
Pagi-pagi sekali Pangeran datang menjemput Aldoura dengan mobil pribadi kesayangannya.
Pukul 04.30, Pangeran sudah berdiri di depan teras rumah bak maling. Ya… bayangkan saja jam segitu pastinya orang masih banyak yang tertidur pulas dan matahari belum menandakan kemunculannya alias masih gelap.
“Ouh… Sayang kenapa pagi begini kau sudah datang kemari.”
Ucap Aldoura dengan muka malas dan rambut acak-acakan ketika membuka pintu yang seketika membuat Pangeran terkejut.
“Kenapa kamu belum bersiap?.”
Tanya Pangeran tak henti memandang calon istrinya tersebut.
“Istriku pemalas.”
Batin Pangeran.
“Memangnya kita mau ke mana sih?.”
Aldoura masuk ke dalam rumah dan tak lama setelahnya diikuti Pangeran di belakangnya.
“Cepat bersiap, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”
Aldoura terperanjat.
Di luar masih gelap dan sepi, jam segini masih malas-malasnya buat bangun. Sekitaran jalanan di lingkungan ini banyak melewati hutan untuk sampai di kota.
Hei… jangan-jangan…
Sementara jantung Aldoura masih berdegup kencang karena kaget, ia bergegas menegakkan posisi duduknya.
“Kau mau membunuhku ya?.”
Kata Aldoura menajamkan pandangan.
“Memang ada gunanya kalau aku membunuhmu?. Aku bakalan dapat apa memangnya kalau sukses membunuhmu?.”
“Sayang… masih pagi aku masih ngantuk, lihat nih kantung mataku besar-besar kayak panda. Aku tidur dulu lagi ya. Sebentar saja ya ya ya… calon suamiku paling tampan setelah ayahku.”
Ucap Aldoura manja sembari memegangi tangan Pangeran.
“Tidak boleh sayang… cepat bersiap sana aku tunggu di mobil.”
Pangeran mendekat lalu mengelusa rambut Aldoura dengan lembut. Pria itu segera beranjak menuju keluar rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Ia menunggu calon istrinya di sana.
Sekitar 30 menit, Aldoura keluar dengan pakaian rapi nan anggun dipadukan dengan tas tangannya yang talinya hanya dikalungkan di pergelangan tangannya. Kulit putih dan rambut panjang yang terurai menambah kesan elegan untuk wanita itu.
Sejenak Pangeran tertegun dengan sosok yang dilihatnya dari dalam mobil. Kharisma yang ditunjukkan oleh Aldoura tidak seperti biasanya. Kali ini ia terlihat lebih memikat hati sang calon suami yang sedari tadi tak henti memandanginya.
“Mungkin karena masih pagi dan pandangan masih sedikit kabur.”
Celetuk Pangeran dalam hati kemudian beralih menghidupkan mobilnya.
Blammm!
Aldoura membanting pintu mobil dan mengambil tempat duduk tepat di samping Pangeran yang sedari tadi tampak tidak peduli dengan kehadirannya.
“Pangeran.”
Ucap Aldoura.
__ADS_1
“Hmmm…”
Jawab Pangeran acuh dan membuat wanita itu sedikit terganjal hatinya karena tidak diperdulikan olehnya.
“Sayang….”
Kali ini Aldoura menangkap dagu Pangeran kemudian memutar kepalanya hingga hanya ada bayangan gadis itu di matanya.
“Arggghhhh… kenapa hari ini dia cantik sekali.”
Batin Pangeran memberikan tatapan bingung.
“Aku cantik tidak?.”
Aldoura mengembangkan senyum termanisnya semari berkedip manja seperti anak kecil yang minta dipuji karena sudah bisa makan sendiri.
“Cantik kok… cantik banget tau sampai aku lupa kalau itu tadi calon istriku hahaha.”
Pangeran tergelak.
“Dasar cowok… pasti nih kamu bohong ya…”
Aldoura mengerutkan bibir merahnya. Menandakan kalau ia tak senang.
Ketika mobil akan melaju dari halaman rumah, Aldoura menghentikan Pangeran yang bersiap menginjak gas melaju ke jalan raya.
“Apa aku ganti baju lagi aja ya… soalnya aku gak pede pakek maroon begini.”
Ucapnya mengamati dress yang dikenakannya.
“Kenapa memangnya kok tiba-tiba?.”
“Dress ini terlalu formal.”
“Kamu tetep cantik kok.”
Ucap Pangeran menepuk pundak Aldoura dengan lembut.
