
Jedarrrr!!!
Suara gemuruh bercampur petir terdengar saling bersahutan. Hujan deras mengguyur seisi kota sore ini. Namun kehidupan tiap orang terus berlanjut.
Nampak jauh di pinggir jalan dekat lampu merah seorang pria paruh baya yang berjualan sate. Ya… siapapun pasti akan merasakan lapar ketika membayangkan makanan yang berasal dari daging kambing yang cara memasaknya dengan ditusuk lalu dipanggan diatas bara api lalu disajikan lengkap bersama dengan nasi lontong dan saus kacang dan kecap.
“El, beli sate yuk lapar nih dari siang belum makan.”
Ajak Ratu. Suasana kafe sedang banyak pengunjung dan mereka harusnya belum boleh keluar kafe sebelum pukul 16.00, takut kalau sewaktu-waktu ada pelanggan yang datang dalam jumlah yang tak sedikit.
“Ratu, kita masih bekerja sekarang. Tidak boleh seenaknya keluar kafe dong.”
Bantah Elizia.
Setelah kedatangan Elizia dan Angga ke rumah beberapa waktu yang lalu, akhirnya Ratu mau berbaur dan berteman dengan mereka lagi dan lebih sering main di kafe, lalu akhirnya Elizia dan Ratu memutuskan untuk melamar bekerja sebagai waiters.
“Eh beneran, jam makan siang kita sampek kalah sama pelanggan yang datang karena hujan deras tadi. Aku benar-benar lapar El.”
Gerutu Ratu, dengan hati-hati ia memberikan pesanan kepada pelanggan yang duduk pada barisan kursi dekat jendela.
“El liat tuh, asapnya aja baunya sampai disini.”
Lanjutnya.
“Mana ada Ratu. Lama-lama kamu bisa gila loh.”
Kata Elizia sinis.
“Mas Angga ijin keluar sebentar yak muk beli sate.”
Ucap Ratu ketika berada di depan kasir.
“Yasudah silakan.”
Jawab Angga singkat.
“Siap mas Angga terima kasih.”
Dengan riang Ratu bergegas melepas celemeknya dan keluar dari kafe, sebelum membuka pintu diamatinya Elizia dengan tatapan sinis pula.
“Nitip.”
Kata Elizia kali ini tak lagi dapat menahan rasa laparnya.
“Cih. Oke.”
...###...
Sayup-sayup terdengar beberapa oramg berbicara di belakang Ratu. Seperti suara laki-laki dan perempuan yang tidak asing lagi baginya, tapi tidak terlalu jelas karena bertabrakan dengan suara hujan.
“Ratu.”
Kata suara perempuan itu. Seketika Ratu berbalik menoleh dan benar saja di sana sudah berdiri Cleo, Oca dan Farid. Dengan senyum seolah menghakimi, mereka melemparkan pandangan hanya tertuju kepada Ratu.
“Kenapa memanggilku?.”
Tanya Ratu dengan jantung berdebar. Traumanya akan tingkah semena-mena mereka beberapa waktu yang lalu masih membekas dan akan selalu menghantuinya ketika berhadapan dengan mereka.
“Kita mau minta pertanggungjawaban kamu lah.”
__ADS_1
Ucap Farid.
“Aku?.”
Tanya Ratu kali ini ia nampak kebingungan.
“Iya gara-gara kamu kita hampir di DO, untungnya orang tua kita cepat tanggap.”
Sela Oca tanpa pikir panjang.
“Hei…”
Dengan kasar Cleo memukul pundak teman akrabnya tersebut.
“Sakit.”
Teriak Oca sembari memegangi pundaknya.
“Pokoknya kamu harus minta maaf sama kita. Kamu yang salah.”
Ucap Farid segera menyela dan menghentikan pertengkaran mereka.
“Aku tidak pernah bersalah, jangan ganggu aku, pergi sana kalian.”
Ratu mengecuhkan mereka lalu kembali menunggu pesanan satenya yang sebentar lagi akan selesai dibuat. Menanggapi omong kosong mereka tidak akan pernah ada habisnya, jalan satu-satunya hanyalah dengan diam dan mengalah, tapi bukan berarti menuruti semua pembodohan yang dilakukan mereka.
“Hei Ratu, seberapa berat sih minta maaf aja?.”
