
Sudah satu minggu ini Ratu tak masuk sekolah. Ia habiskan waktunya hanya untuk mengurung diri di dalam rumah. Sekalipun ia harus keluar hanya sebatas sampai di pelataran rumah untuk mengambil jemuran. Kali ini ia benar-benar angkat tangan perihal sekolahnya, ia tak lagi tertarik menjadi murid di sekolah manapun.
Ia telah memutuskan secara matang-matang, ia bisa pintar lewat jalan apapun selain menjadi murid sekolahan. Banyak yang dipikirkan oleh Ratu mengenai bimbel, home schooling, belajar lewat internet dan lainnya, entah apa yang akan ayah dan ibunya katakan tapi untuk sekali ini, ia benar-benar tidak akan tinggal diam atas penindasan yang dilakukan teman-temannya di sekolah.
“Ratu…”
Di ambang pintu kamar, nampak ibu tengah berdiri dengan memasang muka serius memandang Ratu yang tengah bersandar di tembok dekat jendela, diapit oleh lemari dan tempat tidur, tubuhnya yang kecil hampir tidak terlihat dari luar.
“Kenapa Bu?.”
Mengangkat wajahnya.
“Ayo ikut, Ayah ingin bicara denganmu.”
Tak menunggu lama, Ratu segera bangkit dan menurut, mengikuti setiap langkah Ibunya meuju ruang tamu. Dan benar saja, Ayah sudah menunggu di sana.seperti biasa ia tak memperlihatkan wajah amarahnya. Diam dan tenang, itulah sikap yang selalu Ratu lihat ketika Ayahnya sedang menyimpan kejengkelan terhadap perilaku bandelnya.
“A… Ayah mau bicara apa?.”
Tanya Ratu sebagai pembuka obrolan. Iapun duduk mendekati Ayahnya yang tengah sibuk membolak-balikkan Koran.
“Tidak Ayah hanya ingin tahu, kenapa kamu bolos sekolah bukannya hari ini UTS?.”
Diam. Ratu hanya bisa menunduk tak berani memandang kemarahan yang disembunyikan dari mata Ayahnya tersebut.
“Ayah…”
Perlahan Ratu berusaha mengatur napasnya. Berhati-hati supaya ketika sampai di tengah obrolan tiba-tiba terhenti karena sesuatu terasa mencekik lehernya.
“Ratu pingin belajar di rumah saja. ratu tidak ingin berinteraksi dengan anak-anak sebaya denganku. Aku tidak mau berangkat ke sekolah. Aku tidak mau pakai seragam yang setiap kali habis aku bersihkan selalu dikotori lagi oleh teman-temanku. Lagi pula aku ini penyakitan, kalaupun aku mati teman-temanku tidak akan ada yang peduli Ayah.”
Air mata jatuh bercucuran meluncur di wajahnya hingga berjatuhan di atas bantal kursi yang tengah dipangkunya.
Tanpa berucap, pria yang akrab dipanggil pak Subroto oleh tetangga dan rekan kerjanya tersebut segera menarik putrinya dipelukannya. Hatinya terasa sakit ketika mendengar seluruh pembullyan yang dialami Ratu mulai dari sekolahnya yang dulu di Jakarta hingga sampai ia minta sekolah di Bandung. Dulu setiap Ratu meminta panda sekolah, Ayahnya selalu marah karena alasannya berulang kali adalah bosan, padahal yang dialami piutrinya jauh lebih menyakitkan.
“Aku ingin di rumah saja Ayah, Ratu tidak ingin bertemu dengan teman-teman sekolah.”
“Iya sayang, maafkan ayah yang sesalu marah denganmu.”
...###...
“Murung aja neng, Ratu mana?.”
Ucap Angga ketika mendekati Elizia di barisan tengah meja kafe. Sejenak ia membuka topinya kemudian duduk di depan Elizia yang sedari tadi nampak acuh dengan dirinya.
“Kenapa neng?.”
Tanya Angga memasang raut penasaran.
“Aku gabisa bikin Ratu menikmati masa sekolahnya dengan normal seperti yang lainnya mas.”
__ADS_1
Jelas Elizia.
“Loh memangnya ada masalah apa?.”
“Sepertinya Ratu tidak akan pernah kembali lagi ke sekolah, bahkan dia memutuh tali persahabatan denganku seinggu yang lalu.”
