
Nasi goreng buatan Goman sudah ludes, dengan lahap mereka makan terutama Rasha ia menghabiskan nasi goreng di piringnya tanpa sisa. Alarm di handphone Goman berbunyi tanda dia harus berangkat kerja, Rasha melihat Goman yang sudah berdiri rasanya ia tidak mau prianya itu pergi walaupun sesaat.
"Oke saatnya berangkat kerja." Goman berjalan mendekati Minam dan Rasha yang duduk bersebelahan, ia mencium pipi kedua wanitanya itu bergilir.
"Hati-hati ya bang." Jawab Minam semangat karena ia baru pertama kali di cium abangnya.
"Oke... Nanti ngampus ya, jangan sampe gak." Kata Goman
"Siap." Hormat ke abangnya
"Aku pergi kerja dulu ya Rasha nanti kalau mau makan siang kamu masak aja, ada kok bahan-bahannya di kulkas." Ucap Goman mendekati wajah Rasha.
"Iya." Rasha menggangguk.
"Kalau gitu oke deh aku berangkat kerja sekarang." Ia memegang kepala Rasha dengan lembut lalu beranjak pergi, Minam yang melihat itu tersenyum sendiri sedangkan Rasha hanya diam saja.
"Kak kakak kerja apa?" Minam bertanya agar memecah kesunyian karena sudah di tinggal pergi Goman.
"Aku kerjanya bersih-bersih di kantor Goman kerja." Jawab Rasha lancar.
"Oh... Kakak kok gak kerja sih, gak sekalian apa sama Abang berangkatnya." Timpal Minam.
"Itu... Aku kerjanya harian jadi bebas mau datang kapan aja." Rasha asal bicara.
"Wah.. bagus dong kak, enak lah kerja kek gitu kalau lagi malas gak usah datang Hehehe, tapi aku bisa gak kerja sama kayak kakak?" Tanya Minam berharap.
__ADS_1
"Eh... Bisalah kalau kamu mau nanti kakak bilangin sama bos kakak." Jawab Rasha makin asal ia tidak mau ketahuan, " tapi kamukan masih kuliah, kenapa harus kerja?" Tanya Rasha.
"Hehehe itu loh kak, aku tuh mau bekerja di Edelweis Group kakak tau lah kan perusahaan itu bagaimana. Anak-anak perusahaannya sudah ada beberapa di Jawa, belum lagi yang tidak aku ketahui. Jadi kalau bisa gak apa-apa lah mulai dari awal, sebentar lagi aku juga mau wisuda abis itu aku langsung deh ngelamar minimal jabatannya lebih tinggi lah dari bang Goman." Jelas Minam antusias.
"Oh gitu oke deh, kak Rasha telpon Sekretaris nomor satu alias sekretaris jabatannya paling tinggi disana ya. Dia itu teman kakak, jadi aman deh." Rasha berlari menuju kamar, Minam yang mendengar perkataan Rasha itu sampai melongo matanya tetap menatap gerakan Rasha dari berlari menuju kamar hingga datang lagi ke arahnya "keren" hanya kata-kata itu yang dapat keluar dari mulutnya.
"Oke ini dia handphone kakak, bentar ya." Rasha mencari nomor Silsi dan langsung menelpon Minam hanya mengangguk dan mendengar pembicaraan itu dengan teliti.
Nomor yang di tuju sudah tersambung dengan cepat Rasha bicara sebelum Silsi buka suara.
"Hallo selamat pagi sekretaris Silsi, aku mau bilang kalau adik teman aku mau bekerja di Edelweis Group ia mengambil kerja harian sama denganku jadi bebas mau datang kapan saja oke." Minam yang mendengar itu jantungnya berdebar-debar berharap ia di terima.
"Oke baiklah jadi kapan mau kerja, ia harus menemui ku dulu ya." Jawab Silsi biasa saja, ia tahu ini ulah bosnya yang gila.
"Baik ia akan datang bersamaku kalau ada kesempatan nanti, sebentar lagi ia akan wisuda." Rasha menghentikan perkataan lalu melihat ke Minam," Minam kamu kuliah jurusan apa?" Tanyanya sementara handphone di jauhnya sementara, Silsi yang masih mendengar itu ngoceh tanpa suara. " Ekonomi kak." Jawab Minam pelan.
