Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Rumah Sakit


__ADS_3

pukul 1 dini hari, Pangeran tampak mondar mandir di depan ruangan IGD. ya pria itu sudah tiba disana 5 menit yang lalu. Ayah Aldoura yang menelfonya, untung saja dia belum tidur jam segitu.


sedangkan ayah tengah memeluk ibu yang masih cemas di kursi panjang tempat para pengunjung menunggu.


"kok lama banget sih,"


Pangeran memijat keningnya yang terasa pusing akibat terlalu cemas.


cklek!


suara pintu terbuka, semua langsung menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"gimana dok dengan kekasih saya?,"


tanya Pangeran cemas.


"kemungkinan nona Aldoura telah sembuh dari amnesianya dan perlahan ingatan-ingatan tentang masa lalunya akan segera pulih," menjelaskan sembari sesekali melempar senyum kepada Pangeran dan kedua orang tua Aldora.


"Amnesia?," Pangeran tampak bingung dan tidak paham dengan yang dikatakan oleh sang dokter yang kemudian berbalik melempar pandangan kepada orang tua Aldora.

__ADS_1


"sebentar lagi nona akan segera sadar, dan spertinya saya juga harus permisi dulu." sang dokter beranjak pergi.


"ayah, Ora..." ucap pangeran menggantung menatap ayah Aldoura penuh arti.


"mari kita berbicara," Ayah merangkul pundak Pangeran dan mengajaknya berbicara empat mata di luar sembari menghirup udara segar, sedangkan Ibu Aldoura masuk kedalam IGD untuk menemani putrinya yang masih belum sadarkan diri tersebut.


di luar rumah sakit atau tepatnya di teras rumah sakit, tampak dua pria tengah duduk dan berbincang dikursi panjang pengunjung.


"sekarang saya mengerti yah," ucap Pangeran ketika selesai mendengar semua cerita dari Ayah.


"dulu doker bilang kalau kemungkinan besar Ora tidak akan pulih dari amnesianya mengingat kecelakaan yang begitu mengerikan itu makanya kami tidak berniat untuk menceritakan hal ini kepadamu. tapi ternyata dia pulih sekarang." tutur Ayah menambahi di akhir-akhir ceritanya dan Pangeran hanya mengangguk.


"Ayah berharap kamu bisa menjaga Ora dengan baik, bukankah orang tua inginnya begitu ketika anak perempuannya sudah akan menikah?," menatap Pangeran penuh arti dan ia hanya mengangguk saja.


"hehehe, mari kita kembali kembali ke dalam sepertinya anakku sudah sadar," ajak Ayah sembari menepuk bahu Pangeran.


"Istriku juga ayah hehehe," nyengir.


"kamu ini belum sah!," Ayah sedikit menekan kata sah nya tersebut.

__ADS_1


"tinggal 3 hari kok yah,"


kedua pria tersebut saling bergurau ketika berjalan melewati lorong rumah sakit yang sepi itu, hingga sesampainya di IGD nampao Ora yang tengah duduk di tempat tidur pasien dan meneguk air minum yang diberikan oleh Ibu.


" Ora sudah bangun yah," Pangeran berlari menghampiri kekasinya.


"Kamu kenapa sayangku, kenapa tiba-tiba sampai di tempat ini hah dasar anak nakal ughh!," ucap Pangeran mengomel kemudian menoel hidung mancung Aldoura yang diiringi tawa sang empu.


"biar kamu panik," nyengir memperlihatkan barisan gigi putih Aldoura kepada si tukang panik di depannya.


"gimana sekarang hemm masih pusing?," tanya Pangeran.


"sedikit,"


"loh Abang mana Bu?," Tanya ayah tiba-tiba menyahut, pandangan mengedar mencari keberadaan sang putra sulungnya yang tak terlihat sejak ia tiba kemari.


"lagi ngurus administrasi yah, di depan masa tadi tidak ketemu," jawab Ibu yang tengah duduk di kursi dekat Aldoura.


"masa ya..." Ayah menggaruk kepala yang tidak gatal.

__ADS_1


__ADS_2