Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Chicken and Cola


__ADS_3

Seperti biasanya, Pangeran sudah menunggu Aldoura di ruang kerjanya. Tak perlu menunggu lama, wanita 23 tahun tersebut segera menghampiri kekasihnya tersebut dengan pelukan hangat sebagai pembuka semangat hari baru di bulan April ini.


“Selamat pagi sayang.”


Ucap Aldoura setelah berada di pelukan Pangeran.


“Selamat pagi juga sayang.”


“Kertas apa ini?.”


Aldoura mengambil secari kertas putih yang sejak tadi ada digenggaman Pangeran. Itu adalah surat undangan reuni yang didapatnya beberapa bulan yang lalu. Ternyata masih ada di sana rupanya, padahal ia sudah menyurus Abi untuk sekalian membuangnya ketika mengambil beberapa berkas yang sudak tak digunakan lagi waktu itu.


“Kau datang?.”


Tanya Pangeran meletakkan tangannya di pinggang ramping Aldoura.


“Tidak, aku bahkan terlalu sibuk untuk datang ke acara reuni itu.”


Aldoura tersenyum.


“Apa kamu pernah sekolah di SMA yang ada di surat itu?.”


“Bahkan aku juga tidak ingat. Bukannya aku sudah menceritakan semua riwayat hidupku mulai sejak kecil hingga dewasa Pangeran?.”


“Memang benar sih… ah sudahlah kau sudah makan?.”


Aldoura hanya menggeleng.


“Mau kupesankan makanan?.”


Tawar Pangeran ia pun mengeluarkan gawai miliknya dari saku celananya dan mulai memesan makanan melalui aplikasi khusus pemesan makanan secara online.


“Cickhen dan cola?.”


Tawar Pangeran sekali lagi sebelum ia mengakhiri transaksinya.


“Boleh.”


“Sudah, kau tunggu di sini saja nanti makanannya datang. Kalau begitu aku pergi dulu ya.”


Pangeran melepaskan pelukannya kemudian beranjak pergi dari ruangan yang berukuran sekitar tiga kali empat tersebut. Meninggalkan Aldoura dengan kertas undangan reuni misterius. Sebenarnya ada sesuatu yang membuat Pangeran penasaran adalah ketika Aldoura membicarakan hal aneh yang bahkan tak ia ketahui apa maksudnya. Seperti memanggil anak yang bernama Selly, Mas Angga, Alexa. Dan setelah beberapa menit berlalu ketika Pangeran balik bertanya siapa ketiga anak tersebut, Aldoura justeru menggeleng kebingungan.


Hal yang masih menjadi rasa penasarannya adalah masa lalu Aldoura yang sebenarnya. Hilang ingatan, itulah yang terpikirkan olehnya saat ini.


...###...


“Pakettt!!!.”


Teriak seseorang dari luar dan Aldoura terlalu malas untuk sekedar embukakan pintu.


“Masuk saja.”


Suruh Aldoura malas.


Krittt!!!


Pintu terbuka perlahan menimbulkan suasana sedikit mencekam terlebih kantor sedang sepi-sepinya siang ini.


“Yeeee dasar tuan putri, yang mau makan siapa yang disuruh kerja siapa.”


Ucap pria tersebut ketika sampai di depan meja Aldoura.

__ADS_1


“Eh Abi kirain siapa buka pintu aja sampek segitunya bikin merinding tau ga.”


“Salah sendiri pesen makanan gak cepet diambil dari tadi nangkarang di pos tau.”


“Eh… masa Bi?. Ga ada yang chat aku soalnya dari tadi.”


“Halah alasan wae kau ini. Nih dua puluh chat aku kirim bolak-balik.”


Abi memperlihatkan riwayat chat di ponselnya yang dikirim untuk Aldoura.


“Hehe Abi….”


Aldoura memperlihatkan deretan gigi putih miliknya.


“Apa?.”


Sela Abi bersungut.


“Yaudah kita makan bareng yuk banyak nih tadi Pangeran belinya. Colanya juga ada dua jadi pas buat kita berdua.”


Aldoura membuka kantung yang berisi makanan tersebut dengan riang dan mengeluarkan dua botol cola dari dalam.


“Eh macet kali ya otak kau. Yang pesan Pangeran, pastilah itu buat kalian berdua untuk makan.”


Abi menjitak jidat Aldoura sedikit keras hingga meringis kesakitan.


