Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Episode 11


__ADS_3

Hari yang cerah untuk melakukan aktivitas harian dengan penuh semangat hari ini. Ya… hari ini merupakan saat-saat sibuk ratu dengan pekerjaan di rumahnya. Mulai dari menyapu dilanjutkan mengepel kemudian setelahnya memasak, lanjut mencuci perabotan dan pakiannya, mengangkat kasur, mengganti galon air, menyiran tanaman, memindahkan lemari dan tempat tidur di kamarnya, setelah itu pergi ke minimarket untuk membeli stok sirup dan snack untuk kebutuhan harian.


Sebagai prempuan yang melepaskan pendidikannya sebagai seorang murid sekolah dan memilih otodidak, justru membuatnya harus bekerja lebih keras serta harus pandai membagi waktu dengan tepat. Tak ada kata malas dalam benak Ratu saat ini.


“Ratu selimut dan bed cover ibu taruh di bak cucian ya… jangan dikucek pakai mesin cuci saja ya.”


Ucap ibu di ambang pintu memrintah Ratu yang masih sibuk menjemur pakaian miliknya sendiri yang menumpuk beberapa ember.


“Iya.”


Belum sempat selesai mencuci selimut dan cucian yang milik ibu yang lainnya. Rat uterus dipanggil suruh ini dan itu hingga membuatnya kewalahan. Ternyata pekerjaan sebagai ibu rumah tangga bukanlah hal yang mudah terlebih di waktu akhir minggu seperti sekarang. Ternyata mimpi bisa jalan-jalan tiap weekend hanyalah impian konyol belaka.


“Ratu…”


“Ratu tolong ini nak.”


“Ratu pegangi tangganya sebentar ibu tidak bisa membetulkannya sendirian.”


“Ratu tolong ambilkan panci di rumah mbak Susi.”


“Ratu…


“Ratu…


“Hah… capek.”


Ratu membanting tubuhnya diatas sofa ruang tamu. Membiarkan paru-parunya mengambil oksigen dengan normal seperti biasanya dan meregangkan otot-ototnya supaya tidak kaku setelah ini.


Menatap langit-langit beraksen putih membuat pandangan Ratu terbaur kemudian terlelap.


“Heh neng perempuan gaboleh tidur pagi-pagi.”


Ucap ibu menepuk pundak Ratu hingga membuatnya kembali terjaga.


“Eh aku ketiduran ibu.”


Ratu mengerjap-kerjapkan matanya lalu menuju kamar mandi untuk membasuh muka, dan kembali ke dalam kamar untuk memulai kursus onlinenya dengan tutor Elsa. Sudah lama sekali ia menginginkan kursus programming ini tapi karena tak pernah diizinkan akhirnya ia hanya pasrah, tapi setelah benar-benar menyakinkan ayahnya akhirnya Ratu diperbolehkan mengikuti kursus berbayar dengan jumlah nominal yang cukup mahal dan bergengsi ini.


“Belajar yang serius nak. Jangan sampai tertinggal.”


Melihat putrinya yang tengah berjibaku dengan tumpukan buku dan menghadap layar PC yang besar membuatnya semakin bahagia, ternyata putrinya memang berniat belajar dengan keras.


“Iya ibuku tercuyung hahah.”


Celetuk Ratu berbalik memandang ibunya.


“Selesai kursus, ambil sendiri makanannya di dapur. Ibu ada arisan di rumah bu RT.”

__ADS_1


“Enggih Ndoro.”


Ucap Ratu sembari tersenyum mantap.


...###...


“Ratu… it’s first time that you join in this course yea.”


Sapa Elsa di pertemuan daring kali ini.


“Yes miss, nice to meet you and you all friend.”


“Hello Ratu, I am Alexa from Kannada.”


“I am Robert from LA, nice to see you too.”


“My name Joni from Japan.”


Satu persatu anggota dari kursus memperkenalkan diri mereka kepada Ratu. Semua terlihat sangat ramah terhadap anak baru yang baru bergabung. Dalam kursus ini seluruh anggotanya dari berbagai macam kalangan, dan saat itu juga Ratu merasakan yang namanya perbedaan dalam persatuan. Tak ada istilah memojokkan atau menendang antar anggota untuk keluar dari kursus. Bahkan Ratu kerap kali menerima pesan dari Alexa dan merekapun berteman baik dan berharap suatu saat mereka bisa bertemu di suatu pertemuan yang menyenangkan.


