
Suara dari dapur terdengar, semua sibuk dengan aktivitas masing-masing kecuali Rasha yang masih tertidur lelap. Waktu belum menunjukkan pukul 7 tentu saja alarm di handphone Rasha belum menjerit, Goman membuat nasi goreng sedangkan Minam cuci muka dan gosok gigi. Selesai itu ia menghampiri abangnya yang sibuk membolak-balik nasi yang ada di kuali, ia memperhatikan abangnya dengan seksama.
"Senangnya punya Abang yang rajin." Ucapnya sambil mencicipi nasi goreng buatan abangnya yang sudah selesai memasak.
"Enak gak?" Tanyanya memperhatikan raut wajah adiknya.
"Enak lah kan Abang yang masak, sejak kapan Abang masak gak enak." Jawabnya lalu mengambil piring.
"Bagus lah, entar dulu makannya tunggu kak Rasha." Mengambil piring yang ada di tangan Minam.
"Kak Rasha kemana kok gak nimbul?" Rasha lalu menyusun piring di atas meja makan, meja makan dan dapur jadi satu karena rumahnya kecil tetapi minimalis.
"Masih tidur." Jawab Goman singkat.
"Apa? Jam segini masih tidur." Minam kaget dan menunjukkan jam tangannya ke Goman.
"Santai aja kali dek, kek kamu gak bangun kesiangan aja. Baru hari ini juga kamu bangun pagi kan." Jawab Goman
"Ya gak gitu bang, dia kan tidur di rumah orang lain setidaknya jaga sikap lah." Kata Rasha
"Udah lah biarin aja dia." Balas duduk di meja makan, Minam melihat abangnya menjawab santai kemudian menyusul abangnya duduk.
Wajah Minam mendekat ke Goman matanya menatap Goman penuh dengan pertanyaan.
"Jangan-jangan Abang dan kak Rasha gitu-gituan kan." Rasha dengan polosnya menanyakan itu, Goman mendengar pertanyaan itu langsung menjentikkan tangan ke kening Minam dengan keras.
"Dasar cabul kamu." Goman bersuara keras sedangkan adiknya masih menggosok kening karena kesakitan.
"Mana tau aja, Abang kenapa sih suka sama Kak Rasha kalau di lihat dia gak cantik amat. Cantikan aku kayaknye dari dia." Minam memegang wajahnya dan bersikap sok imut.
__ADS_1
"Dasar, biarin aja sok cantik aja kamu." Menatap adiknya sebal.
"Biarin aja, emang apa sih yang abang lihat dari dia?" Goman mendengar itu langsung termenung menatap jauh.
"Cinta." Jawabnya singkat padat dan jelas.
"Hah cinta bang, tapikan dia gak cantik amat dan dandanannya itu loh kayak orang gak keurus gitu." Minam membayangkan pertemuannya pertama kali dengan Rasha dan saat Goman membawanya ke rumah ini.
"Mulut kamu ya Rasha, bilang aja kamu jomblo ntah siapa yang nanti jadi suamimu dek dek." Balas Goman kesal.
"Huh dasar budak cinta, jelas lah suamiku nanti pasti ganteng, tampan,hidungnya mancung,tinggi,bibirnya seksi, dan satu lagi dia penuh dengan cinta." Minam sudah menghayal jauh sedangkan Goman yang melihatt tingkah adiknya langsung berdiri dan berjalan meninggalkannya sendiri.
"Dasar cabul." Ucap Goman kuat.
Minam melihat abangnya yang ke kamar mandi mengumpat memaki tak jelas, tapi ia berharap ada sosok laki-laki yang di idamkannya segera datang.
"Huh dasar gak ada otak." Hanya itu balasan untuk pesan dari Mancung.
Ia melihat pesan lainnya dari Silsi dan Joan, ia membuka pesan dari Silsi dahulu.
"Kak Rasha maafin aku ya kak, sumpah deh gak terulang lagi." Tak lupa di sertai emot memohon Rasha yang membaca itu berdecak kesal dan langsung membalas sama dengan dibalasnya ke Mancung.
