
Di depan Ruangan dengan pintu yang juga megah membuat Minam yang semangat menjadi ragu, ia melihat orang-orang yang bekerja dengan gesit membuat nyalinya menciut. Rasha yang melihat Minam yang begitu kaku hanya tersenyum, ia meraih tangan Minam dengan erat dan tersenyum yakin ke arah Minam.
"Sebelum kita masuk kakak mau kasih tau sesuatu ke kamu." Genggaman tangannya makin erat.
"Apa tuh kak." Minam menoleh ke arahnya.
"Mimpi di capai dari sebuah tekad, jika tekad orang itu lemah ia tidak akan mencapai mimpi itu.
Sebaliknya, jika tekad orang itu kuat selalu ada jalan untuk mencapainya." Rasha melepaskan tangannya dari genggaman Minam ia ingin calon adik iparnya itu mempunyai tekad yang kuat.
"Terimakasih ya kak, tekad ku harus kuat." Sambil menggerakkan tangannya ke atas.
"Oke fighting." Rasha juga menggepalkan tangannya keatas meniti Minam.
Tok tok tok pintu di buka oleh Rasha ia melihat Sekretaris Silsi sudah berdiri di depan meja kerjanya sendiri, ia juga melihat meja kerja miliknya yang kosong.
"Selamat pagi sekretaris Silsi, ini Minam." Rasha menunjuk Minam, Minam yang langsung menundukkan badannya.
"Oh.. jadi bagaimana tadi maksudnya?" Tanya Sekretaris Silsi ia sengaja bertanya seperti itu agar ia tidak banyak bicara apalagi di depan bos gilanya itu.
Rasha langsung duduk di meja kerjanya itu, meja kerja seorang pemimpin Edelweis Group Minam melihat Rasha langsung kaget.
"Kenapa Minam, sudah duduk aja di situ." Rasha menunjuk kursi di sofa tamu.
"Tapi kak, kalau pemimpin perusahaan ini datang gimana kak?" Tanya Minam takut.
Rasha langsung melihat ke arah sekretaris Silsi dengan senyuman.
"Udah Minam kamu duduk aja bikin santai aja disini, lagian Pemimpin Edelweis Group lagi sekarat kok." Sebut Silsi membuat Rasha tersedak.
__ADS_1
"Ohok... Ohok.. Apa!" Rasha langsung melihat Silsi marah tapi ia masih mengingat keberadaan Minam langsung berubah tersenyum." Udah Minam kamu duduk aja." Ia menatap suaranya dengan baik.
"Oh iya kamu bebas beri tugas dia apa saja disini." Ucap sekretaris Silsi ia tidak ingin masalah makin tambah panjang.
Minam melihat sekretaris Silsi kaget, lalu menoleh ke arah Rasha. Rasha hanya tersenyum menatap Minam, membuat Minam makin bingung.
"Oke Minam, kak Rasha tunggu kamu sampai wisuda. Kamu bisa bekerja disini membantu Sekretaris Silsi artinya kamu menjadi sekretarisnya sekretaris Silsi. Jadi sebelum wisuda kamu hanya perlu belajar kesini dengan sekretaris Silsi, bebas kamu mau datang kapan saja. Setelah kamu wisuda Edelweis Group akan memberikan kontrak kerja untukmu, bukan berarti kamu hanya main-main dengan waktumu itu jika hasil belajarmu selama disini rendah kamu tidak di terima jika kamu bekerja dengan baik dan mendapatkan nilai yang memuaskan kamu bisa di terima dengan baik disini. Gimana menurutmu?" Rasha berusaha menjelaskan dengan baik, ia menatap Minam yang gugup dengan keadaan.
Sekretaris Silsi melihat Minam langsung meyakinkannya.
"Iya Minam benar apa yang di bilang sama Rasha." Sekretaris Silsi langsung berdiri dan mendekati Minam dan duduk di sebelahnya, melihat itu Minam langsung menoleh menghadap ke arah Rasha, Rasha yang melihat itu langsung menganggukan kepala meyakinkan. Kemudian Minam melihat wanita di sampingnya begitu berwibawa tapi seperti ada yang kurang dalam diri wanita ini.
"Apa benar yang di katakan kak Rasha tadi?" Minam masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Rasha.
