Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Episode 10


__ADS_3

Arrrrgggghhhhh!!!


Pangeran mengacak rambutnya berusaha untuk membuang pikirannya perihal semua yang kegelisahan akibat perlakuannya di kantor siang tadi.


Di luar hujan sedang deras mengguyur. Seperti biasa, seharusnya dia bisa tidur dengan nyenyak tapi kali ini tidak mempan. Bagaimana Pangeran setiap kali selalu teringat dengan kejadian di kantor.


“Bisa-bisanya aku melaukan hal konyol seperti tadi.”


Gumam Pangeran ketika menatap langit-langit kamarnya. Dan entah kenapa bayangan Aldoura seolah nampak di sana, bayangan ketika Aldoura tersenyum, ngomel, dan marah-marah kepada rekan kerjanya sewaktu mengalai perbedaan pendapat. Tak disadari Pangeran mulai tersenyum melihat semua bayangan itu.


Aldoura benar-benar gadis yang lucu dan aneh atau bahakan kadang bisa dibilang gila. Mungkin karena kegilaannya hingga membuat Pangeran jatuh hati kepadanya.


“Bagaimana kalau setelah ini dia menghindariku?, atau bagaimana kalau dia tidak mau berteman lagi denganku?, atau… yang lebih parah bagaimana kalau dia tidak ingin lagi bekerja di kantor?.”


Kegelisahan demi kegelisahan kian muncul berseliweran dalam benak Pangeran. Cemas jika dia tak dapat melihat sosok perempuan cantik yang dia sayangi.


“Ora, susah payah kau mengambil hatiku, maka kau harus jadi milikku.”


Kata Pangeran, tak lama setelahnya diapun mulai tertidur.


Di samping itu, di teras rumah keluarga besar Burhan. Nampak Aldoura tengah duduk termenung sendirian. Pandangannya kosong menghadap tetesan air yang berjatuhan dari genting rumah.


Ia tak habis pikir dengan Pangeran yang selama ini dianggapnya sebagai sahabat serta bos yang teramat baik ternyata diam-diam menyukai dirinya. Jangankan menyukainya, memikirkan dia akan dicium saja tidak pernah sekalipun terlintas sedetik saja.


...###...


“Bagaimana Ra?.”


Tanya Pangeran terus mendesak.


“Emmm… aku… aku belum…”


Aldoura tak tau harus memberikan jawaban seperti apa kepada Pangeran.


“Apa Ra cepat katakan?.”


“Aku… tidak tau.”


“Kenapa tidak tau Ra?, aku ganteng loh.”


“Ye… kamvret emang ya masih sempat-sempatnya bercanda.”


“Makanya cepat jawab iya kenapa lama sekali.”


Aldoura bergegas bangkit dari tempat duduknya kemudian mendorong Pangeran yang sedari tadi menghalangi pandangannya di atas meja.


“Main ke rumah tanya sama ayahku.”


Ketika pinyu ruangan tertutup, Aldoura tak lagi nampak di pandangan Pangeran. Ia memilih pergi meninggalkan Pangeran dengan segala pertanyaannya yang semakin menambah pening kepalanya. Ia turun ke lantai satu lalu pergi ke minimarket di seberang jalan untuk mencari minuman dingin dan mie instan untuk makan siang.


“Ra mau kemana?.”


Tanya Abi sewaktu di depan gerbang.

__ADS_1


“Aku mau cari mi makan siang. Kau mau ikut?.”


“Minimarket?, ayolah aku ikut, Bang Radit ijin cari makan dulu ya di seberang.”


“Okay.”


Keluar dari minimarket Aldoura segera menenggak minuman dinginnya. Tenggorokannya terasa sangat kering setelah ngobrol dengan Pangeran tadi. Hanya dalam hitungan detik saja air satu botol habis olehnya hingga membuat Abi bengong menatapnya.


“Neng, dari kemarin kau belum minum ya?.”


Tanya Abi heran.


“Parah Bi, kamu tau apa yang Bos baru saja lakukan kepadaku.”


Napas Aldoura sampai terengah-engah kemudian mengeluarkan satu botol minuman yang masih disegel dari kantung kresek belanjaannya lalu menenggaknya.


“Kau naik posisi?, atau dipromosikan jadi manajer gitu?.”


“Bukan Bi bukan.”


“Terus apa neng?.”


Semakin Aldoura mengulur waktu menjawab pertanyaan Abi, maka semakin penasaran pula ia terhadap sahabat sepermainannya sejak kecil tersebut.


“Dia cium aku Bi.”


“Ha?!.”


