
Malam minggu kali ini banyak anak-anak muda yang ngongkrong di sepanjang pinggir jalanan ada yang datang dengan teman-temannya dan ada pula yang datang dengan pasangan masing-masing, memenuhi tempat angkringan yang ada. Duduk sembari menikmati hangatnya kopi dan simpang siur suara lalu lalang kendaraan membuat suasana bertambah ramai.
“Kamu mau makan apa?.”
Tawar Aldoura ketika sampai di depan stand makanan.
Sejenak Pangeran terpaku melihat deretan gerobak yang bertengger di pinggir jalan dengan tenda yang dipasang di antara ruang kosong itu terlihat seperti hal baru yang baru Pangeran ketahui selama ini.
“Pangeran!.”
Panggil Aldoura menggoyangkan lengan kekasihnya tersebut agar lekas terbangun dari lamunannya.
“Eh kenapa Ra?.”
“Yeee… kamu mau makan apa?.”
“Biarkan ratuku saja yang memilih.”
Pangeran melempar senyum kemudian meletakkan kedua tangannya di pundak Aldoura, mendorongnya untuk memilih makanan apapun yang Aldoura inginkan.
“Oke kita beli nasi goreng, ikan bakar, telur gulung, mie, sama fresh milk… eh satu lagi gulalinya gaboleh lupa.”
“Hahaha apa perutmu ini karet perasaan tadi sudah makan banyak deh.”
“Kan aku makan satu jam yang lalu sayang.”
“Hahaha iya sayang.”
Puas berbelanja, Pangeran dan Aldoura mencari lesehan untuk menikmati makanannya yang masih hangat.
“Jadi Ra.”
Ucap Pangeran sebagai pembuka percakapan untuk memecah keheningan. Yang seketika itu pula membuat Aldoura hampir tersentak karenanya.
“Kamu kapan gemuknya sih makan banyak gitu?.”
Tatap Pangeran setengah cegukan melihat cara makan Aldoura yang terlihat seperti beberapa hari tidak makan apapun.
“Badanku sudah ideal tau jadi gaboleh kalau gemuk lagi nanti jadi gak seinbang.”
“Masa sih badan kayak lidi gitu?.”
__ADS_1
Sanggah Pangeran sedikit mengejek.
“Apa Pangeran bilang apa tadi?.”
Aldoura menaikkan dagunya dengan kedua mata yang melotot tak terima bersamaan dengan makanan yang masih setengah menyumpal mulutnya. Bukanya takut, Pangeran justeru gemas melihat tingkah bocah yang ditunjukkan Aldoura itu padanya.
“Pangeran mau aku patahkan lengannya sekarang?.”
“Hashhhhahahhhhh diam Ora diam gak aku kantongin baru tau rasa nanti.”
Dengan cepat Pangeran menyela Aldoura.
Tapi bukan Aldoura namanya kalau begitu saja cepat mengalah. Ia pun bergegas bangkit dan memukul Pangeran dengan kejam tak peduli sedang di mana dan ada siapa saja yang mengamati pertengkaran mereka.
...###...
Pukul 21.15, mereka pulang karena ada pembatasan waktu keluar malam di kota. Entah kenapa hari ini Aldoura masih ingin bersama dengan Pangeran hingga malam berganti jadi esok. Ada semacam rindu yang tak bisa di ungkapkan secara kata-kata. Berulang kali Pangeran menawarkan untuk mengantarnya pulang tapi ia tetap menolak.
Untuk menghindari kecanggungan di rumah, Pangeran mengajak Aldoura kea tap, tenpat dimana hanya dia yang bisa datang ke sana.
“Pangeran suka lihat bintang ya sampai punya tempat rahasia yang bisa lihat bintang langsung bintang-bintang di langit sana.”
“Aku datang kemari kalau sedang ingin menyendiri saja.”
Aldoura menatap Pangeran dengan melayangkan senyum manis yang tersungging di wajahnya. Cantik. Kata itulah yang pantas untuk diberikan kepadanya sekarang. Tak ada make up apapun yang menghiasi wajahnya yang putih bak salju, rambut dikuncir satu, dan pakaian kaos yang sedikit kebesaran namun membuatnya terlihat nampak berbinar. Entahlah mungkin itu juga yang membuat Pangeran mendadak melamarnya tanpa ada pernyataan apapun sebelumnya.
Pangeran menarik kepala Aldoura dan menyandarkannya di pundak kekar miliknya.
“Aku menyayangimu Ra.”
“Tanpa kamu bilang pun aku juga sudah tau.”
“Sejak awal bertemu sepertinya kamu tidak pernah ada pikiran ilfil kepadaku ya Ra?.”
“Eh engga lah… haha… justru aku penasaran dengan kamu dulu yang susah diatur, padahal udah jadi bos loh hahaha.”
“Iya mau gimana lagi, selama ini yang ada di otakku cuma game, game, dan game, game is my life hahaha… aku jadi tidak suka kehidupan karena terlalu banyak dibandingkan dengan adikku oleh almarhum papa, bahkan sampai sering sekali aku dipukul.”
Pangeran menghela napas panjang hingga memenuhi rongga dadanya yang kian lama terasa semakin sempit.
“Kamu Ra, sejak kecil apaun itu aku selalu mengalah kepada adikku, tapi papa hanya tau kalau aku cuma anak yang tidak berguna. Dan akhirnya aku tidak berniat untuk melalukan hal apapun bahkan temanpun aku tak punya dulu. Benar-benar kosong.”
__ADS_1
Imbuhnya.
“Jadi kamu bermain game seharian itu cuma sebagai pelampiasan?.”
“Iya sayang.”
Pangeran beranjak mencium kening Aldoura. Ia menarik pinggang Aldoura hingga badan mereka saling menempel.
“Pangeran lepasin!.”
Ucap Aldoura memberontak karena kaget.
“Kamu gapengen mamas jadi singa yang buas kan?.”
Tatap Pangeran sinis yang seketika membuat bulu kuduk Aldoura menjadi naik.
“Iya… cepat antar aku pulang.”
Sembari memasang muka masam Aldoura beranjak turun dari atap lalu mengemasi barangnya di kamar Pangeran.
Ia memasukkan bajunya sembarangan ke dalam tas tanpa melipatnya terlebih dahulu. Seperti anak kecil yang pura-pura kabur dari rumah karena tidak mendapatkan apa yang ia minta dari orang tuanya.
“Sayang dengarkan aku dulu.”
Pangeran mengenggam kedua tangan Aldoura yang uratnya semakin terlihat.
“Kau boleh datang lagi besok tapi tidak boleh menginap. Aku tau kamu masih kangen kan, aku juga, tapi gaboleh sampai marah-marah seperti ini dong kayak anak kecil.”
Ia mengusap rambut yang menutup jidat Aldoura kemudian melayangkan kecupan di sana.
“Ayo ih, nanti kalau sampai rumah lewat jam dua belas malam aku yang bakalan kena hukuman sayang.”
Jelas Pangeran yang perlahan membuat api kemarahan Aldoura mulai redup.
“Kalau begitu ayo bergegas aku juga sudah mulai mengantuk.”
Aldoura berjalan mendahului Pangeran yang bahkan masih sibuk mencari kunci mobil yang lupa dia letakkan satu jam yang lalu.
“Pangeran kuncinya sudah aku bawa.”
Ucap Aldoura ketika sudah berada di lantai bawah.
__ADS_1
“Aldoura awas kamu ya.”