Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Episode 16


__ADS_3

Seperti biasa seriap kurang dari 30 menit jam kerja dimulai, Aldoura sudah tiba dii kantor duluan. Ketika melewati lobi utama, ia mengamati tiap pasang mata yang menatapnya dengan pandangan yang tidak seperti biasanya. Ada yang memandangnya kemudian berbisik kepada rekannya dan ada yang hanya sekedar memandangnya dan langsung berlalu, serta ada yang bahkan sama sekali tak peduli dengan kedatangan Aldoura.


Ya… siapa lagi kalau bukan Abi. Ia justru sibuk mengangkati barang-barang kantor yang sudah tidak terpakai ke dalam gudang dekat lift.


“Pagi Bi.”


Sapa Aldoura saat berada di depan lift.


“Pagi…”


Abi tak tau kalau yang menyapanya barusan adalah Aldoura. Ia mengangkat wajah, mengamati sepasang bola mata yang sedari tadi memperhatikannya.


“Eh bu bos nih hahaha.”


Ucap Abi kemudian tertawa.


“Loh Bi… emang semua orang udah pada tau ya?.”


Tanya Aldoura sediki mendekati Abi dengan berbicara lirih.


“Masa iya nggak tau sih Ra, di kantor ini kita kan keluarga ya kali nggak tau.”


“Malu Bi.”


“Kenapa malu neng… dasar kamu ini tolong minggir aku mau ambil barang di dalam lift.”


“Eh…”


Aldoura minggir sedikit karena Abi yang sembarangan berjalan hampir menabraknya.


“Selamat pagi ratuku.”


Ucap seorang pria yang taka sing lagi bagi Aldoura. Suaranya begitu nyaring tepat di samping telinganya. Iapun segera menoleh dan batang hidung mereka hampir bersentuhan. Sangat dekat, Aldoura meliaht jelas tatapan hangat dari kedua bola mata Pangeran yang begitu jernih, hanya ada dia di bayangan mata Pangeran. Aldoura sedikit mundur namun segera diikuti oleh gerakan Pangeran yang semakin maju.


“Em… bos tubuhmu menghalangiku.”


Ucap Aldoura kaku. Kini jantungnyapun ikut berdegup kencang hingga membuatnya sedikit kesulitan bernapas.


“Kau masih memanggil calon suamimu ini dengan sebutan Bos?.”


“A… aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?.”


Aldoura mengerjap-kerjapkan matanya. Kedua tangannya sontak ikut terangkat dan mendaratkannya di dada Pangeran. Berusaha menghalagi Pangeran untuk mendekatinya.


“Panggil aku sayang dong. Kau ini bagaimana haih…”


Dengan wajah kesal, Pangeran bergegas menegakkan badannya sembari meletakkan tangnannya di pinggang.


“Sayang?, panggilan apa macam apa itu?.”


“Hah?, panggilan apa yang bagaimana?, yang sweet dikit kek kangen nih.”


Ucap Pangeran dengan muka manja.


“Girrrr minggirrrr barang panas nih.”


Kata Abi ketika melewati meraka berdua.


“Ampun bang hahaha.”

__ADS_1


Ucap Pangeran sembari tertawa kemudian dia berlalu sembari menarik Aldoura dan membawanya ke dalam ruangannya.


Aldoura terpaku manatap Pangeran yang bertingkah kekanak-kanakan kepadanya hari ini. Bukan karena tidak suka, tetapi lebih merasa gemas seolah tangannya member isyarat untuk memukul pria tersebut atau mencubit lengannya dengan keras suapaya cepat sadar atau yang lainnya, tapi masih sempat Aldoura tahan karena ia tau kalau Pangeran tengah baik-baik saja tidak sedang terkena halusinasi atau yang lainnya.


“Sayang kemarilah.”


Kata Pangeran menatapnya dari balik laptopnya yang menyala di atas meja.


Aldoura terpaku tak menjawab ucapan Pangeran.


“Kau ini, aku merindukanmu sejak beberapa hari yang lalu setelah pulang dari rumahmu.”


Pangeran bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Aldoura untuk mengantarnya di kursi.


“Pangeran.”


Kedua bola mata Aldoura membulat ketika mengetahui wajah Pangeran semakin dekat.


“Apa yang bisa kulakulan ketika rindu aku hanya bisa memikirkanmu.”


Pangeran mendaratkan bibirnya dan Aldourapun ikut merasakannya.


“Aku mencintaimu Ora.”


