Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Episode 17


__ADS_3

Pagi sekali saat Ratu masih berada di dalam kamar bersama kasur, guling, bantal, selimut, dan boneka kesayangannya yang masih mengelilingi badannya.


Sayup-sayup terdengar beberapa orang tengah berbicara di ruang tamu. Dua di antaranya sudah tidak asing lagi bagi Ratu, ereka adalah ayah dan ibunya dan mungkin ada dua orang lagi tapi masih sedikit asing bagi Ratu.


“Sekarang jam berapa sih.”


Ratu meraih jam waker di atas meja.


06.30


Angka yang dilihat olenya.


“Masih terlalu pagi untuk menagih hutang.”


Gumam Ratu.


Ia mengembalikan jam wakernya dan kembali menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Tak berselang lama, terdengar ibu mengetok pintu dan memanggil Ratu dari luar.


“Ratu, keluar sebentar nak.”


Kata Ibu.


“Kenapa bu?.”


Tanya Ratu masih menutup mata. Di luar hujan dan membuatnya malas untuk melakukan apapun hari ini.


“Bangun sebentar.”


Panggil ibu sekali lagi.


Dengan muka malas, ia bergegas bangun tanpa merapikan rambutnya terlebih dahulu. Ratu membuka pintu kamar lalu ibu segera menarik tangannya untuk membawanya ke hadapan dua orang yang bercakap dengan ayah dan ibunya tadi.


“Ratu kamu gila ya?.”


Ucap seseorang yang bahkan Ratu tak ingin lagi mendengar ataupun melihatnya lagi.


Dengan wajah masam, Ratu mengangkat wajahnya dan mengetahui ada wali kelasnya dan Farhan tengah memandanginya dengan miris.


“Farhan kenapa kau ada di sini?.”


Tanya Ratu dengan kesal.


“Aku tidak tau kalau kau akan menjadi stress seperti ini.”


“Siapa yang kau bilang gila?. Aku baru bangun tidur dan belum sempat merapikan rambut.”


“Ah… maaf Ratu kalau masih ngantuk kadang bisa jadi galak seperti ini.”


Sela ibu Ratu tersenyum memandang Farhan dan Wali kelas Ratu.

__ADS_1


“Ratu… ibu kesini menemani Farhan untuk meminta maaf sama kamu, dan mengajak kamu untuk kembali sekolah.”


Ucap wali kelas.


“Maaf bu, tapi kenapa Farhan harus mengajak ibu untuk meminta maaf kemari?.”


Dengan napas yang masih tak bisa diatur dengan normal karena amarah, Ratu melayangkan pertanyaan untuk mendesak Farhan. Ia bisa berbicara apapun yang ia mau ketika kedua orang tuanya berada di dekatnya, karena dengan begitu ia sudah pasti akan aman jika sewaktu-waktu Farhan akan berbuat sesuatu kepadanya.


“Ibu ingin kamu memaafkan Farhan dan mulai sekolah lagi Ratu. Kamu satu-satunya murid yang bisa mewakili ajang olimpiade fisika di provinsi akhir bulan nanti.”


Sebenarnya Ratu sudah mendengar kabar kalau dia akan ditunjuk untuk mewakili sekolah dalam olimpiade. Jadi menurutnya itu bukan hal yang menggembirakan lagi ataupun sebagai jembatan untuknya kembali lahi ke sekolah.


“No way.”


Batin Ratu mulai meronta.


“Maaf saya tidak bisa bu. Sekalipun ucapan maaf keluar sendiri dari mulut Farhan, tapi keputusan saya masih sama. Sekali lagi saya mohon maaf.”


Ucap Ratu.


Ia balik memandang kedua bola mata Farhan yang mulai berapi-api. Seakan ancaman besar memenuhi jiwanya untuk memberontak.


“Lihat kan Bu… bahkan Farhan tidak menginginkan saya untuk kembali ke sekolah.”


Ratu menambahi.


“Apa?.”


“Kalaupun nanti saya kembali, maka role hidup saya yang disiksa oleh Farhan dan teman-temannya pasti akan terulang terus bu. Saya tidak mau kalau harus begadang tiap malam untuk mengerjakan PR mereka, bolak-balik membersihkan seragam karena ditumpahi minuman.”


Entah apa yang terjadi, tapi mulut Ratu begitu licin untuk mengakui semuanya.


