
"Aku pulang." Goman sudah masuk kedalam rumah, ia bingung kenapa jam segini pintu rumah belum terkunci padahal sudah jam 8 malam lewat. Ia melihat dua wanita yang di sayangnya lagi fokus nonton drama Korea. "Huh dasar wanita." Gumamnya dan langsung duduk di samping Rasha.
"Kok pintunya gak di kunci sih?" Tanya Goman.
"Sengaja." Jawab Minam singkat dan matanya masih melihat tv begitu pula dengan Rasha, melihat itu Goman makin kesal ia langsung mencium pipi Rasha, Rasha yang kaget langsung melihat Goman ia ingin marah karena sikapnya itu apalagi di depan adiknya sendiri belum Rasha berucap satu kecupan sudah mendarat di bibir Rasha. Goman menatap Rasha dengan senyum bahagia sebaliknya Rasha berwajah masam tapi tak membuat Goman sedih ia malah suka raut wajah Rasha seperti itu di kecupnya lagi berulang kali membuat Rasha kaget setengah mati tapi ia tidak bergerak sama sekali.
"Apaan sih Abang belum nikah juga." Suara Minam melengking ia merasa dirinya patung tak dianggap, melihat adegan seperti itu di depan matanya ia langsung membesarkan volume tv sampe full.
"Apaan sih ganggu aja dek, kecilin suaranya." Suara Goman tak terdengar karena kuatnya suara tv ia menunjukkan tv sambil menutup telinga menyuruh Minam mengecilkan suara.
Melihat itu Minam menatapnya sinis dan mengecilkan volume tv, tapi tatapannya tetap sinis ke abangnya. Goman yang melihat itu langsung menjulurkan lidah mengejek Minam, Rasha melihat itu tertawa kecil.
"Udah ah Abang mau mandi dulu." Goman meninggalkan mereka berdua, Minam langsung beralih ke tv "ahh oppa ku." Gumamnya. Rasha yang memandang Minam hanya tersenyum malu, sedangkan Minam sibuk menatap tv tersenyum sendiri karena ketampanan cowok Korea di depannya.
Malam makin larut, Rasha dan Goman sudah ada di satu tempat tidur sedangkan Minam sudah dari tadi tertidur di kamarnya.
"Goman aku tidur di depan tv aja ya, gak enak lah kalau di lihat orang lain." Kata Rasha.
"Siapa juga yang mau lihat, sudahlah rumah aku ini banyak hantunya jadi tidur aja disini." Menepuk tempat tidur disampingnya, "aku gak ngapa-ngapain kok." Lanjutnya lagi.
"Tapi kan aku ..." Goman langsung berdiri mematikan lampu Rasha langsung menghentikan perkataannya.
"Udah tidur aja, nih aku kasih batas pakek bantal guling." Goman meyakinkan Rasha gadis itu hanya menurut berbaring dan menarik selimutnya.
__ADS_1
Keheningan sudah menjalar, hanya suara nafas saja yang terdengar. Rasha yang selalu berfikiran negatif malam ini sudah dapat terkontrol. Ia ingin bertanya tentang diri Goman ia masih ingin tahu soal penjelasan Minam tentang pernikahannya.
"Goman udah tidur?" Tanya Rasha pelan.
"Hmm."
"Aku mau nanya, boleh gak?"
"Tanya aja."
Rasha melihat wajah Goman dengan samar-samar cahaya lampu dari luar masih mampu menunjukkan ketampanan wajahnya.
"Kamu sudah menikah?" Pertanyaan itu sudah terlontar, Rasha sangat cemas jika Goman marah kepadanya.
"Iya, aku sudah menikah dulu waktu tamat SMA aku di jodohkan itupun untuk membantu perusahaan ayahku, awalnya berjalan dengan lancar tapi setelah akad tiba-tiba pengantinku jatuh sakit dan meninggal di tempat. Kata mereka dia mengidap sakit jantung, tapi aku tidak tahu kepastiannya saat itu aku baru mau mencoba mencintainya tapi mungkin cinta kami memang tidak untuk dipersatukan." Jelas Goman.
