Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Episode 9


__ADS_3

Terlihat Aldoura tengah sibuk membolak-balikkan selembar kertas putih yang diketahui kertas itu berisi pemberitahuan undangan reuni satu angkatan sekolah SMA 1 beberapa tahun lalu. tepatnya 6 tahun silam. Namun terlihat ada yang aneh dari raut wajahnya.


“Apa ini betulan atau salah kirim undangan atau bagaimana?.”


Batin Aldoura.


Ia merasa tidak pernah sekolah di SMA yang tertera dalam undangan. Lalu bagaimana namanya bisa tertera di sana?. Pertanyaan ambigu satu persatu kian muncul dalam benak Aldoura, tentang orang yang mengirim undangan ini hingga namanya bisa dieja dengan benar di atas kertas ini.


“Siti.”


Panggil Aldoura sewaktu keluar dari ruangan pribadinya yang tak sengaja berpapasan dengan Siti ketika berlalu di depan dirinya.


“Iya, ada yang bisa saya bantu.”


Sejenak Siti menghentikan langkahnya.


“Aku pingin tahu siapa yang mengirim surat ini. Bukankah yang menerima suratnya tadi kamu ya?.”


Aldoura segera menyodorkan surat yang sedari tadi dipegangnya yang kemudian segera diterima Siti bermaksud untuk mengingatkan kembali karena ia tahu kalau pagi ini Siti terlihat membawa banyak surat untuk para karyawan kantor.


“Ah iya, sebenarnya aku hanya disuruh untuk memberikannya saja. Aku tidak tau surat itu dari siapa.”


Jelas Siti lalu mengembalikan surat tersebut kepada sang pemilik.


“Siapa yang tadi memberikan ini kepadamu?.”


“Abi.”


“Ah iya terimakasih Siti.”


Abi memiliki posisi sebagai satpam kantor. Otak Aldoura segera mengarah pada pos satpam di depan gerbang kantor, sudah dapat dipastikan kalau Abi sedang berjaga di sana. Bergegas Aldoura meuju ke lantai satu melewati tangga karena liftnya sedang dalam perbaikan.


“Hei, kau mau kemana pada jam kerja seperti sekarang?.”


Terdengar suara Pangeran yang begitu jelas di telinga hingga dalam hitungan detik saja membuat langkah Aldoura yang sudah canggung akan menginjak anak tangga pertama itu.


“Bos, aku izin sebentar ada urusan penting sama Abi di bawah.”


Jelas Aldoura, wajahnya terlihat sedikit cemas.


“Kenapa kau mencari Abi dan kenapa kau terlihat gugup seperti itu melihatku ha?.”


Pangeran merasa ada yang aneh ketika Aldoura menyebutkan nama Abi yang memenuhi relung hatiya. Selama ini, Pangeran juga melihat kalau Aldora dan Abi sering makan di kantin bersama dan kadang pula ia melihat Abi selalu membawakan motor Aldoura ke dalam tempat parkir.


“Aku… aku…”


Semakin Aldoura mengulur-ulur ucapannya, semakin mendekat pula Pangeran kepadanya.


“Hiii bos, jangan terlalu dekat seperti itu.”


Aldoura mendorong badang Pangeran, namun usahanya sia-sia karena lawannya adalah seorang pria gagah yang memiliki tinggi 175cm sedangkan dirinya hanya 160cm.


“Kau gugup denganku karena aku tampan?.”


Sejenak Aldoura tertegun. Ia bahkan belum sempat memandang bosnya dengan benar, mana tau dia tampan atau tidak, ya… tapi sudah jelas sih seorang CEO sudah pasti tampan lah ya.

__ADS_1


“Bos aku hanya ingin menanyakan surat ini saja kenapa kau niat sekali membahas ketampananmu.”


“Surat apa?.”


“Surat undangan reuni, aneh sekali mereka mencantumkan namaku di sini padahal aku bukan dari angkatan ataupun satu sekolah dengan mereka.”


Pangeran segera mengambil kertasnya dan ternyata Aldoura tidak berbohong. Mengetahui hal tersebut, lantas membuat hati Pangeran kembali normal lagi. Ia tak merasakan hal aneh seperti semula.


“Yasudah pergi sana hussss…”


“Yeee… emang kucing kali ya.”


Sesampainya di pos satpam, Aldoura nampak memainkan kedua matanya. Memandang ke segala sudut mencari keberadaan Abi, dan sampailah ia pada titik temu di sudut pandangannya.


“Abi!!!!.”