“Ratu… aku tidak akan mengulanginya lagi, aku berjanji.”


Ucap Farhan mulai menurunkan egonya. Sorot matanya nampak lebih tenang sekarang.


Ratu menunduk. Pandangannya fokus dengan jemarinya yang bermain di atas pangkuannya. Ia enggan beradu mulut dengan siapapun lagi termasuk ayah dan ibunya. Baginya, keputusannya tidak bisa di ubah-ubah lagi.


Bukan karena ia tak menerima tawaran olimpiade yang bahkan tak semua murid bisa mendapatkan kesempatan itu. Tapi lebih aman jika ia melanjutkan pendidikannya dari rumah. Itu sudah lebih dari cukup untuknya.


“Ratu…”


Panggil Farhan.


Hening. Tak ada jawaban apapun yang bisa memecahkan suasana dalam ruangan ini.


Dengan muka masam, Ratu lalu bangkit dan melangkahkan kaki menuju ke dalam kamar.


Drakkkk

__ADS_1


Ratu membanting pintu dengan keras hingga membuat semua yang ada dalam ruang tamu terkejut mendengarnya.


“Maafkan Ratu Bu Guru dan Farhan.”


Sayup-sayup Ratu menguping obrolan mereka dari balik pintu.


Tanpa sengaja, butiran bening keluar dari pelupuk mata Ratu. Hatinya sakit ketika mengingat kembali semua perlakukan anak-anak di sekolah dulu. Tak ada yang peduli selain Elizia seorang.


“Saya harus bagaimana Om dan Tante supaya Ratu mau kembali lagi ke sekolah?.”


Tanya Farhan sedikit merendahkan suaranya.


“Ya… seperti ya Farhan tau, Ratu sudah tidak mau mendengarkan siapapun lagi. Bahkan kemarin Elizia dan Angga juga sempat kemari untuk membujuknya tapi ia tetap kekeh tidak mau.”


Jelas Ayah Ratu.


“Dan kami sebagai orang tua hanya bisa menuruti apa yang dia mau. Karena kebahagiaan Ratu adalah kebahagiaan bagi kami juga. Perihal permintaan maaf, kami sudah memaafkan kamu dan teman-temanmu begitu juga dengan Ratu.”


Ucap Ibu Ratu lanjut menyambung.


“Nah kan Farhan. Semuanya sudah jelas, jadi apa yang akan kamu lakukan sekarang?.”


Tanya wali kelas kepada Farhan.


“Yah… kalau memang saya harus kena drop out dari sekolah saya terima saja dengan lapang dada bu. Karena sejak awal saya yang bersalah.”


Wajah Farhan terlihat masam. Perasaannya campur aduk. Terlebih alasan apa yang tepat untuk member tahu kedua orang tuanya setelah pulang nanti.


“Drop out?.”


Gumam Ratu tersentak.


Rasa bersalah kian memenuhi relung hatinya yang semakin sesak.


Farhan di drop out dari sekolah karena ulahku. Lalu apa bedanya aku dengan dia?. Tindakan ini sama saja seperti balas dendam. Tidak… ini bukan yang aku mau. Bukan seperti ini alur mainnya.


Sudahlah… biarkan saja dia kena drop out. Anak seperti dia tidak pantas berada di sekolah. Apalagi sebagai ketua Osis hah… yang benar saja. tak ada yang bisa dijadikan panutan sama sekali darinya.


Tapikan…


Sudahlah biarkan saja. setidaknya dengan begitu tidak akan ada korban selanjutnya lagi.


Dalam keheningan, batin Ratu seolah saling bercakap. Ada sisi baik dan sisi buruk yang lebih kuat untuk meneguhkan pilihannya.


Dan di sini, Ratu termenung. Memikirkan apakah ia harus menarik kembali perkataannya, atau tidak.


“Ah… sudahlah setidaknya kalau tidak ada Farhan, tidak akan ada korban bullying lainnya lagi.”


Ratu bergegas bangkit dan kembali ke tempat tidurnya.

__ADS_1


Di luar masih hujan. Dan suara gemericik air yang turun memberikan efek ketenangan tersendiri. Tak lama Ratu larut dalam kehangatan selimut dan suara deraian air hujan yang membawa ketengan hingga membawanya sampai kea lam mimpi. Kembali pada rangkaian imajinasi yang tak terukur.


__ADS_2