"Setelah kejadian itu perusahaan ayahku perlahan hancur yang tersisa hanya mobil yang sering kubawa dan rumah ini, beberapa bulan kemudian mereka dijanjikan oleh mertuaku untuk membantu membangun perusahaan kembali mereka sangat bersemangat. Hari itu aku membawa mobil untuk jalan-jalan keluar, sedangkan mereka pergi menggunakan taksi. Saat ngumpul sama teman aku mendapatkan telpon bahwa ayah dan ibuku kecelakaan." Suara nafas Goman berubah menjadi berat ia tak ingin melanjutkan lagi dan ia tak ingin menangis di depan wanita yang disukainya.
Rasha kemudian duduk dari baringnya dan mendekati Goman ia hanya mengelus kepala Goman tanpa berkata apa-apa, ia tahu rasa yang sedang di alami Goman saat ini. Ia mengelus kepala Goman dengan kasih sayang seakan ingin berkata ada aku disini tapi ia hanya memperhatikan wajah Goman saja. Goman menatap mata Rasha dengan penerangan samar dari luar merasa bersyukur karena ada seseorang yang bisa membuatnya tenang. Tatapan itu seakan membuatnya terbang, rasa itupun kembali hadir debaran jantung kembali beraksi dengan perasaan seperti itu Rasha kemudian berbaring dan memeluk Goman dengan erat. Menyambut dengan penuh cinta Goman memberikan ciuman malam yang hangat, rasa kantuk mulai menjalar Rasha sudah ada di dekapan Goman membuatnya tertidur dengan nyaman begitu pula dengan Goman.
Rasa nyaman membuat mereka terlelap dengan senyum, mungkin ini adalah malam yang indah. Sementara handphone Rasha terus bergetar karena pesan dari Mancung, tentu saja mereka tak menggubris suara itu karena larut dalam kenyamanan.
"Edelweis kata Silsi kamu ke kantor tadi pakek baju tidur ya, bikin malu aja."
__ADS_1
"Kamu dimana sekarang?"
"Kamu sudah tidur?"
"Balas dong,kek udah tidur aja."
"Aku ubah jadwal deh pulang seminggu lagi."
"Coba deh weis kamu tuh jangan bersikap bodoh terus, aku tau kamu udah kaya tapi sikap mu itu loh bikin malu. Untung aja kamu gak ikut aku, bikin malu aja kalo kamu ikut kesini."
"Pokoknya kalo kamu udah baca langsung balas ya."
"Oh iya kamu harus cari pacar cepetan umur dah segitu belum nikah kek apa aja, kalo aku gak apa-apa akukan cowok."
"Jangan bilang kamu suka sama aku."
"Gak boleh pokoknya weis, kamu harus cari orang lain soalnya aku suka yang blasteran hehehe."
"Pokoknya jangan aku, titik!"
"Ya udah, jaga diri ya."
"Eh jangan baper aku bilang kek gitu cuma khawatir aja, kamu tuh dah aku anggap adik walaupun umur kita sama tapikan aku tua 3 bulan dari kamu. Udah deh kamu ganggu aja."
__ADS_1
Pesan dari Mancung bertubi-tubi menghantam handphone Rasha, dalam pelukan Goman ia tersadar kalau handphonenya berbunyi di tambah sinar dari handphone membuatnya berpaling wajah ke handphone tapi ia tak menghiraukan ia malah makin memeluk erat Goman." Pasti pesan dari Mancung, dasar pengganggu." Batin Rasha.
Cinta itu memang buta, saat kau sudah terikat dengan orang yang kau cintai kau hanya fokus dengan itu. Seseorang pernah berkata padaku jika kau punya impian bergeraklah, jika kau terus berfikir itu berarti hanya khayalan. Kesuksesan karirku sudah terlihat, terjaminnya hidupku sudah terasa aku sangat bersyukur tentang itu. Namun tingkat kebahagian tidak hanya dengan uang aku masih mencarinya sudah ku dapatkan tetapi belum ku miliki, aku menginginkan keluarga bahagia bersamanya tetap bersamanya. Aku belum tahu banyak tentang dirimu dan kau tidak tahu tentang diriku, mengapa kau membawaku ke dalam pelukanmu dan mengapa aku sangat terbuai. Kau bukan milikku dan kita masih belum menjadi pemilik satu sama lain tapi kenapa ini terjadi, yang aku khawatirkan kita tidak tercipta untuk bersama. Akankah sang pencipta menjadikan kita satu, aku akan terus menjalaninya kaupun juga jadi kita tetaplah bersama walau penuh kemungkinan. Aku akan mencintaimu apapun tentangmu.