“Abi!!! Sakit tau… ini sengaja Pangeran pesenin buat aku dia pesan dua cola juga buat aku karena dia tau aku makan banyak jadi takut kurang.”


Ucap Aldoura mengembankan kedua pipinya yang mulai memerah.


“Makan gak!, kalau gak mau makan gausah jadi temanku lagi.”


“Abi!.”


Panggil Aldoura. Sedari tadi ia mengamati tingkah Abi yang terlihat gugup.


“Iya?, kenapa Ra?.”


Jawab Abi setengah kaget.


“Kamu kenapa kok keliahan gugup gitu?... takut kalau Pangeran lihat? Atau apa?.”


Abi menghentikan makannya kemudian meneguk cola yang ada di depannya.


“Iya Ra… masa kita makan berdua di kantor?... kalau di luar mah gak apa-apa tapi beda lagi kalau di sini.”


Jelasnya.


“Gak masalah kali Bi… orang-orang di kantor juga udah tau kan kalau kita berteman sejak awal. Aelah… soal Pangeran?, nanti aku bilang sama dia jadi tenang aja ya…”


Walaupun terkadang terlihat sedikit judes dan arrogant, tapi jiwa ramah Aldoura tidak bisa diragukan lagi terlebih kepada orang-orang yang selama ini sudah mengajarinya cara bertahan hidup.


“Kita kan sudah berteman lama. Jadi biasakan untuk bersikap non formal di mana saja ya Bi.”


Abi mengangguk dan mereka pun melanjutkan kegiatan makan siangnya.


“Eh Bi, kamu tau SMA ini?.”


Aldoura memberikan secarik surat tadi pagi selepas makan.


“Ini SMA kamu yang dulu kan?.”

__ADS_1


“Memangnya aku pernah sekolah di sana?.”


“Ya pernah lah Ra… kan sebelum kamu pindah ke sini kamu dulu sekolah di sana.”


Aldoura tertegun.


“Eh… kapan loh Bi?, memangnya aku pernah ngomong sama kamu?.”


Tanyanya penasaran.


“Enam tahun yang lalu sih tepatnya kamu bilang sebelum…. “


Belum sempat Abi menyelesaikan omongannya, kepala satpam datang untuk memanggilnya.


“Mas Abi tolong bantu angkat barang di bawah ya.”


Ucap pria paruh baya tersebut ketika berada di depan ruangan.


“Eh iya pak, maaf tadi makan dulu hehe…”


Abi segera beranjak dari ruangan dan turun ke bawah.


“Kita bergi duli Bu Ora.”


Ucap pria itu lagi.


“Jaga Abi baik-baik pak, suka kabur dia mah hahaha.”


Semabri berjalan Abi menatap Aldoura sembari melotot dan melayangkan kepalan tangannya yang kekar.


“Bayak omong lu.”


Bisiknya.


“Bodo amat.”


Memasang muka tak bersalah, Aldoura menjulurkan lidahnya dengan niat mengejek Abi, sama seperti apa yang ia lakukan 5 tahun yang lalu di sebuah acara pentas seni di lapangan dekat rumah.


Sejak dulu mereka memang jarang akur, akan tetapi saling menyayngi. Bagaimana tidak, Aldoura sudah menganggap Abi sebagai kakak sekaligus sahabatnya sendiri. Ketika anak-anak seusinya meninggalkannya, hanya Abi yang mau menerima dia apa adanya sebagai seorang anak perempuan yang masih belum memahami apapun.


Begitu juga dengan Abi, semenjak Aldoura menjadi tetangganya, ia tidak terlalu kesepian lagi dan punya teman yang bisa diajak kemana-mana. Ia senang ketika Aldoura mau menerimya sebagai saudara sendiri karena keinginannya memilik saudari akhirnya terwujud dengan kehadirannya.


“Sayang makanannya sudah datangkan?.”


Tanya Pangeran selepas Abi pergi.


“Eh sudah kok… tadi yang antar ke sini Abi terus aku ajak dia makan sekalian, kasian yang dia udah capek-capek anterin ke atas sini.”


“Loh… kok…”


Sejenak Pangeran Terdiam.


“Kenapa?.”


Tanya Aldoura was-was kalau Pangeran akan naik pitama.


“Kenapa tadi gak bilang sih kalau mau makan sama Abi juga, tau gitu aku bisa tambah lagi ayamnya.”


“Hehe udah cukup kok sayang. Terimakasih ya.”


Satu kecupan mendarat dengan tepat di pipi kanan Pangeran.

__ADS_1


__ADS_2