunya tetapi Lucya hanya mengangguk saja.


Mancung berdiri ia terpaksa melakukan perintah dari Edelweis tetapi demi Lucya ia rela, "Eh tunggu aku bantu ya." Kata Lucya yang berdiri ingin mengikuti langkah Mancung, Mancung melihat Lucya yang berdiri untuk membantunya membuatnya sangat senang jadi ia tak perlu mengeluarkan banyak keringat.

__ADS_1


"Eh duduk aja Lucy biar Mancung aja sendiri itung-itung dia olahraga." Lucy mendengar Rasha yang bicara langsung melihat Rasha yang menunjuknya menyuruh duduk ia langsung mengikuti perintah Rasha, sedangkan Mancung yang melihat itu ia langsung memandang dengan sinis Rasha. Rasha yang melihat itu tak menggubris dan beralih ke arah Lucya dan tersenyum kecil.


"Olahraga pala lu Edelweis, emang gak ada otak. Percuma aja ada housekeeping tapi gak ada guna, emang suka tuh kalau ngerjain orang." Oceh Mancung kesal sambil menggerak-gerakkan kakinya dengan kuat ke lantai sambil berjalan menuju lantai atas ke kamarnya, tetapi ocehannya hanya bergumam ia juga takut jika terdengar oleh Rasha.


Rasha yang melihat tingkah Mancung membuatnya tertawa keras, " Dasar bocah." Katanya sambil tertawa. Lucya yang melihat Rasha tertawa begitu diapun ikut tertawa dengan. Keras seakan-akan ketawanya menular, Mancung yang mendengar dari kamarnya membuat ia makin kesal.


Goman melihat jam yang di berikan oleh Rasha untuknya, ia masih tak percaya dengan pemberian Rasha karena ia tahu jika jam yang di tangannya itu sangat mahal. Ia tak habis pikir kenapa Rasha mampu membeli jam ini sedangkan kerjaannya hanya tukang bersih-bersih di kantor di tambah lagi ia juga memberi beberapa setelan baju dan sepatu untuk Minam.


"Abang belum tidur kan?" Tanya Minam di balik pintu kamar abangnya.


"Belum masuk aja." Suruh Goman.


"Pasti lagi mikirin tentang pemberian kak Rasha kan?" Tanya Minam yang duduk di atas kasur di samping abangnya.


"Iya dek." Jawab Goman singkat.


"Aku juga gitu bang, gak percaya aja kalau kak Rasha memberikan kita barang-barang mahal."


Minam meraih tangan kiri abangnya dan melihat-lihat jam tangan yang diberikan Rasha untuk abangnya.


"Besok Abang mau tanya sama kak Rasha, tadi Abang mau tanya e sih laki-laki itu datang." Jawab Goman yang cukup kesal karena laki-laki menghantam wajah tampan miliknya.


"Iya ya, siapa sih laki-laki itu kayaknya dia tuh akrab banget sama kak Rasha." Minam juga sebal, tetapi jika mengingat wajah laki-laki itu membuat jantungnya berdebar-debar.


"Ya udah besok Abang tanya, kamu tidur sana. Besok kamu kekantorkan, bareng Abang juga kan, Jadi tidur lah Abang gak mau kamu kesiangan." Suruh Goman.

__ADS_1


"Oke deh gak bakalan telat deh, kan hari pertama aku. Selamat malam abang." Minam beranjak ia meyakinkan perkataannya itu, sebelum keluar dari kamar abangnya ia mencium pipi abangnya lalu pergi meninggalkan Goman sendirian.


"Dasar Minam." Senyum Goman sambil memegang pipi yang bekas di cium adiknya itu.


__ADS_2