"Iya kamu akan menjadi sekretaris aku mulai sekarang jadi belajar lah dengan baik oke " Sekretaris Silsi mengelus kepala Minam yang menatapnya dengan senang.
"Oke kak aku akan belajar dengan rajin sekarang." Jawab Minam semangat, Sekretaris Silsi langsung berdiri dan berjalan mendekati Rasha, raut wajahnya tampak bingung dengan kelakuan bos gilanya itu.
"Lusa kak saya akan belajar kesini." Jawab Minam yang melihat dua wanita itu dari arah belakang.
"Oke baiklah." Sekretaris Silsi langsung menoleh ke arah Minam.
"Jadi Minam, kamu boleh datang kapan saja, selama kamu belajar ke sini kamu akan di bayar juga. Nanti Sekretaris Silsi yang mengurus kamu disini dari kamu mulai belajar sampai kamu berhasil masuk ke perusahaan ini, kamu akan di beri form untuk di isi agar namamu terdaftar di perusahaan ini." Rasha berdiri sambil menjelaskan, Sekretarisnya itu paham akan tugasnya ia langsung mengambil form untuk diisi Minam.
"Ini kamu bisa isi sendiri ya." Sekretaris Silsi memberikan form kepada Minam untuk di isi.
"Sekretaris Silsi kita keluar sebentar ya." Rasha menarik tangan Sekretarisnya keluar ruangan.
Minam melihat sejenak tapi langsung beralih ke form yang akan di isinya, ia melihat kertas itu dengan senyuman ternyata isinya surat lamaran pekerjaan.
__ADS_1
Di luar Rasha melihat kiri kanan ia melihat beberapa karyawan yang berjalan cepat sambil membawa berkas tetapi ia tak peduli akan itu ia hanya fokus dengan wanita di depannya, sementara Silsi yang melihat itu tampak sangat kesal.
"Eh dengar ya," Rasha mendekatkan wajahnya ke Silsi "kamu harus mengajarnya dengan baik, pokoknya jangan buat kesalahan oke." Rasha bicara sambil menunjukkan telunjuknya di hidung Silsi.
"Iya bos," Silsi menurunkan tangan Rasha dari wajahnya." Tapi ada apa sebenarnya bos?" Tanya Silsi pelan takut terdengar orang lain.
"Nanti aku kirim pesan, pokoknya aku jangan sampai ketahuan oke." Rasha menoleh kiri kanan ia takut sekali jika ada yang mendengar.
"Nanti juga pasti semua orang tau kok." Jawab Silsi yang lupa akan nada bicaranya itu ia berbicara dengan santai dan cukup kuat.
Mendengar itu Rasha langsung menutup mulut Silsi, "huh dasar ember, nanti ada waktunya aku kasih tau." Suaranya berbisik keras, ia lalu melepaskan tangannya yang menutup mulut Silsi.
"Iya deh." Jawab Silsi lemah
"Oke kita masuk, setelah itu kita ke gudang." Perintah Rasha
"Hah, ngapain ke gudang?" Tanya Silsi kaget dengan perintah Rasha.
"Sudah diam aja, kamu mau liat gak cowok yang aku suka." Kata Rasha yang tersenyum lebar.
"Serius, cowok yang bos suka. Seriusan?" Pekik Silsi
"Huh dasar gak ada otak." Rasha meraup mulut Silsi dan langsung berjalan masuk ke ruangannya langsung di susul Silsi yang kaget dan bingung.
Pintu terbuka Minam masih menulis, Rasha langsung duduk di samping Minam sedangkan Silsi duduk di meja kerjanya ia memegang kening sambil mengurut.
"Belum selesai?" Tanya Rasha pura-pura tidak tahu padahal ia tahu Minam mengisi form di bagian terakhir.
"Gak kok kak bentar lagi siap." Iya tersenyum dan melanjutkan mengisi lagi.
__ADS_1
"Oke kakak tunggu." Rasha langsung berdiri mendekati Silsi yang kelihatan pusing ia tertawa kecil melihat tingkah Sekretarisnya itu. Rasha sangat senang hari ini, ia memberikan kebahagiaan untuk calon adik iparnya itu. Tak sabar menunggu apa yang akan terjadi nanti, di tambah lagi ia akan bertemu dengan pria yang di sukainya itu.