Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Episode 15


__ADS_3

Aldoura setengah tertegun ketika melihat beberapa orang keluar dari mobil yang terparkir di halaman. Yang pertama adalah Pangeran lalu diikuti oleh seorang wanita paruh baya yang taka sing lagi baginya, dia adalah ibu Pangeran. Lalu muncul dari pintu mobil bagian belakang seorang lelaki yang nampak sedikit lebih tua dari ayahnya dan seorang wanita yang terlihat adalah istri dari lelaki itu, dan yang terakhir seorang pria yang nampak seumuran dengan Pangeran, dia menenteng beberapa paper bag berukuran besar yang entah apa isinya.


“Selamat sore Ra.”


Sapa Pangeran melemparkan senyum di depan Aldoura. Tidak seperti biasanya, Pangeran nampak jauh lebih tampan dan bersinar, namun sesuatu terlihat membuat hatinya risau. Hal itu dapa dilihat dari sorot matanya yang nampak gugup.


“Silakan masuk Bos, Om… Tante… masnya silakan masuk.”


Aldoura mempersilakan semuanya masuk dan mengarahkan mereka menuju ruang tamu yang sudah di rapikan.


“Ayah kamu mana Ra?.”


Tanya Pangeran ketika semua sudah duduk.


Sejak awal aldoura tidak mengira kalau Pangeran akan mengajak keluarga besarnya juga jadi ia sedikit gugup dan tidak terlalu fokus dengan ucapan Pangeran.


“Ra?.”


Kata Pangeran sekali lagi.


“Eh iya A… Ayah masih diperjalanan… emmm sebentar aku telfon dulu.”


Aldoura bergegas menuju dapur menghampiri Ibu dan Amira yang sibuk memasak.


“Ibu Mbak, kok Pangeran bawa keluarganya ke sini sih.”


Kata Aldoura mulai panik.


“Masa iya Ra?.”


Ibu segera mengintip dari balik tirai, dan benar saja di ruang tamu ada beberapa orang tengah duduk di sofa.


“Ini anak, ada tamu segini banyaknya kenpa tidak bilang sejak awal. Bicara yang jelas jangan setengah-setengah.”


Ucap ibu sembari mencubit lengan Aldoura karena tak mampu menahan kekesalannya.


“Aduh ibu, mana aku tau di kantor dia hanya bilang mau datang kemari aku tidak mengira bakalan mengajak keluarganya sekaligus.”


Bantah Aldoura.


“Nah kan bener, kamu mau dilamar itu Ra.”


Sela Amira semakin membuat jantung Aldoura berdegup tak menentu.


“Mbak Mir yang bener aja.”


“Ra, cepat telfon ayahmu… abangmu juga suruh dia pulang.”


Suruh Ibu, tanpa berpikir panjang Aldoura pun segera meraih ponselnya di atas meja.


“Halo, ayah cepat pulang ada tamu penting yang nyari ayah.”


Ucap Aldoura ketika telfonnya diangkat.


“Siapa?.”


Tanya Ayah dari balik telepon.


“Pangeran dan keluarganya yah.”

__ADS_1


“Ayah akan segera pulang.”


Tak lama setelahnya panggilan dimatikan dan Aldoura beralih memanggil Asep. Bordering, lalu terdengar seseorang mengucapkan salam dari kejauhan.


“Assalamualaikum.”


Katanya.


“Waalaikumssalam. Bang Asep cepat pulang dicariin ibu.”


Suruh Aldoura.


“Ngapain neng?... ini abang masih di jalan mau isi bensin dulu.”


“Oh yaudah bang, cepetan ya.”


Aldoura menutup panggilannya. Ia melihat ibunya tengah menghampiri keluarga pangeran dan mengajak mereka untuk ngobrol setelah membawakan minuman dingin.


Sementara itu, ia kembali membantu Amira mematangkan masakannya sambil menunggu Asep dan Ayahnya sampai rumah.


...###...


Semua diam, membuat suasana menjadi hening. Aldoura duduk diapit oleh ayah dan ibunya. Perasaannya sedikit gugup. Di sofa sebelah kanan ada Amira dan Asep duduk di sana bersama dengan Gilang yang sejak tadi sudah bangun dari tidurnya.


“Jadi Om… perkenankan saya di sini untuk melamar putri Om menjadi pendamping hidup saya.”


Ucap Pangeran memulai pembicaraan.


“Saya kembalikan saja semuanya kepada Ora. Dia yang berhak atas pilihannya.”


