Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Episode 6


__ADS_3

Siang ini suasana kantor berlangsung seperti biasanya, semua warga di gedung ini fokus dengan pekerjaan masing-masing.


Ada OB yang berlalu lalang mengedarkan kopi kepada seluruh pekerja kantor, karyawan yang sibuk dengan berkas di ruang foto kopi, ada yang sibuk bolak-balik mengangkat telephon dari klien, dan ada pula yang bolak-balik harus konsultasi soal laporan yang telah selesai dikerjakan. Dan yah… kau bisa bayangkan bagaimana suasananya.


Dengan terburu-buru, Pangeran kesana-kemari mencari Aldoura dan setelah setiap sudut ditelusuri ternyata dia ada di ruangannya, bersembunyi diantara tumpukan berkas yang belum sempat selesai dikoreksi olehnya yang setiap hari semakin bertambah banyaknya.


“Ra… kau disini ternyata, tadi aku datang kemari tak menyadari kalau kau ada dibalik tumpukan dokumen ini.”


Ucap Pangeran sembari mengatur napasnya, yang setengah tersenggal sehabis bolak-balik menuruni tangga kantor.


“Lah bos kalau belum jam pulang aku tidak keluar dari ruangan ini.”


Jawab Aldoura mendongakkan kepalanya.


“Kau habis bertengkar dengan kursimu apa bagaimana kenapa kau ada di bawah? Kalau ada klien datang bagaimana?.”


“Hahahah… kakiku pegal dudu di atas terus.”


“Oh iya?.”


Pangeran yang sedari hanya berdiri di ambang pintu, bergegas menghampiri Aldoura yang sibuk memainkan jarinya di atas papan keyboard di lantai.


“Di mana yang pegal?.”


Kata Pangeran, ia melepas hills Aldoura lalu memijit pergelangan kaki Aldoura, tapi tak dihiraukan oleh karyawan bak sahabatnya tersebut.


Diam-diam Pangeran mengamati mata Aldoura yang terfokus dengan layar laptopnya. Terlihat jelas gambar lelah yang dipaksakan. Aldoura benar-benar seorang yang bekerja keras, jauh berbeda dengan Pangeran yang isi pikirannya hanya game dan nongkrong dengan anak geng motornya. Bahkan menjadi CEO di perusahaan ini atas paksaan dari mamanya karena ia sebagai anak tunggal dan tak ada yang bisa dipercayai selain dirinya untuk mengelola perusahaan ini.


“Aduh!.”


Teriak Aldoura menyadari bahwa pijitan Pangeran terlalu keras. Dan baru diketahui oleh Pangeran, jika kaki Aldoura lebam.


“Kau habis main bola atau apa kenapa bisa lebam segini lebarnya?.”


Tanya Pangeran sedikit kesal, merasa kalau Aldoura begitu ceroboh dan acuh terhadap keselamatan dirinya.


“Kemarin aku terpeleset gergara jarang memakai hills.”


Jelas Aldoura masih mengacuhkan kakinya.


“Ra!, kau pikir ini tidak serius?.”


“Aku olesi minyak pijit nanti juga sembuh bos elah, ibuku aja gak sepanik elu.”


“Kamu tau gak orang yang sayang sama kamu tidak ingin kamu terluka. Kalau tidak bisa pakai hills, kantor juga tidak mengharuskan karyawatinya untuk memakai hills kok kenapa kamu nekat banget sih?.”


Ucap Pangeran tak bisa menahan kejengkelan dalam hatinya kepada Aldoura hingga tanpa sadar ia memijit kaki lebam Aldoura dengan keras.

__ADS_1


“Bos sakit!. Aduh.”


Dengan kasar, Aldoura menampik tangan Pangeran yang keras mencengkeram pergelangan kakinya, membuat bekas terkilirnya semakin parah.


Melihat raut wajah pangeran yang memerah karena kesal, seketika mata Aldoura serasa dipenuhi cairan bening yang semakin lama tak bisa dibendung oleh kelopak matanya.


“Ah, ma… maafkan aku, aku… aku tidak sengaja.”


Ucap Pangeran sedikit memundurkan badannya sembari mengepalkan tangan kanannya di atas lantai.


“Lain kali aku akan berhati-hati bos tenang saja.”


Kata Aldoura sesenggukan sembari memegangi luka lebamnya.


Perasaan bersalah dan kesal bercampur aduk memenuhi relung hati Pangeran. Ia tak tega melihat Aldoura yang menangis karena perkataannya dan perlakuan buruk yang tak disadarinya barusan. Dengan rasa bersalah, ia menarik tangan Aldoura kemudian mendekapnya dengan erat.