Teriak Aldoura memanggil tetangganya sejak belasan tahun yang terlihat tengah sibuk menata kendaraan di tempat parkir tersebut.


“Hei Ora.”


“Kemari sebentar aku ingin tanya soal ini.”


Aldoura melayangkan kertas yang dibawanya di udara. Tak lama setelahnya, Abi segera datang menghampirinya.


“Apa ini Ra?.”


Kata Abi.


“Surat ini dari siapa Bi?.”


“Sebenarnya aku juga tidak tau Ra, sejak aku datang pagi tadi suratnya sudah ada di meja pos.”


“Satpam yang lain juga tidak ada yang tahu?.”


“Tidak ada soalnya pukul 5 pagi pak Burhan masih di sini tapi suratnya belum ada, nah pas aku datang pukul 5.45 nya aku lihat sudah banyak tumpukan surat di sini.”


“Begitu ya. Emm… oke terima kasih Abi aku kembali ya.”


“Siap ratu cantik.”


“Eh…”


Aldoura terlihat kaget dengan kalimat terakhir Abi barusan.


“Kenapa Ra?.”


“Ah… tidak, sepertinya aku terlupa sesuatu tadi.”


“Baiklah.”


Aldorapun segera berlalu dari pandangan Abi, dan semuanya kembali dengan pekerjaan masing-masing.


...###...


“Ra!!!.”

__ADS_1


Pikiran Aldoura kembali fokus ketika Pangeran yang disadarinya sudah duduk di meja kerjanya dan bolak-balik memanggil dirinya.


“Bos sejak kapan ada di sini?.”


Tanya Aldoura membetulakan posisi duduknya.


“Aku lihat perilakumu aneh hari ini, kau sedang memikirkan apa?.”


“Sepertinya ada masalah di otakku.”


“Apa kau sakit?.”


“Tidak bos, badanku tidak panas, pernapasan normal, tidak pilek atau batuk, mag aman, bb tidak turun, tinggi badan naik 2 centi, tekanan darah normal, gula darah aman, kolesterol apa lagi.”


Jelas Aldora mencoba mengingat kembali hasil pemeriksaannya di rumah sakit beberapa hari yang lalu.


“Tapi kelihatannya otakmu juga butuh di periksa Ra.”


Pangeran menjentikkan jarinya tepat di tengah jidat Aldoura, dan…


Pletakkkk


“Bos!.”


Teriak Aldoura sembari memegangi jidatnya yang terasa mulai memar.


“Keterlaluan sekali, aku sedang pusing kenapa malah dipukul jidatku ini.”


Melihat raut muka Aldoura yang kesal serta bibir yang berbalut lip cream nude yang bolak-balik dinaikkan lalu pipi tembam yang dipasangnya membuat Pangeran merasa gemas, terlebih semakin marah Aldoura semakin terlihat kekanak-kanakan.


“Lagi pula apa sih ini kenapa otakku menyuruhku untuk mengingat sesuatu ya.”


“Ora.”


“Kenapa bos?.”


“Coba kau diam sebentar.”


Ruangan kembali hening ketika suara cempreng Aldoura tak kembali terdengar.


Tanpa disadari sesuatu menyentuh bibir Aldoura dengan lembut. Pangeran tak dapat menahan rasa gemas melihat karyawannya yang satu ini. Entah mengapa Aldoura seperti memiliki tempat istimewa di hati Pangeran jauh sejak pertama kali mereka bertemu lalu dipersatukan dalam ruang meeting yang saat itu bahkan ia sama sekali belum pernah memikirkan akan seperti apa hubungannya dengan Aldora selanjutnya.


Jantung Aldoura berdetak kencang, perasaan tak menentu kian muncul. Kaget. Tak pernah terpikir seorang CEO tampan idaman wanita sekelas Marion yang merupakan primadona kantor ini tiba-tiba menciumnya.


“Mimpi apa aku semalam?.”


Batin Aldoura, ia mengerjapkan matanya. Berharap Pangeran segera melepaskan ciumannya.


“Boleh aku menciuntaimu Ora?.”


Tanya Pangeran kemudian kembali mencium bibir Aldoura.


Hening. Canggung. Siang ini adalah jam makan siang seluruh karyawan, jadi tak ada seorangpun yang mengetahui mereka.


“Bagaimana Ra?.”

__ADS_1


Tanya Pangeran sekali lagi ketika melepaskan ciumannya. Jarak di antara kedua wajah mereka teramat dekat, membuat degup jantung Aldoura semakin tak berirama.


__ADS_2