
Pernikahan dengan keterpaksaan membuat sesuatu yang dulu begitu indah harus menjadi malapetaka, tanpa cinta hubungan itu akan menjadi neraka bahkan meninggalkan bekas yang sulit untuk dilepas. Goman remaja yang harus terpaksa menikah dengan wanita yang bahkan tidak pernah dilihat olehnya, demi orangtuanya ia rela melepas masa remajanya.
"Tapi yah aku baru lulus SMA, mana mungkin aku menikah dengan orang yang tidak pernah aku lihat." Jawab Goman menggerutu di depan ayah dan ibunya.
"Tidak, ini demi keluarga kita Goman kamu harus menikahi dia." Jawab ayah Goman.
"Apa salahku sampai kalian begitu tega denganku?" Goman hampir menangis dengan paksaan orangtuanya.
"Maafkan ayah, tapi bantulah kami Goman. Dia juga wanita cantik dan baik kamu pasti akan mencintainya, walaupun umurnya lebih dewasa dari kamu tapi kamu pasti akan mencintainya." Jawab ayah yang memegang tangan Goman memohon.
"Jika dia cantik dan baik kenapa dia tidak menikah dengan orang yang di cintai nya, pasti ada sebabnya aku tidak mau pokoknya." Jawab Goman menatap marah ayahnya.
"Goman percaya dengan ibu kamu pasti bahagia dengannya." Ibu Goman langsung memegang tangan anaknya yang satu lagi, berharap anaknya mau menurut.
"Kalian memang tega denganku." Jawab Goman yang sudah menangis.
"Kami tidak bermaksud begitu Goman kami memikirkan masa depan kita." Jawab ibu dengan memegang tangan Goman erat.
"Pokoknya aku tidak mau." Goman melepaskan tangan kedua orangtuanya yang memegang tangannya dengan kuat. "Kalian jangan menyuruhku untuk menikah dengan wanita itu, aku ingin meraih cita-citaku aku ingin mencapainya jadi jangan paksa aku mengerti." Jawab Goman kasar, ia tidak mau sampai cita-cita yang diimpikannya sedari kecil menjadi pilot harus terhenti bahkan belum ia mulai.
"Dasar." Ayah menampar Goman sampai anak itu terhenyak, ia menatap ayahnya makin sedih. "
Perusahaan kita akan bangkrut jadi kalau kamu mau meraih cita-citamu nikahi dia, dan ingat adikmu juga akan masuk SMA jadi kamu harus juga membantunya. Hanya ayah perempuan itu yang bisa menolong kita, ini demi masa depan kita Goman." Ayah Goman langsung memeluk Goman berharap banyak pada putra satu-satunya itu. " Jadi ayah mohon padamu, hanya kamu yang bisa membantu kami." Ayah langsung melepaskan pelukannya dan langsung terduduk di kakinya dan di susul ibunya, melihat itu ia langsung mengusap air matanya.
"Persiapkan pernikahannya, aku akan melakukan itu." Goman langsung pergi ke kamarnya ia merasa dunianya telah hancur meratap masa depan yang ia rancang sedemikian rupa, entah apa yang akan di hadapinya nanti membuatnya benar-benar kecewa akan hidupnya.
__ADS_1
"Kak bangun dah mau jam 7 loh." Minam mengetok kamar abangnya yang terkunci dari dalam, ia khawatir jika terjadi apa\-apa dengan Abang satu\-satunya itu. "Bang sudah pagi loh, Abang gak apa\-apa?" Teriak Minam kuat.
"Iya dek bentar." Goman terbangun dari tidurnya, memimpikan kenangan masalalu membuatnya sedih. Goman bangun membukakan pintu untuk adiknya, melihat jam di kamar membuat dirinya malas untuk bekerja.
"Eh Abang kok muka Abang pucat sih, abang gak apa-apakan?" Minam memegang pipi Goman ia melihat wajah Goman yang pucat membuat dirinya khawatir. "Badan Abang juga panas, Abang demam nih." Minam makin mengkhawatirkan abangnya.
"Udah gak apa-apa nanti Abang makan obat aja, tapi hari ini Abang libur kerja deh soalnya Abang mau istirahat lebih." Jawab Goman memegang tangan adiknya yang di pipinya dan menurunkannya dengan perlahan.