“Akupun demikian Pangeran. Aku tak pernah merasakan cinta seperti ini sebelumnya. Aku menyayangimu.”


Sambung Aldoura kemudian memeluk Pangeran dengan erat seolah ia tak ingin berpisah dengannya.


“Em… neng aku harus menyelesaikan pekerjaan supaya kita bisa pulang lebih awal dan makan siang bersama di restoran biasa kita makan.”


Seketika Aldoura membuka matanya lebar, ia baru sadar kalau sekarang adalah jam kerja. Kehangatan pelukan pangeran dan harum bau bajunya membuat Aldoura semakin terbawa olehnya.


“A… aku pergi ke ruanganku.”


...###...


Ketika tengah fokus mengoreksi berkas satu-persatu, seseorang datang dan mengetuk pintunya.


“Masuk.”


Ucap Aldoura tanpa memperhatikan siapa orang yang masuk ke dalam ruangannya.


“Neng ada paket buat kamu.”


“Eh Abi…”


Dengan riang, Aldoura meletakkan berkas yang dupegangnya sembarangan lalu bergegas mengambil box bersampul cokelat yang dibawa Abi dan segera membukanya dengan riang. Senyum yang melengking dibibirnya seolah tak bisa menutupi rasa bahagianya saat ini. dan Abi melhatnya dengan jelas.


“Apaan tuh neng?.”


Abi sekit mendekat penasaran dengan isi paket yang membuat teman sejak masa kecilnya tersebut merasa begitu gembira.


Ketika segelnya terbuka, Aldoura lantas mengeluarkan seluruh isi paket dan meletakkannya di atas meja.


“Aku pesan kemeja dan jam tangan ini untuk hadiah ulang tahun Bos yang seharusnya aku berikan kemarin.”


Abi mengamati kedua barang tersebut, ia sedikit menelan ludah ketika melihat merk ternama pada jam dan kemeja tersebut.


“Berapa bulan gaji yang disisihkan Ora untuk barang semewah ini?.”

__ADS_1


Batin Abi. Iapun segera menegakkan pandangannya kembali.


“Mukamu gitu amat Bi hahaha.”


Aldoura tertawa melihat Abi yang nampak terkejut.


“Hahaha tenang saja, ini semua barang diskon… lumayan sih aku lihat diskonnya cukup banyak so I buy it.”


Abi tersenyum kecut ketika mendengar pengakuan Aldoura.


“Neng… kirain kan lagi banyak duit eh taunya masih kejar promo heuhhh.”


“Hahaha hemat itu pangkal kaya Bi. Bergaya semampunya aja yekan… elah kita kan udah 22 tahun bareng terus masa nggak kenal aja sama sahabatmu ini.”


Aldoura memainkan matanya seolah tengah mengejek Abi yang masih terlihat kesal.


“Hihhhh.”


Abi mengangkat kedua tangannya seakan-akan meraih hidung Aldora karena tak kuat menahan kesalnya tapi segera Aldoura beranjak menepisnya.


“Eittt apa lu Bi… dah sono balik kerja lagi.”


“Huuuu… yak.”


Abi bergegas pergi dari ruangan meninggalkan Aldoura yang kembali fokus dengan pekerjaannya lagi.


...###...


Pukul 13.45


Pangeran sengaja mengajak Aldoura untuk pulang duluan. Seperti janjinya pagi tadi di ruangannya.


Mereka berhenti di salah satu restoran yang terkenal dengan hidangan khas dan harganya yang lumayan di jantung kota ini.


“Kau mau makan apa Ra?.”


Tanya Pangeran ketika pelayan restoran meletakkan buku menu di atas meja.


“Aku pingin kepiting.”


Jawab Aldoura tanpa melihat isi daftar menu terlebih dahulu, seolah ia telah hapal betul menu apa saja yang restoran ini sediakan.


“Kenapa tiba-tiba Ra?.”


Pangeran menatap Aldoura terkejut.


“Kenapa?.”


Tanya balik Aldoura kepadanya.


“Kau suka makanan laut?.”


“Yup… tentu saja aku suka. Memangnya kenapa?.”


“Aku alergi dengan kepiting.”


Pangeran menunduk malu. Wajah merahnya tak bisa disebunyikannya dari Aldoura.


“Hahaha… sayang tidak apa kok. Kau bisa pesan yang lain kan, tidak harus sama denganku.”

__ADS_1


Aldoura terkikik. Selama ini mereka selalu memesan makanan yang sama saat bersama.


“O… Oke… aku pesan yang lain saja.”


__ADS_2