"Huh dasar gak ada otak." Itulah balasan yang di terima Silsi.
Sementara pesan berikutnya dari Joan sebenarnya ia malas membuka pesan itu tapi ia tetap membuka dengan berat hati.
"Selamat malam, tadi aku dengar kamu ke kantor ya tapi kenapa pake baju tidur jangan-jangan kamu tidur di kantor ya? Kamu kenapa sih gak bilang aku jadi aku bisa nemenin kamu." Pesan dari Joan membuat Rasha makin tambah kesal.
"Huh dasar gak ada otak." Balasan yang sama sudah terkirim ke Joan entah apa reaksi mereka bertiga Rasha mencampakkan handphonenya ke sudut tempat tidur.
__ADS_1
"Huh dasar gak ada otak." Pekiknya, wajah Rasha menengadah ke atas tangannya mencegkram rambut dengan keras ia tidak sadar jika pintu kamar sudah di buka, Goman memperhatikan Rasha langsung tertawa keras Rasha yang mendengar itu langsung melihat ke arah suara mendapati Goman yang sudah berdiri di depan pintu hanya menggunakan handuk putih dengan badan yang masih sedikit basah begitu pula dengan rambutnya dan di tambah lagi otot perut Goman terlihat jelas.
Suara tawa masih menggema sedangkan yang di tertawakan melongo melihat keajaiban yang ada di depannya, mulut Rasha menganga melihat itu matanya bahkan tak berkedip ia hanya mampu menelan air ludah Goman yang melihat tingkah Rasha langsung memberhentikan tawanya ia kaget karena Rasha melihatnya sebegitu parah.
"Aku mau pakai baju, kamu bisa keluar sebentar." Goman akhirnya buka suara, Rasha langsung tersadar dan berlari keluar kamar.
Goman langsung tertawa dan menutup pintu kamarnya.
Rasha berlari ke arah Minam yang duduk di meja makan, Minam yang sedang main handphone langsung melihat ke arah Rasha yang sudah duduk di depannya.
"Kenapa kak?" Tanya Minam kaget.
"Eh gak apa-apa." Jawab Rasha sambil mengatur nafas.
"Kak Rasha baru bangun ya, kakak sebaiknya cuci muka dulu sebelum sarapan." Rasha yang mendengar itu langsung berlari ke kamar mandi.
"Aneh." Gumam Minam.
Di dalam kamar mandi Rasha berkaca yang dilihat bukan dirinya malah tubuh Goman yang hanya menggunakan handuk saja.
"Aaaaaa dasar bodoh apa yang aku pikirkan, dasar cabul." Ia mengumpat dirinya sendiri.
Rasha mengutuk dirinya karena tingkah yang di buatnya tadi membuatnya sangat malu, sementara Goman yang ada di kamar sudah memakai baju kantornya. Saat ia mau keluar ia mendengar bunyi handphone Rasha ia melihat ada pesan yang masuk tertera nama Mancung, ia ingin melihat isi pesan itu tapi di urungnya ia lalu beranjak keluar melihat ke arah meja makan tidak ada Rasha ia kembali lagi ke dalam kamar.
"Pasti Rasha di kamar mandi, tapi siapa Mancung sepertinya orang yang spesial." Goman kemudian mengambil handphone Rasha dengan ragu tapi ia penasaran dengan orang yang bernama mancung ini.
Rasa penasaran ternyata lebih besar ia membaca pesan dari Mancung pesan yang dikirim Mancung tadi malam, pesan-pesan sebelumnya sudah di hapus oleh Rasha sehingga Goman yang membaca pesan itu membuatnya bingung. Ia kemudian melihat poto yang tertera di nomor itu seorang pria, "wah tampan sekali, lebih tampan dari diriku." Gumamnya saat melihat foto Mancung.
"Sebenarnya siapa kau?" Goman makin penasaran, ia langsung mengembalikan handphone Rasha ke tempat semula dan langsung keluar kamar.
__ADS_1