Rasha Dan Goman

Rasha Dan Goman
Enam Belas


__ADS_3

Acara makan sepuasnya sudah selesai perut Rasha sudah penuh begitu pula dengan Goman dan Minam, berbagai macam makanan tersedia di kantin itu. Rasha sangat peduli dengan makanan, kesehatan dan kesejahteraan karyawan perusahaannya. Goman berpamitan ia mau melanjutkan pekerjaannya sedangkan Rasha dan Minam berjalan keluar kantor, mereka menuju ke pos Security untuk izin pulang.


"Hai bapak-bapak Security sudah makan belum?" Sapa Rasha mendekati mereka.


"Eh mbak Rasha, bentar lagi kami makan tunggu jam istirahat nanti." Jawab Pak Iwan ramah sedangkan pak Pandi hanya mengangguk ia langsung menyodorkan buku tamu tadi untuk di tanda tangani Minam kembali di waktu pulang Minan yang melihat itu langsung mengerti.


"Oh iya pak mulai hari ini gadis yang bernama Minam ini akan bekerja di perusahaan ini juga, ia sama seperti saya kapan aja bisa datang." Rasha melihat Minam dan tersenyum melihatnya, Minam langsung menganggukkan kepala ke Security di depannya tanda menghormati.


"Oh gitu ya mbak, oke baiklah. Ada yang ingin di sampaikan lagi mbak Rasha?" Tanya Pak Iwan kembali.


"Iya, saya masih mau ketemu sama Sekretaris Silsi. Jadi, bapak bisa bilang ke sopir perusahaan untuk nganterin Minam ke kampusnya." Minam yang mendengar itu kaget.


"Oke baiklah mabuk Rasha, saya telpon sopir perusahaan dulu ya." Pak Iwan langsung menelpon dan menyuruh sopir itu datang.


"Mmm tapi kak apa ini gak berlebihan?" Minam langsung meraih lengan Rasha.


"Udah lah tenang aja, kapan lagi kamu di antar ke kampus dengan mobil perusahaan ada logo Edelweis Group lagi." Kata Rasha tersenyum hangat.


"Eh iya ya." Minam tak dapat membayangkan jika sampai di kampus teman-teman kampusnya melihat ia keluar dari mobil yang berlogo Edelweis Group.


"Nanti kamu juga akan terbiasa kok, nih mobilnya masuk gi. Kakak ada urusan lagi." Kata Rasha sambil membuka pintu mobil itu mempersilahkan Minam masuk.


"Makasih ya kak." Minam sudah duduk di kursi mobil mewah Edelweis Group itu.


"Oke beljara yang rajin ya." Minam menganggukkan kepala Rasha langsung menutup pintu dan meninggalkan Minam berlalu.

__ADS_1


"Pak Iwan Minam itu adiknya Goman yang kerja sebagai staff gudang di sini, kalau iya pulang tidak dengan abangnya bapak langsung suruh sopir perusahaan mengantarnya ya." Jelas Rasha


"Baik, siap Bu Rasha." Iya menjawab dengan yakin.


"Oke kalau gitu saya mau masuk dulu ya." Rasha pergi kembali ke kantor, Pak Iwan dan Pa di membungkukkan badan di depan bos besarnya itu hingga berlalu pergi.


Pertemuannya dengan Goman tadi membuatnya bahagia ia sangat senang bertemu dengan orang yang di cintainya itu, dari awal pertemuan ia sudah jatuh hati. Teman hatinya itu membuatnya tidak akan berpaling, Goman adalah cinta pertama untuknya ia tidak pernah mencintai pria lain selama 27 tahun ia hidup, ia sibuk dengan kesengsaraan hidupnya kala itu dan sibuk dengan meraih kesuksesan untuk itu dia belum bisa menerima sebuah cinta walaupun beberapa pria sudah memberi pengakuan cinta kepadanya terutama Joan manajer di perusahaannh itu tetapi ia tidak bisa menerima, tapi tidak dengan Goman ia membuatnya jatuh hati, dari semuanya dari mata, wajah, suaranya, semua yang di diri Goman ia suka ia seakan tersihir oleh pria itu. Itukah namanya cinta? Saat kau menatapnya, berada di dekatnya jantungmu berdetak kencang, nafasmu memburu cepat dan sentuhannya membuat melayang. Itukah cinta? Sungguh cinta ini memberikan kepercayaan, siapa dirimu?, kenapa dirimu?, apa maumu? Rasanya semua tak perlu di pertanyakan cukup kau ada di sisi ini tetap bersama di diri ini semuanya sudah sempurna tak perlu lagi sebuah pertanyaan. Apakah kau pernah merasakannya?