“Aku tidak sengaja membuatmu menangis, maafkan aku.”


Bisik Pangeran.


“Tidak, aku memang ceroboh.”


“Heiii… coba lihat mataku.”


Pinta Pangeran melepaskan pelukannya lalu memegang tangan Aldoura dengan lembut. Aldourapun segera menurut untuk memandang mata Pangeran.


Pangeran mendekatkan wajahnya di samping telinga Aldoura.


“Aku peduli denganmu.”


Bisiknya kemudian bergegas bangkit keluar dari ruang kerja Aldoura.


...###...


Sore ini hujan kembali mengguyur kota Bandung. Di teras rumah, Aldoura nampak merenung sendirian. Pikirannya berulang kali mengembalikan ingatannya kepada kejadian sewaktu di kantor tadi siang. Kata peduli yang diucapkan Pangeran terakhir kali sebelum meninggalkan ruangannya seakan terus terngiang di benaknya.


Ia menyadari bahwa sikap bosnya tersebut amat jauh berbeda dari sewaktu awal diangkat sebagai CEO muda di perusahaan. Pangeran yang terlihat kaku dan sombong, sampai Aldoura harus bersusah payah membujuk agar mau berbicara dan berperilaku bijak terhadap perusahaan karena dia adalah bos. Hingga akhirnya Aldoura bisa berteman akrab dengannya.


Tapi hari ini Pangeran menunjukkan sesuatu yang berbeda dari biasanya. Kenapa dia bisa kasar padahal Aldoura yang terluka, lalu kenapa? dia memeluk Aldoura dengan perasaan yang teramat bersalah?. Seolah semua pertanyaan yang bermula dari kata kenapa muncul bergantian di hari Aldoura.


Aldoura menghela napas lalu menyenderkan tubuhnya di tembok rumah, sembari memejamkan kedua matanya ia enikmati setiap irama yang berasal dari butiran air hujan yang jatuh bergantian dari langit.


“Neng ngapain dingin-dingin di luar?.”


Aldoura bergegas membuka kembali matanya dan menyadari kalau Amira telah berada di sampingnya.


“Em mbak Mir.”

__ADS_1


Aldoura membenarkan posisi duduknya.


“Mikirin apa?.”


“Enggak kok mbak, cuma masalah kantor sedikit.”


Kata Aldoura sembari tersenyum kecut sembari menunduk. Ia tak bisa memandang kakak iparnya dengan hati yang tak tertata saat ini.


“Kamu ada masalah sama Pangeran?.”


Sampailah Aldoura pada puncak kegundahan hatinya yang tak bisa tertahan lagi olehnya. Dengan perasaan sedikit sungkan, ia mulai mengatakan semuanya.


“Hari ini Pangeran terlihat kesal denganku, sampai dia memperparah lebam kakiku mbak.”


Ucap Aldoura sembari memainkan kakinya di bawah tetesan air di pinggiran atap teras.


“Dia menyakitimu?.”


“Aku tidak tau, tapi dia bilang peduli denganku makanya dia marah besar kepadaku.”


Melihat Aldoura yang terus mengacuhkan keberadaannya, Amira tersenyum.


“Dia suka sama kamu tuh.”


“Ah tidak mungkin lah mbak Mir, aku ini cuma karyawan yang bekerja untuknya.”


Bantah Aldoura dengan cepat.


“Memang cinta harus memandang posisi?, cinta itu bagaikan air yang mengalir tanpa ada yang bisa menghalanginya, hoho masa muda yang indah.”


“Udah mbak Mir, tuh si gemoy nangis.”


Ucap Aldoura bergegas masuk ke dalam rumah. Ia hapal betul kalau kakaknya ini terus diladeni maka tidak akan habis satu kali 24 jam untuk mendengarkan seluruh ucapannya.


“Eh, neng gimana? aku belum selesai bicaranya malah ditinggal sih.”


“Bodo amat, mbak Mir sukanya ngomporin orang lagi pusing juga huuh.”


“Tapi aku bicara apa adanya neng.”


Asep datang dengan wajah kebingungan memandang Aldoura yang masam setelah berpapasan dengannya di ruang tamu tanpa berucap apapun.


“Kenapa lagi itu anak?.”


Tanya Asep ikut penasaran.


“Gak tau tuh.”

__ADS_1


Dengan muka masam pula, Amira segera masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan suaminya yang benaknya penuh dengan tanda tanya tersebut.


__ADS_2