"Tapi Gadis ini nantinya akan belajar denganmu oke, dia kuliah di jurusan ekonomi jadi dia kekantor akan menjadi muridmu anggaplah ia menjadi sekretarismu sendiri tapi dia kesana untuk belajar ya mana tau nanti setelah wisuda ia akan bekerja di Edelweis Group oke Sekretaris Silsi." Jelas Rasha lagi ia tersenyum melihat Minam sedangkan anak itu tak menyangka atas ucapan orang yang di depannya.
"Oke baiklah, kamu bisa membawanya kapan saja terima kasih." Silsi langsung mematikan teleponnya ia geram dengan bos gilanya itu entah apa kali ini yang di buatnya.
Rasha menatap Minam dengan senyuman lebarnya, Minam masih tak percaya dengan ucapannya itu.
"Oke Minam, jadi kita kapan ke kantor?" Tanya Rasha yang sudah duduk.
Minam ikutan duduk ia bingung harus berkata apa.
__ADS_1
"Anu kak kapan ya?" Ia menoleh kesamping melihat kemana-mana.
"Oke kapan kamu masuk kuliah siang?" Tanya Rasha.
"Hari ini." Jawab Minam cepat.
"Okelah kalau begitu kita pergi ke kantor abis beres-beres ini dan mandi oke, yuk siap-siap sekarang." Rasha semangat
"Oke kak." Minam mengemas piring begitu pula dengan Rasha mereka saling bantu.
Taxi online sudah mengantar kami di depan Kantor Pusat Edelweis Group yang megah,gedung tinggi yang menjulang menampakkan kemegahanmya. Rasha dan Minam sudah ada di halaman depan gedung Rasha melihat pos Security dan memberikan kode anggukan saja, Security yang berjaga memahami kode yang di berikan Rasha sedangkan Minam ia masih sibuk menatap gedung yang akan di masukin ya.
"Yuk kita lapor dulu ke Security." Menarik tangan Minam, ia mengikuti saja langkah Rasha tak lepas memandang kiri kanan membuatnya takjub akan kemegahan Edelweis Group.
Mereka sudah sampai di pos Security, Rasha mengode lagi ke arah Security yang sedang berjaga dengan kedipan mata. Security di sana sudah mengerti akan kelakuan bosnya itu, mereka berusaha bekerja dengan baik.
"Selamat pagi bapak-bapak Security." Sapa Rasha semangat
"Selamat pagi pak." Minam yang sudah di samping Rasha ikut menyapa.
"Eh ada mbak Rasha tumben hari ini kerja, ini siapa mbak." Security bernama Iwan itu menyapa, sedangkan Security yang bernama Pandi mengambil buku tamu dan meletakkamnya di meja di depan Rasha.
"Oh saya gak kerja kok hari ini lagi malas, saya mau bawa teman saya ke dalam kantor mau jumpa Sekretaris Silsi bisa kan?" Tanyanya sementara ia mengambil buku tamu di depannya dan menulis nama Minam setelah itu ia menyuruh Minam menandatangani di buku tamu itu.
"Ya jelas boleh lah mbak, silahkan masuk." Bapak Security yang bernama Iwan langsung menyuruh mereka masuk. Sementara Rasha mencari Security yang memberinya payung kemarin saat dia kehujanan tapi malah tak ketemu, mungkin lagi libur pikirnya.
__ADS_1
"Oke makasih." Rasha dan Minam sudah berlalu ia memasuki lobby kantor, mata Rasha mencari pria yang disukainya begitu juga dengan Minam ia mencari abangnya tapi tak kelihatan. Kemegahan kantor Edelweis Group membuat Minam benar-benar terpana, ia berharap suatu hari akan menjadi salah satu orang yang penting di kantor itu. Tekadnya membuat ia makin bersemangat agar cepat wisuda ia sangat berharap perkataan Rasha tadi benar walaupun ia belum bertemu dengan Sekretaris yang di sebut Rasha itu.