Seketika air yang ditelan Abi seakan terhenti di tenggorokan hingga menutupi jalan pernapasannya, hanya dalam hitungan detik saja ipun terbatuk-batuk.


Jelas Aldoura terang-terangan. Ia lanjut menceritakan semuanya mulai dari tingkah dan ucapan aneh Pangeran beberapa hari yang lalu hingga ucapan terakhirnya sebelum keluar dari ruang kerjanya.


“Abis ini kau akan segera dilamar Ra, tunggu saja di rumahmu.”


Kata Abi yang seketika membuat Aldoura terkejut.


“Ha?... tapi aku belum menyetujuinya Bi, aku saja belum sempat memikirkan sola perasaan kepada dia.”


“Kau sudah bilang suruh dia temui ayahmu apa lagi yang kurang Ra?.”


Aldoura terdiam memikirkan kembali jika yang dikatakan Abi ada benarnya juga.


“Aku harus gimana?.”


...###...


“Neng tolong ke kamar sebentar temani Gilang. Mbak mau buatkan kopi buat mas Asep dulu.”


Perintah Amira sekejap membuat lamunan Aldoura terhenti. Ia melihat kakak iparnya tersebut sudah berada di ambang pintu kamarnya.


“Oke mbak Mir.”


Ia bergegas menjuju kamar gemoy Gilang. Diamatinya raja kecilnya yang tengah asyik bermain dengan mainan gantungnya. Kaki dan tangan Gilang nampak lincah bergerak tak mau berhenti seakan ingin meraih mainannya kemudian ketika mulai lelah ia berteriak dengan kencang seolah gemas dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


“Uuuuu gemoy sayang, lagi main ya… kok sendirian tante temenin ya.”


Kata Aldoura mendekati Gilang yang acuh terhadap kedatangannya.


“Mainannya lucu ya nak.”


Menatap gerak Gilang yang lincah membuat Aldoura kembali terbayang akan sosok Pangeran. Semua banyangan tentang kehidupan mereka di masa yang akan datang satu-persatu mulai bermunculan. Mulai ketika Pangeran datang ke rumah membawa orang tua dan keluarga besar untuk melamarnya, lalu masuk ke jenjang pernikahan, lalu mempunyai buah hati. Apa benar akan sedemikian rupa?. Perlahan Aldoura mulai bisa menguasai kenyataan kalau Pangeran menyukai dirinya dan mulai bisa menerimanya. Apakah terlalu cepat?, entahlah sepertinya iya tapi kedekatan mereka berdua sudah tidak bisa dikatakan baru lagi.


“Gemoy… nanti kalau tante menikah terus ikut sama suami tante, kita bakalan jarang ketemu dong.”


Ucap Aldoura sembari mengusap pipi tembam Gilang.


“Neng mau nikah ya?.”


Amira yang tanpa sengaja mendengar omongan Aldoura di samping Gilang segera menyambung pembicaraan.


“Ih apa sih mbak Mir, aku masih kecil tau baru berumur 21 tahun.”


Sanggah Aldoura. Wajahnya nampak memerah setelah ucapannya terpergok.


“Hahaha kayaknya ada yang lagi jatuh hati ini ya dek.”


Ucap Amira tersenyum seolah member isyarat kepada Aldoura untuk membongkar kisahnya.


“Mbak… kalau tiba-tiba ada pria yang datang ke rumah dengan tujuan menemu ayah gimana?.”


“Pria yang gimana dulu nih… kang galon, kang reparasi juga kalau datang ke sini yang dicari ayah neng.”


“Ih bukan, maksud Ora, dia nemuin ayah karena Ora yang nyuruh dia datang kemari.”


“Kamu kalau ngomong kok belibet ya…”


Amira semakin bingung dengan kalimat yang diucapkan Aldoura.


“Gini mbak, kan tadi siang temen kantor Ora bilang kan katanya suka sama Ora, nah akukan bingung mau jawab gimana yaudah aku suruh dia tanya sama ayah aja.”


Sejenak Amira memandangnya dengan terbengong antara kaget atau bahagia. Seorang adik perempuan yang dilihatnya sejak awal tak peduli dengan masalah percintaan tiba-tiba mengatakan demikian.


“Pasti Pangeran kan?,”


Tanya Amira untuk memperjelas.


“Iya.”


Aldoura menganguk mantap.


“Kamu suka dia atau tidak?.”


“Hmmm….”


Aldoura terdiam.


“Dasar, gitu aja pakek malu-malu. Asep sini!”

__ADS_1


“Eh mbak Mir aku lakban nih kalau ember.”


__ADS_2