“What do you like from this course Ratu?.”


Tanya Alexa suatu ketika.


“Hummble, it’s more than make me happy and enjoy the study.”


“Yup, honestly I make some grumble about my study at school, but its no problem I can repair it soon.”


“Ratu… when you will came to Kanada?.”


“Soon.”


“Sure?, I’ll wait you Ratu hehe.”


Ratu dan Alexa sering berkirim email dan berdiskusi mengenai study yang mereka jalani. Mulai dari merancang pembuatan projek hingga bertukar pengalaman seputar kehidupan masing-masing, terkadang pula Ratu tak segan menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya.


...###...


“Ratu, teman kamu datang tuh.”


Ucap ibu sewaktu Ratu masih asyik menikmati makan siangnya.


“Siapa yang berani datang kemari?.”


Seketika nafsu makannya menghilang, bergegas Ratu keluar untuk menemui orang yang mencari Ratu. Ia kaget mengetahui yang datang adalah Elizia dan Angga. Mereka datang dengan membawa satu kantung penuh dengan oleh-oleh.


“Kalian ada apa kemari?.”

__ADS_1


Tanya Ratu membuka percakapan. Nampak Elizia dan Angga tersenyum hangat memandang wajah yang beberapa hari tak muncul di pelupuk mata mereka.


“Ah iya, silakan masuk dulu.”


Kata Ratu mempersilakan mereka masuk.


“Ratu, kamu balik ke sekolah ya.”


Pinta Elizia sewaktu di ruang tamu.


“Iya Ratu, Elizia tidak punya teman loh di sekolah.”


Sambung Angga membujuk Ratu.


“Aku tidak akan ke sekolah lagi El. Kamu cantik, pinter banyak yang suka sama kamu, aku yakin kamu bakalan dapat teman yang banyak El kamu jangan khawatir.”


Sanggah Ratu ketika menuangkan sirup ke gelas Elizia dan Ratu.


“Mereka semua palsu Ratu. Ingin berteman denganku karena ada maksud tertentu.”


Ratu terdiam. Semakin ia menolak makan semakin keras pula Elizia membujuk rayunya agar mau kembali ke sekolah.


“Ratu… kamu anak yang baik, kamu lihat ka nada yang peduli denganmu.”


Ucap Angga menatap serius hingga membuat Ratu tersipu malu.


“Aku tidak bisa, aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Aku tidak akan tertinggal dengan yang lainnya karena di rumah aku juga terus belajar dan mengikuti kelas kursus.”


“Tapi Ratu, kamu bisa kesulitan bersosialisai kalau ka uterus berdiam di rumah terus, bisa jadi tetanggamu juga tidak sadar kalau selama ini kamu masih hidup.”


Ucap Elizia.


“Bukannya sedari awal aku memang sudah memiliki masalah soal interaksi?. Anak-anak tidak menyukaiku dan aku hanya diperbudak oleh mereka, kau bayangkan 25 dari 30 murid yang ada selalu menyuruhku untuk mengerjakan PR mereka belum lagi ditambah aku bisa dipukul kalau sampai berbuat masalah. Jangankan membuat masalah El… aku diampun juga disiksa.”


Semua terdiam. Hening. Tak ada yang berani berkata apapun lagi dari Elizia maupun Angga.


“Aku masih bisa keluar kok El, tenang saja… kita bisa bertemu dan ngobrol bareng di kafe tempat mas Angga atau di perpustakaan kota atau di manapun selama tidak bertemu anak-anak yang suka menindasku itu saja.”


Lanjut Ratu.


“Jadi kita masih berteman kan?.”


Tanya Elizia, matanya berbinar seolah mengharapkan kabar baik akan segera datang.


“Iyap, kita kan sahabat El…”


Dengan mata berkaca Elizia memeluk sahabatnya tersebut. Perasaan bahagia tak bisa disembunyikan olehnya mengetahui bahwa Ratu masih mengakuinya sebagai sahabatnya dan mereka akan terus berteman baik sampai kapanpun itu.

__ADS_1


__ADS_2