Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Episode 14


__ADS_3

Hari minggu seperti mimpi tentang keberadaan realitanya bagaimana tidak, waktu seolah berlalu begitu cepat dan kembalilah kita pada hari senin kembali. Di mana anak sekolah mulai mempersiapkan acara upacara bendera, para guru kian mempersiapkan pengajarannya, para pekerja kantor mulai sibuk dengan tugas masing-masing, serta seluruh pekerja dari segala aspek yang memulai hari barunya senin ini.


“Mbak Rika tolong cappuccino-nya satu ya.”


Pinta Aldoura ketika melihat Rika yang selaku OB baru di kantor lewat di depan ruangannya.


“Siap mbak.”


Jawab Rika singkat kemudian segera berlalu.


Pukul 09.00 Aldoura harus bertemu dengan klien. Mereka mengadakan janjian untuk saling bertemu di kafe Perempatan sama seperti ketika ia bertemu dengan klien sebelum-sebelumnya.


Aldoura telah mempersiapkan semuanya dan siap untuk berangkat menuju tempat pertemuan. Ia mengambil beberapa map di atas meja dan tak laupa membawa tas yang diletakannya di dekat kursi.


“Ora.”


Ucap Pangeran ketika mengetahui Aldoura akan pergi ke luar.


“Iya bos?.”


Aldoura menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap bosnya tersebut.


“Setelah selesai dengan urusan klien nanti kau segeralah pulang.”


“Tapi kenapa bos?. Apa kau dipecat?.”


Seketika jantung Aldoura berdegup dengan kencang.


“Tidak-tidak, hari ini aku memiliki niat baik untuk datang ke rumahmu dan aku berharap kamu ada di rumah.”


“Hah?. Niat baik apa bos?.”


Aldoura masih belum bisa mencerna kalimat Pangeran dengan tepat.


“Nanti kamu bakalan tau sendiri kok bilang ya sama ayah dan ibu kamu di rumah.”


“Ah… ha… oke bos nanti aku kabari kalau sudah sampai rumah, tapi sekarang aku harus pergi.”


“Oke pergilah.”


Pangeran termenung melihat Aldoura yang berlalu dari hadapannya. Mengamati wanita cantik yang dipikirannya hanya pekerjaan, ia berusaha untuk menjadi perfectsionis ketika berurusan dengan pekerjaannya, tapi sangat ceroboh dengan keadaan dirinya.


“Gadis bodoh, lihat saja sebentar lagi akan ada yang memperhatikanmu.”


Gumam Pangeran melepaskan senyumnya kemudian bergegas pergi.


...###...


“Selamat pagi.”


Sapa Aldoura kepada seorang pria yang tengah duduk di salah satu bangku kafe dengan beberapa berkas dan laptop menyala di depannya.


Pria itupun segera melemparkan pandangan sembari berdiri.


“Selamat pagi, saya Farid yang menghubungi anda kemarin.”


Lanjut ia memperkenalkan diri lalu mengulurkan tangan dan berjabat tangan.


“Aldoura.”


Balas Aldoura singkat sembari mengulun senyum.


“Sepertinya kita seumuran, bagaimana kalau kita bercakap secara non formal saja supaya lebih santai.”


Kata Aldoura ketika telah siap untuk melakukan diskusi.

__ADS_1


“Bolehkan?.”


Tanya Farid menyakinkan.


“Tentu saja kenapa tidak?.”


“Oke baiklah.”


Diskusi bberjalan dengan lancar. Tak hanya sekali dua kali Farid melempar pandangan kepada Aldoura. Ya… lagi pula lelaki mana yang tidak akan terpikat dengan karismanya yang elegan dan cantik terlebih dengan dress maroon yang dipadukan dengan lipstick merah yang membalut bibir manisnya tambah memberikan efek anggun dan cantik. Aldourapun sebenarnya juga menyadarinya, tapi tak sedikitpun dipedulikannya.


“Kamu dulu dari SMA 1?.”


Tanya Aldoura memecah keheningan di sela-sela keseriusan.


“Iya… apa kau dulu juga lulusan dari sana?.”


Tanya balik Farid.


“Iya, seharusnya kita satu angkatan tapi sepertinya kau tidak ingat denganku.”


Farid terdiam sembari menggelengkan kepalanya.


“Kau datang di reuni?.”


Tanya Aldoura sekali lagi.


“Tentu saja, aku harus menemui teman-teman lamaku, aku osis dulu.”


