
Ketika akan pulang Aldoura nampak pucat dan hal ini disadari oleh Pangeran. Di depan lift Pangeran meletakkan tangannya di pinggang tunangannya tersebut berjaga kalau-kalau terjadi sesuatu.
“Ada apa?.”
Tanya Aldoura menyadari ada tangan besar yang memegang pinggangnya.
“Kau sakit?.”
Tanyanya kemudian melepaskan pegangannya mengingat mereka masih di kantor tidak enak jika ada yang melihat.
“Entahlah sejak habis makan tadi aku merasa tidak enak badan.”
“Kau keracunan?.”
“Sepertinya bukan karena itu tap…”
Mendadak pandangan Aldoura kabur ia sempat memegangi kepalanya yang terasa sakit, badannya mulai lemas dan merosot ke bawah lalu semuanya gelap, ia jatuh pingsan.
“Hei bangun.”
Pangeran segera menangkapnya dan buru-buru menggendongnya untuk dibawa ke rumah sakit. Ia semakin panik ketika lift di depannya tak kunjung terbuka.
“Ada apa pak kenapa Aldoura pingsan?.”
Tanya salah satu karyawati mendekat ketika melihat bosnya tengah panik sembari membopong Aldoura. Tak berselang lama karyawan lainpun ikut mendatangi mereka.
“Aku juga tidak tau.”
“Pak lewat tangga saja biar saya bantu.”
Ucap karyawan yang diketahui dari nick name dibajunya bernama Rian sembari menunjukkan jalan.
“Tidak usah saya bisa sendiri.”
Pangeran bergegas menuruni anak tangga dengan cepat dan tentu saja dengan berhati-hati. Diikuti oleh Rian dibelakangnya, pria tersebut juga nampak cemas melihat kondisi Aldoura yang semaki pucat.
Sesampainya dibawah, tak ada security yang berjada di tempat parkir. Biasanya mereka akan mengambilkan mobil Pangeran dan menyiapkannya di depan kantor.
“Haih dimana orang-orang tak berguna ini pergi.”
Gerutu Pangeran kesal.
“Pak, naik mobilku saja kebetulan saya parkir paling depan.”
Tanpa menunggu persetujuan, Rian berhambur mencari mobilnya yang benar saja terparkir paling depan. Tak perlu menunggu lama, mobil yang dikendarai Rian tiba di depan kantor. Pangeran bergegas masuk dan mobil melaju kencang menuju rumah sakit terdekat.
...###...
Pangeran tampak cemas di luar ruangan IGD, ia terus mondar-mandir didepan pintu.
“Apa yang terjadi denganmu Ora?.”
Gumamnya tak henti.
“Jika terjadi sesuatu aku pastikan tempat chicken tadi tidak akan berjualan lagi.”
Pikiran Pangeran hanya tertuju ke tempat pemesanan chicken dan cola tadi siang. Bagaimana tidak seharian ini Aldoura hanya memakan itu saja dan setaunya tidak memiliki riwayat sakit apapun.
Kriiiettt…
Pintu IGD terbuka, diikuti langkah kaki dokter yang siap dengan diagnosa hasil pemeriksaannya. Pangeran menatap dokter lekat seolah memberi isyarat untuk segera mengatakan sesuatu.
__ADS_1
“Apakah nona Aldoura pernah mengalami kecelakaan atau semacamnya di usianya yang masih muda?.”
Ucap sang dokter memecah ketegangan.
“A-aku tidak tau dokter, tapi setauku dia tidak pernah mengatakan mengenai kecelakaan.”
Degh… jantung Pangeran berdegup kencang.
“Tapi sepertinya dia memiliki cirri-ciri hilang ingatan akibat benturan yang sangat kuat tuan.”
Pikiran Pangeran berkecamuk, jadi selama ini ia berhubungan dengan wanita amnesia. Dan dengan seluruh ceritanya apakah wanita itu mengarang atau semacamnya, pasalnya ia tak pernah bertanya dengan keluarganya sama sekali.
“Dia sudah sadar, kau bisa melihatnya.”
Melihat tak ada tanggapan lain, dokter mempersilakan Pangeran masuk.
“Ora.”
Pangeran memegang tangan Aldoura yang masih lemas diatas tempat tidur.
“Kamu pernah kecelakaan?.”
Tanyanya dengan wajah merah padam.
“Akh… aku tidak ingat.”
Aldoura meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya kuat.
“Tidak masalah jangan terlalu banyak berpikir aku akan mengantarmu pulang.”
Mencium kening wanita didepannya kemudian memapahnya sampai mobil yang disana Rian sudah setia meunggu sejak 15 menit yang lalu.