“Gak usah ganti, kita cuma pergi sebentar kok.”
Imbuhnya. Membuat gadis itu segera mengurungkan niat untuk mengganti baju yang dikenakannya.
“Tapi.”
Aldoura memegang tangan Pangeran yang sontak menghentikan kegiatan menyetirnya. Memang ribet wanita satu ini.
“Aku sembunyiin kamu di bagasi mau sayang biar gak ada yang lihat?.”
Pangeran mengembangkan senyumnya seolah ingin mencekik Aldoura yang kelihatan polos tak berdaya.
“Iya deh nurut kata suamiku tersayang aja.”
Eh suami… Jantung Pangeran berdegup tak menentu. Kalimat itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari mulut Aldoura tanpa ia sadari dan membuat pria di sampingnya tersebut salah tingkah.
“Cih… baper dong.”
Aldoura tersenyum mengejek ketika memandangi Pangeran yang mukanya memerah.
“Siapa bilang baper. Kamu tuh.”
__ADS_1
Sanggah Pangeran nyeleneh.
“Kok aku sayang?.”
Aldoura mengernyitkan dahi tak mengerti.
Pangeran berbalik. Tubuhnya condong mendekati Aldoura. Wajah mereka nampak sangat dekat hingga napas keduanya saling terasa bertautan.
“Bagaimanapun kamu, tetap saja aku akan mencintaimu.”
Bisik Pangeran. Ia meletakkan tangannya di samping Aldoura, mencoba meraih sesuati di sana dan tak lama kemudian ia menariknya, mengikatkannya pada Aldoura.
“Pakai sabuk pengamannya nanti kalau kejedot baru tau rasa.”
Pangeran bergegas menjauhkan badannya dari Aldoura yang masih mematung hampir tak berkedip memandangi paras tampan dari seorang Pangeran yang berjarak tak lebih dari 5 cm.
...***...
Sekitar 45 menit perjalanan, tibalah mereka di depan sebuah butik kecil yang berjajar dengan toko-toko lainnya termasuk kafe dan mall. Pangeran memarkirkan mobilnya di samping dekat jalan masuk ke dalam butik.
“Kita fitting baju pernikahan di sini saja ya. Kata bunda ini butik langganannya jadi udah pasti bagus.”
Ucap Pangeran ketika membukakan pintu mobil untuk Aldoura.
“Iya Pangeran.”
Merekapun segera masuk. Ketika pintu terbuka, di sana mereka disambut hangat oleh sang desainer. Sepertinya sebelum datang kemari bunda Pangeran sudah member tahu pihak butik duluan.
“Selamat datang… ini mas Pangeran dan Mba Aldoura kan?.”
Sapa wanita yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari mereka itu.
“Iya. Saya kemari untuk fitting baju.”
“Ah iya… tentu saja saya sudah menyiapkan semuanya sejak awal. Marii ikut saya dan lihat desain yang telah saya persiapkan.”
Wanita itu bernama Yuli, terlihat dari name card yang menempel di bajunya. Pangeran dan Aldoura segera mengikuti Yuli meuju meja kerjanya. Ia memberikan buku desain besarnya yang kemudian disambut ceria oleh Aldoura.
“Silakan dipilih yang cocok menurut kalian.”
Wanita itu tersenyum melihat 2 pasangan muda di depannya nampak antusias memandangi tiap detail dari gambar desainnya.
“Kamu suka yang mana Ra?.”
Tanya Pangeran memecah keheningan. 15 menit mereka membolak-balikkan lembar demi lembar dari buku itu, tapi tak ada yang bisa dipilih.
“Semuanya bagus. Aku suka tapi sepertinya terlalu mewah buatku.”
Ucap Aldoura menutup bukunya lalu meletakkannya di atas meja. Reaksinya membuat Yuli tertegun. Baru pertama kali ini ia mendapat apresiasi yang membuatnya melambung tinggi namun seketika itu pula menjatuhkannya tanpa ampun. Tamparan keras atau kebahagiaan ia tak tau. Mulut Aldoura terlalu halus mengritik dirinya.
“Terus kamu maunya yang bagaimana Ra?.”
Pangeran mengernyitkan dahi.
“Aku pingin yang sederhana tapi kehilatan elegan. Mba Yuli bisa buatkan desainnya?.”
Yuli yang sedari tadi masih tertegun setengah tidak percaya mendadak kikuk ketika seluruh pandangan tertuju padanya.
“I… Iya akan saya buatkan. Mohon ditunggu ya.”
__ADS_1