“Oho baiklah.”


“Kau juga harus datang ya.”


“Akan aku usahakan.”


“Ibu ayah ada di rumah?.”


Tanya Aldoura sewaktu ibu mengangkat telfon darinya.


“Ayah baru akan pulang setelah 2 jam lagi. Memangnya ada apa?.”


“Bosku akan datang ke rumah. Aku tidak biasa menerima tamu pria dan aku tak tau bagaimana cara untuk menerima tamu dengan baik ibu.”


“Baiklah, biar ibu telfon ayahmu segera.”


“Iya ibu.”


Tuuuutttt….


Panggilan dimatikan, Aldoura bergegas mengemasi barangnya untuk pulang.


“Farid aku pulang dulu ya… sampai bertemu di acara reuni. Semoga saja kita bisa bertemu lagi.”


“Iya Ora.”


...###...


Di rumah sepi. Tak ada siapaun di dalam, entah kemana semua pergi tapi perasaan kesal muncul sedikit memenuhi relung hatinya. Amira yang biasanya sore begini menggendong Gilang di teras rumah juga tidak nampak olehnya, begitupun Ibu yang selalu menunggunya pulang sembari menyirami tanaman di dekat pagar juga tak ada.


“Ini semua orang kemana kenapa sepi begini. Aku butuh bantuan untuk menyiapkan hidangan untuk Pangeran.”


Ucap Aldoura.


Bergegas ia membawa belanjaannya masuk lewat pintu belakang yang akan mengarahkannya ke dapur.


Di dapur gelap dan hening menandakan memang tidak ada siapaun di rumah. Aldoura menghela napas lalu melampiaskan kekesalannya dengan mengacak sembarang rambutnya. Lanjut ia mengambil ponselnya dan mencari nama yang betitu taka sing lagi dalam otaknya.

__ADS_1


“Halo… ibu di mana kenapa tidak ada orang di rumah.”


Kata Aldoura.


“Ibu masih di posyandu menemani Gilang. Ayah belum pulang memangnya?.”


“Belum.”


“Iya, sebentar lagi kita pulang.”


“Cepat ya ibu, Ora tidak bisa masak sendirian.”


Pukul 15.45


Sebentar lagi Pangeran akan tiba. Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, ia meletakkan barangnya di sembarang tempat di pojok ruangan dapur dan bergegas mengeluarkan seluruh belanjaannya di atas meja untuk memisahkan antara buah, camilan, sirup, dan bahan makanan untuk di masak seperti sayuran, daging, dan pelengkap lainnya.


“Kamu belanja banyak banget Ra?.”


Tanya ibu ketika sampai. Ia melihat putri bungsunya yang tengah sibuk dengan sup yang tengah dimasak diatas kompor.


“Iya ibu, kalau Ora ke rumah Pangeran biasanya di masakin yang enak-enak, masa giliran dia ke sini cuma di kasih orek tempe kan kasihan.”


“Yasudah kamu mandi sana biar ibu gantikan dulu.”


“Siap ratuku.”


Aldoura melepas celemeknya dan bergegas mengambil barangnya untuk dibawa ke kamarnya.


“Ibu, terongnya jangan dimasak, pangeran tidak suka itu.”


Pesan Aldoura di depan pintu dapur.


“Terus kenapa dibeli?.”


“Aldoura pengen beli, itu dimasak buat besok saja.”


“Itu Pangeran kemari mau ngapain bu?.”


Tanya Amira mendekati ibu yangt tengah memotong daging.


“Kok ibu lupa nggak tanya ya Mir. Ora bilang terus ibu iyain aja.”


“Kayaknya heboh banget dia dari tadi.”


Kata Amira, ia nampak memainkan bola matanya seperti tengah memikirkan sesatu.


“Apa jangan-jangan…”


Lanjutnya semakin membuat penasaran melihat sikap Amira yang suka menebak-nebak.


“Kemarin dia bilang kalau Pangeran suka Ora. Bisa dipastikan sih kalau…”


“Mbak Mir udah pulang?.”


Sapa Aldoura yang tanpa disadari telah berada didekat mereka.


“Baru aja nih Ra. Pangeran nagapain ke sini?.”


“Oh… itu katanya tadi mau…”


Pip…pip…


Terdengar suara klakson dari mobil mewah yang sengaja dibunyikan seseorang dari luar.


“Eh, sepertinya itu Pangeran. Aku bukain pintunya dulu ya.”

__ADS_1


__ADS_2