Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Episode 12


__ADS_3

Aldoura mengerjapkan kedua bola matanya. Silau, ia memandang ke langit-langit kamar dan nampak olehnya pantulan cahaya dari tetesan air hujan yang menggenang di luar bawah jendela.


“Astaga jam berapa sekarang?.”


Bergegas ia bangkit lalu menengok jam waker di atas meja.


Pukul 07.25


Untuk standar bangun tidur wanita kantoran seperti Aldoura sudah sangat terlambat.


“Ibu kenapa tidak bangunkan aku?!.”


Ucap Aldoura kemudian bergegas lari menuju kamar mandi.


Kantor mulai jam kerjanya 07.35. 10 menit lagi ia harus di sana tapi rasanya tidak mungkin mengingat letak rumah dan kantor yang terlalu jauh, perlu seperempat jam untuk sampai.


“Cuci muka, gosok gigi, mandi nggak ya?.”


Gumam Aldoura di depan cermin sembari memenuhi mulutnya dengan busa pasta gigi.


“Ah, kemarin kan aku sudah mandi.”


Lanjutnya. Tak lama keran air wastafel dimatikan. Aldoura keluar dengan mengenakkan pakaian yang sudah rapi, hanya tinggal mengambil tas, ponsel dan kunci motor, ia siap berangkat. di depan pintu, ia berhenti sejenak.


“Eit… helmnya mana?.”


Ia kembali lagi ke dalam kamar, mengambil helm yang ada di atas lemari lalu bergegas pergi.


“Neng, mau kemana udah rapi?.”


Tanya Amira heran.


“Kerja toh mbak Mir… buat beli susunya si Gemoy.”


Jawab Aldoura sejenak mencium kening Gilang yang sedari tadi digendong oleh ibunya tersebut.


“Sejak kapan kamu punya pekerjaan sampingan Ra… kok Mbak belum pernah tau?.”


“Hah?, yang sampingan apaan Mbak Mir nih ada-ada aja, yaudah aku berangkat ya.”


Ketika membuka pintu, Aldoura terdiam sejenak ketika memandang poster yang ditempel di sepanjang jalan bertuliskan Jalan Sehat Bersama Dusun Duku Minggu 20 Oktober.


“Mbak sekarang sabtu atau minggu?.”


Tanya Aldoura berbalik.


“Minggu neng, iyakan makanya Mbak tanya kamu mau ke mana padahal kemarin udah bilang kalau mau ikutan jalan sehat lah kok keluar pakek baju kerja.”


“Hlah… mbak Mir rese nih.”


“Kenapa?.”


Aldoura kembali ke kamar dengan muka memerah. Ia tak bisa menutupi rasa malunya di depan Amira dan Gilang yang sedari tadi melihatnya dengan heran.


“Neng lupa hari ya?.”


Celetuk Amira yang seketika membuat mukanya semakin memerah.


“Mbak Mir diam.”


Sementara Aldoura ganti baju olahraga di kamarnya, Amira tak bisa menghentikan tawanya melihat tingkah konyol adik iparnya tersebut pagi ini.


...###...


Acara jalan sehat dimulai 10 menit yang lalu. banyak ibu-ibu komplek yang ikut acara tersebut. Aldoura ikut dipertengahan jalan, ia menyambung yang lain di depan balai desa depan rumah.

__ADS_1


Ramai, banyak anak-anak kecil pula yang dengan riang ikut ibunya masing-masing.


“Neng mau nikah ya?.”


Tanya Bu Tijah yang sedari tadi berjalan di samping Aldoura.


“Sama siapa Bu?.”


Tanya Aldoura sedikit terkejut.


“Loh… banyak loh yang bilang, makanya saya tanya.”


Pikiran Aldoura tertuju pada Amira, orang pertama yang menjadi saksi atas curhatnya. Tidak bisa dipungkiri lagi si penyebar hoax pasti dia.


“ Eh bener ya neng… aduh kemaren pas datang di pernikahan anak ibu, kamu nyumbang apa ya?.”


Sela Bu Imas mendekati Aldoura dan Bu Tijah.


“Aduh iya kemarin kamu ke rumah saya juga kan neng?.”


“Memang acaranya kapan neng?.”


“Perasaan gedenya baru kemaren ya ibu-ibu.”


“Iya, perasaan masih kemarin banget itu nangis di depan toko saya sambil narik Bu Siti minta dibeliin es krim.”


“Iya Bu-Ibu, kayak belum lama aja dia ngambilin buah mangga saya tuh sama si Abi, eh tau-tau udah mau nikah aja ya.”