Waktu sudah menunjukkan waktu makan siang, para karyawan sudah berada di kantin penuh sesak di sana karena lapar, tapi luasnya kantin tetap membuat mereka berebutan. Ya, maklumlah jika sudah menyangkut makan siapa yang tidak bertingkah seperti itu kecuali orang-orang yang kurang percaya diri maka dia tidak akan kenyang alias terlalu malu-malu untuk makan. Berbeda sekali dengan penguasa perusahaan itu ia bahkan tak malu-malu jika makanan sudah ada di depan matanya bahkan di depan pria yang di sukainya itu, anehnya walau makan sebanyak apapun itu badannya tetap saja langsing.


"Kamu gak makan siang?" tanya Silsi, Amek yang duduk di sebelahnya hanya memandang wajah manis Sekretaris no satu perusahaan itu. Sofa yang di duduknya itu terasa mengecil karena kedekatan duduk mereka berdua.


"Gak ah, liat wajah kamu aja aku udah kenyang. Kamu gak makan apa?" Tanya Amek balik.


"Udah kenyang? Kayak muka aku ini makanan aja sampe kamu udah kenyang, aku gak suka makan di kantor aku pesan makanan di luar tadi." Kata Silsi sambil menunjukkan handphone di tangannya.


"Eh kenapa kamu kemari, siapa yang suruh kamu masuk?" Kata Amek yang panik sambil menunjuk ke wajah Rasha.


Rasha tak menggubris pertanyaan Amek ia langsung melangkah ke meja kerjanya yang megah itu dak duduk di singgasananya.


"Heh ngapain kamu duduk di sana?" Tanya Amek mulai marah, ia mendekati Rasha tapi sudah tangannya sudah di tarik oleh Silsi.


"Hahaha." Rasha tertawa melihat tingkah mereka berdua.


"Dasar sialan, keluar kamu itu tempat pemilik Edelweis Group ini." Umpat Amek mendengar itu Silsi langsung memukul kepala Amek dari belakang membuat Amek meringis kesakitan.

__ADS_1


"Hahaha." Rasha yang duduk bersandar di kursinya itu makin tertawa keras.


"Aduh... Kamu ini kenapa sih, kok aku di pukul." Amek mengelus kepalanya kesakitan Silsi yang melihat Amek hanya melotot marah. Ia langsung membungkuk meminta maaf ke Rasha atas tindakan Amek.


"Maaf bos dia gak tau kalau kamu ..." Amek langsung memotong perkataan Silsi ia mendengar kata bos langsung kaget terperanjat.


"Hah bos..." Suara lantang keluar dari mulut Amek ia langsung melihat Rasha yang tertawa keras langsung sujud di lantai ia meminta maaf atas tingkahnya itu, ia tidak tahu jika di hadapannya itu pemilik Edelweis Group.


"Ampunin saya bos Anu... Anu Ibu, saya tidak tahu sumpah, saya tidak tahu." Ia sujud sambil menangis tanpa mengeluarkan air mata ia hanya takut di pecat dan tidak dapat bertemu dengan Silsi lagi.


Silsi geram dengan tingkah Amek ia menarik jas Amek dan menyuruhnya berdiri.


"Ayo berdiri, bikin malu aja." Amek mengangkat kepalanya dan melihat wajah Rasha yang masih tertawa lalu ia menundukkan kepalanya lagi.


"Hahahaha kalian memang cocok ya." Mendengar perkataan Rasha membuat Amek menegakkan kepala melihat Rasha yang masih tertawa kemudian melihat wajah Silsi yang seakan mau mengumpat dirinya.


"Ayo bangun." Tarik Silsi geram.


"Gak apa-apa, kalian duduk aja di sofa saya hanya ingin istirahat di ruangan dingin ini sebentar. Sorry ya kalau mengganggu kalian pacaran, gak apa-apa saya mau istirahat saja." Jelas Rasha yang bersandar di kursi empuknya itu dan memutar ke arah jendela kaca yang besar melibatkan gedung-gedung lain yang ikut menjulang tinggi.


Silsi menarik Amek untuk duduk di sofa, Amek yang masih panik hanya mengikuti Silsi saja.


"Beneran dia bos di sini?" Bisik Amek, mereka kembali duduk di sofa tapi jarangnya tidak sedekat tadi.


"Iya... Ssstt kita jangan ganggu dia, dia itu mau tidur." Jawab Silsi membalas bisikan ke telinga Amek.

__ADS_1


Silsi dan Amek tertawa geli dengan tingkah mereka sendiri, tiba-tiba pintu terbuka lagi. Mereka berdua kembali terperanjat berdiri dan memisahkan diri sementara Rasha sudah terlelap dari tidurnya di kursi empuk itu, yang datang kali ini berwajah buas beda dengan yang tadi.


__ADS_2