“Kau tau rumanya?.”
“Saya tau pak, kita akan sampai 20 menit lagi.”
Jawab Rian kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Aldoura.
Di sepanjang perjalanan Aldoura terus merebahkan kepalanya di dada bidang Pangeran. Pangeran lantas membelai rambut hitam lembut wanita di sisinya itu.
“Kau mau buah?.”
Tanya Pangeran memecah kecanggungan dalam mobil.
Aldoura menggeleng. Ia sedang tak menginginkan apapun, tubuhnya masih lemas dan pikirannya hanya tertuju pada kasur empuk di rumahnya. Seluruh badannya terasa remuk dan ingin cepat-cepat merebahkannya.
“Aku tidak akan membiarkanmu sakit lagi sayang.”
Bisik Pangeran yang hanya dapat didengar oleh Aldoura saja. Lantas ia mengecup kening tunangannya tersebut.
Tak perlu 20 menit, kini mereka tiba di depan rumah. Pangeran berniat untuk menggendong Aldoura namun niat itu segera diurungkannya ketika niat baiknya itu ditolak mentah-mentah. Aldoura wanita yang cukup kuat apalagi mengingat ini didepan rumanya tentu saja tetangga akan melihatnya aneh.
“Dasar kau ini benar-benar membuatku naik darah ya baby…”
Bisik Pangeran geram. Rasa sayangnya begitu dalam hingga tak ingin membuat Aldoura kesulitan. Yah… sedikit possessive memang.
Tok… tok… tok…
Tak ada jawaban dari dalam rumah. Sepertinya tidak ada siapun di dalam.
“Ah… sebaiknya kau pulang saja, aku tidak apa-apa. Lagi pula sepertinya orang rumah sedang keluar.”
__ADS_1
Ucap Aldoura menyuruh Pangeran untuk segera pulang. Ia pasti kelelahan setelah pontang-panting membawanya ke rumah sakit.
“Kau mengusirku?.”
Ketus Pangeran mulai kesal.
“Maksudku bukan begitu.”
“Bagaimana aku bisa pulang dengan tenang melihat kondisimu yang seperti ini, terlebih tak ada siapun di rumah kalau terjadi sesuatu bagaimana?.”
Pangeran terlihat cerewet yang seketika membuat Aldoura terkekeh geli.
“Apa ada yang lucu nona Aldoura?.”
Pangeran mengerutkan keningnya.
“Tidak, kau terlihat menggemaskan kalau possessive begini sayang.”
Aldoura mengusap pipi kanan Pangeran dan berhasil membuat rona merah di sana.
“Lihat saja aku ingin memberikan sesuatu untukmu.”
Aldoura mengernyit tak paham. Lantas Pangeran bergegas untuk berbalik menghampiri Rian yang masih diam di dalam mobil.
“Rian aku sangat berterima kasih karena kau telah mengantar kami tadi.”
Ucap Pangeran dari balik jendela mobil milik Rian.
“Ya tentu saja pak.”
“Kau bisa kembali, aku masih harus menunggu orang tua Aldoura pulang dia sendirian di rumah.”
“Ah iya saya mengerti, kalau begitu saya pulang dulu pak.”
Tak lama mobil melaju keluar pekarangan rumah Aldoura. Tinggalah dua pasangan ini diteras.
Aldoura membolak-balik pot di dekat pintu mencari dimana letak kunci rumahnya disembunyikan.
“Akhirnya ketemu, ayo masuk.”
Aldoura segera membuka kunci pintunya dan mengajak masuk Pangeran. Mereka duduk di sofa ruang tamu. Hening seperti biasa, mereka masih saja malu-malu ketika tengah berdua.
“Emmm… kau ingin memberiku apa?.”
Tanya Aldoura malu-malu.
Cup
Aldoura terperanjat, ketika satu kecupan itu mendarat di bibirnya.
“Apa kita bisa?.”
Tanya pangeran sedikit sayu. Tentu saja Aldoura paham dengan apa yang dimaksud kekasihnya tersebut.
“Tidak bisa sayang, kita harus menikah terlebih dahulu lalu kau bisa meminta apapun kepadaku.”
Ia melayangkan satu ciuman di pipi kanan Pangeran.
“Aayolah… lagi pula beberapa minggu lagi kita akan menikah.”
Aldoura tekekeh melihat tingkah Pangeran yang seperti anak kecil.
__ADS_1
“Sini peluk saja ya.”
Ia menarik lengan besar Pangeran dan melingkarkannya di pinggang rampingnya. Pangeran menyenderkan kepalanya di bahu Aldoura dengan manja sembari menetralkan singanya yang siap menerkam kapanpun.