Obrolan semakin berlanjut dan kian sambung-menyambung hingga membuat Aldoura tak bisa menanggapinya satu persatu. Iapun lebih banyak terdiam sembari memasang senyum yang dipaksakan.


“Do’a kan saja semoga lancar ya ibu-ibu.”


Ucap Aldoura sebagai penutup obrolan.


Semua duduk di atas rerumputan membentuk gerombolan RT masing-masing. Sembari melepas penat, mereka sangat berantusias untuk menunggu undian yang dibacakan panitia di atas panggung.



Aldoura memandangi kupon yang dia dapatkan sewaktu di perjalanan tadi.



“Nomernya bagus, tapi masa iya bisa dapat kulkas ya… lumayan nih buat ibu bangga sampek rumah.”


Batin Aldoura memandangi kuponnya lamat-lamat.


“Halo, sekali lagi yang merasa membawa nomer undian 123 tolong untuk segera konfirmasi ke atas panggung.”


Ucap panitia yang terdengar sedikit samar karena simpang siur dengan suara warga yang tak bisa dibilang sedikit.


“Neng nomermu dipanggil tuh.”


Ucap Bu Tijah menepuk pundak Aldoura.


“Eh…”


Tanpa pikir panjang, ia bergegas berlari sembari mengangkat kertas undiannya.


“Nah, di sana Mbaknya yang cantik. Widih udah cantik pulang-pulang dapat kulkas idaman gak tuh.”


Ucap panitia yang gemas melihat tingkah Aldoura yang nampak kegirangan berlari di tengah lapangan, menerobos tiap kerumunan orang-orang di sana.


“Mas saya beneran dapat kulkas nih?.”


Tanya Aldoura sewaktu sampai di atas panggung. Napasnya nampak terengah-engah, tapi tak dipedulikannya.

__ADS_1


“Iyup bener banget, langsung aja isi form yang sudah disediakan untuk cek out barangnya.”


“Siappp.”


Setelah beberapa menit ngobrol dengan panitia dan melengkapi form di atas panggung, Aldoura turun dan berniat segera pulang dan menunggu hadiahnya diantarkan.


“Ra!.”


Panggil seseorang dari arah stand yang baru saja dilewatinya. Ia melihat di dalam sana ada Abi yang tengah duduk dengan beberapa anak muda karang taruna yang berjaga di stand.


“Mampir sini dulu, nih ada makanan gratis.”


“Wih… mantap nih.”


Aldoura bergegas bergabung dengan yang lainnya, menikmati camilan bersama yang lainnya.


“Yang dapat kulkas tadi kamu kan ya?.”


Tanya Abi memecah keheningan.


“Iya dong.”


“Wih, bude bakalan seneng banget tuh nanti hahaha.”


“Biar gak marah terus sama aku hahaha.”


Celetuk Aldoura.


“Memangnya marah kenapa Ra?.”


Tanya Abi penasaran.


“Aku disuruh geser lemari kamarnya, katanya terlalu mepet sama jendela tapi aku gak lakuin kan berat.”


“Padahal dulu tuh sering bilang abis geser lemari lah, kursi lah, tempat tidur lah, geser posisi rumah lah… dasar…”


“Atatatata…”


Sela Aldoura mengehentikan ucapan Abi lalu tertawa terkikik.


“Kebiasaan nih anak kalau ada orang tua bicara.”


Ucap Abi kesal. Ia mengunyah lebih cepat hingga membuat pipi tembamya semakin terlihat jelas.


“Setua apa sih lu Bi… jangan sembarangan kamu, gini-gini kita cuma beda jam aja lahirnya. Kayak shift masuk karyawan, pagi sama malam.”


“Utututu…”


Sela Abi mengentikan ucapan Aldoura.


“Wah parah nih punya sahabat satu aja resenya minta ampun.”


Aldoura bangkit mendekati Abi lalu beberapa kali memukul bahunya dengan keras.


“Si kecil mulai kasar ya sekarang hahahaha.”


“Wah si kakak mulai jahat sekarang ya. Nih rasain nih… dasar, makan nih martabaknya.”


Ucap Aldoura lanjut menyuapi Abi martabak dengan ukuran yang besar hingga membuat mulut Abi penuh dan hampir tersedak.


“Huk… huk…uhuk…”


“Hahahaha… jangan mati dulu Bi.”


Kata Aldoura, ia segera memberikan minuman kepada Abi. Tawanya tak dapat disembunyikannya.

__ADS_1


__ADS_2