Semua pandangan beralih tertuju kepada Aldoura. Dengan perasaan mali-malu ia menganggukkan kepalanya.


Tanya Pangeran menyakinkan apa yang baru saja dilihatnya.


“Iya.”


Kata Aldoura melepas senyum hangat.


Dengan perasaan yang tak menentu, Pangeran mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya. Sebuah kotak kecil bewarna merah. Lantas ia membukanya dan mengambil isinya kemudian meraih tangan Aldoura yang dingin karena masih gemetar.


Cincin berlian yang dipesan khusus dari pembuat cincin ternama itu nampak cantik mendarat di jari manis Aldoura.


“Apa kau menyukainya?.”


Tanya Pangeran menatap Aldoura dengan dalam.


“Ini sangat indah, tentu saja aku menyukainya.”


“Syukurlah kau menyukainya.”


Pangeran kembali di tempat duduknya. Dan semua yang ada di ruangan ini mulai membicarakan mengenai hari penting acara pernikahan Pangeran dan Aldoura.


Di samping itu Amira yang mengamati Aldoura masih sedikit kaku, sesekali ia melepar senyum bahagia. Ternyata adik iparnya yang dia kenal selama ini sebagai anak yang acuh dengan hubungan asmara, mendadak dilamar oleh seorang pria tampan yang baik.


“Oh iya, jadi perkenalkan ini paman dan bibi saudara dari almarhum ayah saya, dan dia Bagus, adik kandung saya yang sekolah di Inggris baru kemarin dia datang.”


Pangeran memperkenalkan satu persatu dari keluarga yang menemaninya datang kemari.


“Jadi sebenarnya sudah sejak bulan lalu Pangeran mengajak saya datang kemari.”

__ADS_1


Ucap Ibu Pangeran menyambung.


“Benarkah?.”


Tanya Ibu Aldoura sembari tersenyum gemas melihat tingkah Pangeran yang malu-malu seperti anak kecil.


“Katanya takut keduluan hahaha.”


Timpal Ibu Pangeran, kemudian diikuti tawa satu ruangan yang kemudian memecah keheningan dan kekauan sore itu juga.


“Malu sama Ora bu.”


Ucap Pangeran lirih membari melirik Ibunya gemas.


“Memangnya kalau di kantor Pangeran bilang apa Ora?.”


Tanya Bibi Pangeran juga tak mau kalah menggoda Pangeran yang semakin memerah menahan malu.


“Pangeran jarang berbicara soal hubungan, lebih sering ngobrolin masalah game dia mah.”


Kata Aldoura sesekali melempar pandang kepada Pangeran.


“Ouh… benarkah?... anak ini memang susah kalau diajak bicara tapi giliran bicara ya gitu… langsung ke inti kan kaget tante.”


Ucap Ibu Pangeran. Suasan menjadi semakin panas ketika Bagus juga mulai ikut angkat bicara.


“Iya nih abang, baru aja Bagus nyampek rumah ngrebahin badan eh tiba-tiba datang tuh terus langsung bilang, eh besok temani abang mau mau nikah.”


Kata Bagus. Ia meneguk minuman sirup yang ada di depannya.


“Siapa yang nggak kaget coba, lelahnya belum ilang udah diajak ngomongin hal serius.”


Lanjutnya.


“Terus lagi ya….”


“Hus-hus sudah…”


Pangeran membungkam mulut Bagus dengan kedua tangannya, berusaha membuat adiknya tersebut untuk diam.


“Ternyata Bagas lebih banyak bicaranya ya daripada Pangeran.”


Ucap Ibu Aldoura.


Ketika obrolan sedang asyik-asyiknya, Amira datang dari arah ruang makan.


“Makanannya sudah siap ibu.”


Bisiknya ketika mendekati Ibu mertuanya tersebut.


“Oh iya, yasudah semuanya mari makan… sudah disiapkan sama menantu saya. Mari bapak ibu, Pangeran, Bagus.”


Ibu mengajak semua untuk beralih menuju ruang makan untuk makan bersama.


Obrolan berakhir ketika semua mulai menyantap makanannya masing-masing. Aldoura sengaja duduk di dekat Pangeran untuk melayaninya mengambil makanan dan menuangkan minum ke dalam gelasnya.


Aldoura tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya dan Pangeran melihatnya dengan jelas ketika tangan Aldoura gemetar ketika menuangkan minumannya.


“Tidak apa santai saja.”

__ADS_1


Bisik Pangeran kemudian mengambil gelasnya yang sudah terisi air.


__ADS_2