
Malam yang sunyi. Jam menunjukkan pukul 23.35 waktu Indonesia. Di kamar dengan nuansa abu-abu inilah wanita cantik yang tak lain adalah Aldoura tengah tertidur.
Tidak seperti biasanya, ia terlihat sangat tidak tenang, entah apa yang sedang dimimpikannya.
Keringat mulai bercucuran membasahi kening Aldoura diikuti dengan deruan napas yang tersengal-sengal.
"Mmmhhhh...."
Gumam Aldoura tanpa sadar ia memeluk guling dengan erat.
Tidak berselang lama, air matanya perlahan membasahi pipi merahnya.
"Ibuuuu!"
Teriaknya sontak terbelalak yang tak lama setelahnya datang ibu dan ayah dengan tergesa-gesa karena mendengar putrinya berteriak malam hari tidak seperti biasanya.
"Ada apa nak?
Tanya ibu panik kemudian beranjak memeluk Aldoura yang masih terus menangis. Ya, bahkan ketika sudah sadarpun ia masih terus meneteskan air mata.
"Aku mimpi seram Bu"
Aldoura semakin terisak dipelukan sang ibu.
"Kamu mimpi apa Ra?"
Tanya ayah yang juga tak kalah panik.
"Ora mimpi naik bus terus dari arah samping tepat didepan mata Ora ada mobil tangki besar yang nabrak dari tengah-tengah yah."
Aldoura menjelaskan masih dengan Isak tangisnya, bahkan kini kedua tangannya terlihat gemetar. Lalu ia menyambar segelas air putih yang diberikan oleh ibu tepat disampingnya.
__ADS_1
Ibu dan Ayah saling menatap penuh arti. Mereka hanya terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun membiarkan Aldora terus menceritakan tentang semua kejadian dalam mimpinya hingga tiba-tiba,
"Awww..."
Aldoura meringis kesakitan sembari memegangi kepalnya bagian kanannya.
"Kenapa nak?"
Tanya ibu kembali panik.
" Ke-kepala Aldoura sakit Bu."
brugh!
Tak berselang beberapa lama, ia pingsan dipelukan ibunya.
"Ora bangun!, hei ayo bangun!"
Ucap ibu semakin panik. ia terus menggoyang-goyangkan tubuh anaknya yang telah tidak sadarkan diri. kemudian tanpa berbasa-basi dengan sigap ayah Aldoura bergegas menggendongnya untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.
Perintah ayah.
ibu berlari kedalam kamar Abang dimana disana ada menantu dan cucunya yang tengah tertidur pulas. niat hati ingin membangunkan dengan tenang, namun rasa panik yang terus memuncak membuat wanita paruh baya ini membangunkan dengan keras hingga membuat seisi ruangan terkejut.
"Nak, Nak!!! bangun adekmu..."
"Apa Bu? kenapa?"
Abang bangun dengan kaget.
"Iya kenapa Bu?"
__ADS_1
Menantunya lantas menimpali.
"Itu Ora tiba-tiba pingsan ayo cepat antarkan ke rumah sakit"
"Ayo Bu,"
Abang bergegas bangun dan mengambil kunci mobil di atas meja tanpa memperdulikan anak dan istrinya yang tengah kaget juga.
"Kamu dirumah saja ya nak, kasihan Gilang kalau diajak ikut,"
ucap ibu mencegah menantunya yang akan menggendong Gilang untuk diajak ikut ke rumah sakit.
"Tapi Bu,"
"Lagi pula juga sudah malam, kalah begitu ibu pergi dulu."
"Baik ibu."
" Haooo... Bunda ayah sama nenek mau kemana?"
tanya Gilang yang masih menguap digendongan ibunya.
"Ayah sama nenek lagi cari obat sayang Tante lagi sakit."
"ooo... Tante atit ya bunda, acian loh."
"Huwaaaa... ante Ola atit Gilang cedih bunda huwaaaa..."
tiba-tiba saja Gilang menangis dengan kencangnya entah apa yang tengah dipikirkan anak sekecil itu.
" Eh jangan nangis sayang nanti Tante Ora sedih gimana?."
__ADS_1
" Nanti kalo ante Ola kenapa-napa, Gilang main sama ciapa unda huwaaa..."
Gilang terus menangis, takut jika sesuatu terjadi kepada Tante satu-satunya itu, ya Aldoura memang sangat dekat dan menyayangi Gilang. Sesibuk apapun, dia selalu menyempatkan waktunya untuk mengajak bermain Gilang hingga mereka seperti memiliki ikatan batin.