Sepatah demi patah kata yang sesak memenuhi relung hati Elizia tunjukkan semuanya kepada Angga. Sati-satunya pria yang dipercayai olehnya, ya… bagaimana tidak. Mereka sudah lama sekali kenal dekat, sejak pertama kafe ini didirikan Angga sudah mulai bekerja di sini. Ia adalah orang yang selalu menerima pesanan dari Elizia hingga sekarang.
“Emm… kamu pernah ke rumahnya belum El?.”
Tanya Angga meletakkan tangan kanannya di dagu, membuat paras tampannya seakin terlihat.
“Belum mas, kalaupun ke rumahnya, memangnya aku bakalan diizinkan masuk?, orang tuanya akan jauh lebih mengerti dirinyakan.”
“Hmm… iya juga sih, tapi setidaknya kau menjenguknya walaupun hanya sebentar saja. mungkin saja di sakit makanya tidak masuk seminggu ini.”
“Iya juga ya mas, kok aku nggak kepikiran sama sekali.”
“Dasar…”
Angga tersenyum kemudian mengacak rambut Elizia. Ada sesuatu yang aneh di hatinya, ia memandang Elizia memiliki sesuatu yang istimewa. Tidak seperti anak-anak yang lainnya yang selalu membangga-banggakan kekayaan orang tuanya terlebih memiliki paras yang cantik. Tapi Elizia lebih memilih gaya hidup yang sederhana, seharusnya diumurnya saat ini sperti kebanyakan remaja merka mulai berpacaran dan Elizia justeru memilih untuk fokus dengan sekolah dan orang tuanya serta teman-teman yang baik dengannya.
“Mas Angga mau ikut gak?, nanti aku tungguin sampai mas selesai kerja, jam 5 sore kan?.”
Ajak Elizia semangat.
“Hahahah… iyalah mas, biasanya juga kau nongkrong di sini sampai malam kan.”
“Heheh iya juga sih ya… okelah aku ikut nanti.”
“Siap… sudah kembali kerja lagi sana. Hush hahahah”
Usir Elizia sembari terkikik.
...###...
Ketika tengah asyik menikmati lagu yang dibawakan oleh vokalis band yang menyayi di kafe. Tiba-tiba seseorang datang dan duduk di depan Elizia yang seketika itu pula mengagetkan dirinya.
“Farid kamu sedang apa di sini?.”
Suasana hati Elizia yang baru saja membaik kian berubah menjadi kelam lagi.
“Aku minta maaf atas kejadian minggu lalu. Anak-anak jadi memandangku sebagai ketua osis yang kejam.”
Dengan muka kesal, Elizia menghela napas sejenak kemudian menyandarkan tubuhnya. Pandangannya hanya tertuju kepada vokalis yang tengah bernyanyi di depan.
“Loh bukannya memang faktanya seperti itu Farid?. Lalu kenapa tidak minta maaf sama Ratu?, dia yang kau sakiti bukan aku.”
“Aku tidak bisa meminta maaf kepadanya El.”
__ADS_1
Ucap Farid sembari memainkan jarinya di atas ponsel yang dibawanya.
“Terus… apa aku terlihat peduli denganmu?.”
Kata Elizia beralih menatap Farid tajam.
“Bantu aku yakinkan yang lain kalau aku tidak seperti apa yang mereka pikirkan.”
Pinta Farid serius.
“Aku mau kau meninggalkan tempat ini.”
“Ayolah El, aku mohon."
“No!.”
Di depan, Angga tengah mondar-mandir mencari meja pelanggan sembari menenteng baki berisi beberapa gelas minuman green tea.
“Mas Angga.”
Ucap Elizia memanggil Angga untuk mendatangi mejanya.
“Ada apa El?.”
Tanya Angga sewaktu mendekati Elizia yang tengah berbicara dengan seorang pria yang belum dikenal bahkan belum pernah ia temui sebelumnya.
“Mas bisa antarkan dia sampai di pintu keluar?.”
Suruh Elizia serius.
“Ta… tapi kenapa El?.”
Angga terlihat semakin kebingungan.
“El… kau serius mengusirku?.”
Ucap Farid terkejut.
“Yak, cepat mas.”
Elizia mendorong Angga, mendesak agar menurti apa yang dimintanya.
“Ah iya-iya… mas mari saya antarkan sampai pintu keluar.”
Ucap Angga kepada Farid yang terlihat mulai kesal karena keberadaannya yang tidak dihargai sama sekali.
“Aku bisa jalan sendiri.”
Farid bergegas keluar dari kafe dengan kekesalan yang memenuhi hatinya.
__ADS_1