Cleo sedikit memajukan langkahnya kemudia menarik rambut Ratu dari belakang.
“Ayo minta maaf.”
Melihat hal tersebut, bapak penjual sate yang nampak acuh dengan yang dibicarakan oleh mereka berempat, segera melerai Cleo.
“Neng jangan kasar-kasar atuh. Kalau kalian di sini cuma mau rebut mending pergi sana, atau bapak panggil orang-orang.”
Cleo terdiam begitu juga dengan Oca dan Farid. Tanpa mengeluarkan suara Cleo segera member isyarat kepada dua temannya tersebut untuk pergi dari tempat ini.
“Neng gak apa-apa?, kok diam bae dikasari gitu.”
Tanya bapak penjual sate kepada Ratu yang masih sibuk membetulkan tatanan rambutnya.
“Enggak kok pak, kalau mereka dilawan malah bakalan semakin menjadi.”
“Haih… dasar anak-anak masih labil.”
“Berapa pak?.”
Tanya Ratu ketika menerima kantung keresek yang penuh berisi beberapa tusuk sate tersebut.
“Dua puluh ribu aja neng.”
Ratu memberikan lembaran hijau bertulisakan Rp. 20.000 di dalamnya, kemudian bergegas kembali ke kafe.
...###...
Suasana kafe nampak sedikit lebih lenggang daripada 10 menit yang lalu ketika Ratu masih berada di sana dan melayani para pelanggan yang datang. Eliza dan Angga tengah duduk dan berbincang di dekat meja kasir sembari melepas lelah mereka.
“Hei Ratu kenapa lama sekali?.”
__ADS_1
Kata Eliza ketika menyadari kedatangan sahabatnya tersebut.
“Biasalah kan antri dulu tadi.”
Jawab Ratu dan mengeluarkan seluruh isi kantung plastik yang digenggamnya.
Sejenak Eliza tertegun ketika melihat baju Ratu yang basah padahal dia membawa payung yang cukup besar.
“Kok baju kamu basah Ratu?.”
Celetuk Eliza memandang Ratu sedikit penasaran.
“Oh ini tadi kecipratan sama mobil tuh yang lajunya kenceng banget.”
“Masa sih.”
“Iya El masa aku bohong.”
“Eh, satenya dianggurin gitu gak sayang tuh?.”
Kata Angga yang kemudian menyela obrolan serius Eliza dan Ratu.
“Aku beli tiga porsi, mas Angga ambil aja satu.”
Ucap Ratu.
“Wih mantap nih, makasih ya.”
Mereka menikmati sate kambing sore ini di dapur untuk menghindari pandangan-pandangan dari para pelanggan karena mengingat tempat ini adalah kafe dan tidak menyediakan sate.
...###...
Malam ini ditemani oleh camilan dan teh hangat serta alunan musik yang merdu, Ratu tengah asyuk terfokus dengan gadget dan buku-buku pelajaran miliknya. Hari ini tidak ada kelas online tapi dia tetap mempersiapkan materi untuk minggu depan.
“Nak, sudah malam kenapa belum tidur?.”
Tanya Ibu tanpa disadari sudah duduk di samping Ratu.
“Belum Ibu, minggu depan ada presentasi dan aku harus belajar.”
“Mau cerita sesuatu tentang hari ini?.”
Sejenak Ratu terdiam. Hening. Pikirannya hanya tertuju pada kejadian sore tadi yang dilakukan Cleo kepadanya. Tapi rasanya hal seperti itu tidak harus dia ceritakan sekarang.
“Kenapa terdiam?.”
Dengan lembut, Ibu membelai rambut Ratu. Seperti sudah memiliki feeling sejak awal kalau ia melihat anaknya habis melalui hal buruk hari ini.
“Katakan sama ibu nak.”
Ratu melepas headset yang melekat di telinga, lalu membenarkan posisi duduknya.
“Sebenarnya tadi Ratu dijambak sama Cleo Ibu.”
Sedikit demi sedikit, Ratu ungkapkan semua kejadian yang habis dilaluinya. Tak cuma sekali pula Ratu mengeluarkan air matanya karena tak sanggup menahan resah yang memenuhi rongga dadanya.
“Tidak apa-apa, lain kali kamu harus lebih berani melawan supaya mereka tidak semakin kasar denganmu ya.”
Ibu memeluk Ratu dengan erat.
__ADS_1