"Kalau gitu aku gak kuliah deh hari ini, nanti siapa yang kaga Abang. Kak Rasha juga gak ada disini, jadi kuputuskan hari ini gak kuliah oke." Kata Minam semangat.
"Widih bisa aja cari alasan biar gak kuliah ya, kamu tetap kuliah hari ini." Goman mencubit hidung adiknya.
"Astaga abang aku itu cuma khawatir dengan abang malah di bilang kek gitu." Jelas Minam.
"Iya deh bang, tapi kak Rasha nanti kesini gak?" Tanya Minam, ia ingin ada seseorang yang menemani abangnya di rumah.
"Iya dia nanti datang tapi malam nanti, katanya dia ada keperluan."
"Oke deh, aku siap-siap dulu deh soalnya aku ada kuliah pagi." Minam pergi meninggalkan Goman ia tak lupa menepuk pelan bahu abangnya tanda memberikan semangat.
Goman kembali berbaring di atas kasur, ia malas untuk berbuat apa-apa saat itu. Tak lupa ia harus kasih kabar ke atasannya jika ia tidak masuk kerja hari ini, ia yakin Pak Amek akan memberikannya izin ia tahu jika soal kesehatan Pak Amek pasti juara satu.
"Selamat Pagi pak, saya izin hari ini tidak masuk kerja karena saya sedang sakit tapi hanya demam pak. Jadi saya butuh istirahat hari ini, terima kasih atas perhatiannya pak." Pesan terkirim oleh atasannya itu, ia yakin pasti di beri izin.
"Iya kamu istirahat saja hari ini." Balas Amek cepat.
__ADS_1
Mendapatkan balasan itu ia langsung kembali tidur, ia memikirkan Rasha sekejap lalu ia tersenyum sendiri. "Pasti wanitaku masih tertidur." Lirihnya.
Silsi dan Amek masih di atas tempat tidur, mereka seakan tidak perduli dengan keadaan apalagi kantor sudah menantinya.
"Siapa itu yang?" Tanya Silsi yang melirik handphone yang di tangan Amek.
"Ada deh, mau tau aja." Amek langsung meletakkan handphonenya di dadanya agar tak kelihatan Silsi.
"Wah wah, jadi ada orang lain selain aku ya. Oke fine, tapi siapa dia sini handphone kamu." Silsi langsung merebut handphone itu tapi tak dapat di ambilnya, badan kecilnya berhasil menaiki Amek ia duduk di atas perut Amek yang terbaring di buatnya. Tangannya terus membuka tangan Amek yang menutupi handphone di atas dada bidang Amek.
"Kamu cemburu ya?" Gelak Amek melihat tingkah Silsi.
"Berisik, awas ya kamu." Silsi berusaha dengan sekuat tenaga tapi kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan pria yang ada di bawahnya itu.
"Udah nanti tangan kamu sakit, aku kasih handphonenya tapi kamu tenang dulu." Amek mengalah karena ia takut tangan kecil Silsi kesakitan. Silsi langsung terdiam tetapi wajahnya tetap kesal dengan perbuatan Amek, ia menatap Amek marah dan langsung merampas handphone yang sudah lengah itu.
"Awas ya kamu kalau macam-macam." Silsi langsung membuka pesan yang baru di balas Amek tadi, ia melihat atas nama Goman yang mengirim prianya itu pesan iapun langsung menatap Amek kesal.
"Jangan marah-marah dong, dia itu kekasihnya bos. Kekasih aku ada disini kok, ini dia." Amek langsung menarik tubuh Silsi yang di atasnya langsung dalam dekapannya. "Cup cup cup sayang." Goda Amek.
"Awas ya kamu kalau macam-macam." Ucap Silsi yang dalam dekapan Amek, lalu ia tersenyum malu kemudian membalas pelukan Amek dengan erat.
"Kita ke kantor ja ..." Tanya Amek yang belum lepas dari Silsi, " nanti aja." Balas Silsi yang masih mendekap dalam pelukan Amek.
Oh cinta mengapa kau sangat di nantikan dengan semua orang, hanyutan buaianmu membuat semua orang melayang tinggi. Khayalan demi khayalan hadir menghampiri, kau baik atau jahat. Kadang kau membuat mereka saling mencintai dan kadang kau membuatnya menyinta sendiri, jadi jika kau terus akan hadir tolong hadirlah dengan baik jadi orang tidak akan memakimu.
__ADS_1