
“Pangeran! Aku minta boba bukan es serut.”
Aldoura meninggikan suaranya ketika melihat tunangannya datang di ruang kerjanya dengan menenteng plastik transparan yang jelas didalamnya terdapat 2 cup es serut yang tidak pernah diinginkan olehnya. Memang tidak tau diri dengan CEO kantor sendiri berani membentak.
“Tadi kau minta es serut, nih chatnya masih ada.”
Pangeran tergopoh mendekati Aldoura lalu menyodorkan chat yang baru dikirim 10 menit yang lalu.
“Tapi harusnya kamu paham dong, aku maunya Boba bukan ini.”
Dengan kekeh Aldoura tak mau menerimanya. Semari fokus dengan layar komputer, ia mengomel sendiri. Entah kenapa hari ini sosok Pangerann yang tampan nan rupawan tersebut terlihat menyebalkan sekali untuk sekedar diajak bicara, terlebih ia yang lebih banyak mengiyakan apa yang Aldoura katakana. Pria itu belakangan nampak lebih pendiam dari biasanya dan justru membuat suasana hati menjadi semakin kacau.
“Sayang…”
Pangeran duduk diatas meja kemudian meraih tangan Aldoura. Terlihat kalau kekasihnya itu sedang tidak baik-baik saja dari segi emosional dan kesehatan badannya. Aldoura terlihat lebih kurus dan pucat, entah apa yang tengah dipikirkannya atau yang dikerjakannya selama tidak berada didekat Pangeran.
“Jangan ganggu… aku sedang bekerja.”
Aldoura menarik kembali tangannya, melepaskan genggaman Pangeran yang lembut.
“Mau seblak?.”
“Enggak, awas ah kamu menghalangiku.”
Aldoura sedikit mendorong badan kekar Pangeran, tapi hal tersebut nampak sia-sia karena ia tak bergerak sedikitpun.
“Kamu kurus, pucat, badanmu panas, bukan hal biasa kalau kau sampai sakit begini. Apa yang kau pikirkan? Atau apa yang tengah kau kerjakan hingga jadi seperti ini?.”
Aldoura masih pura-pura tidak mendengarnya. Ia sok sibuk dengan pekerjaannya sendiri.
“Hei…”
“Setiap perempuan pasti akan mengalami masa-masa menyebalkan dalam hidupnya.”
“Apa?”
“Dahlah Pangeran tidak peka… mana es serutnya tadi.”
Kedua mata Aldoura bermain kesana-kemari mencari sesuatu di atas meja atau di balik punggung Pangeran.
“Kan tadi udah aku berikan Abi pas anterin kopi ke sini, kamu ini gimana sih Ra.”
“Kamu ini beneran nyebelin ya…”
Aldoura berniat beranjak dari te,patnya bekerja karena merasa sumpek melihat kekasihnya yang sengaja menghalanginya bekerja. Namun tindakannya tersebut segera dicegah oleh Pangeran.
Ia menarik Aldoura ke dalam pelukannya yang hangat. Hening, pria itu membiarkan wanitannya untuk meredam amarahnya sejenak.
“Kamu kenapa?.”
Tanya Pangeran setengah berbisik di samping telinga Aldoura, ia semakin mengeratkan dekapannya. Aldoura terdiam, napasnya mulai berhembus normal beda dengan beberapa menit yang lalu. Nampaknya perasaannya lebih baik sekarang.
“Sayanggg.”
Tak mendapat jawaban, Pangeran semakin mengeratkan dekapannya dan merendahkan nada suaranya.
“Ora boleh nge-game di rumah Pangeran gak nanti?, bosen tau pengen marah-marah terus aku.”
__ADS_1
Pangeran tertegun. Wanita yang dipandanginya sebagai seorang Ratu nan perfeksionis yang hidupnya penuh dengan hal-hal yang bersifat anggun terhadap pasangannya ternyata justeru memilih hal simpel untuk mengembalikan moodnya. Haha… ternya Aldoura masih sama saja seperti yang biasanya ketika ia masih belum memandang Pangeran sebagai seorang pria.
“Baik tuan putrid apapun, dibawa pulang juga tidak apa-apa loh PS nya.”
“Hih… apasih.”
Aldoura mencubit pinggang Pangeran hingga ia merenggangkan pelukannya.
“Terus tuan putri ingin apa lagi?.”
“Emmmm…”
Aldoura memainkan kedua bola matanya sembari menggerakkan bibirnya ke atas dan bawah menghadap Pangeran.
“Nanti malam mau ngopi di pinggir jalan tempat biasa aku nongkrong dulu?.”
Dan sekali lagi Pangeran nampak terkejut, karena untuk permintaan yang satu ini belum pernah terpikirkan dalam benak sebelumnya.
“Kamu serius?.”
Tanya Pangeran sedikit memekik.
“Aku tidak mau ditawari hal mewah karena hal itu hanya akan membuat kita lupa diri.”
“Yah… baiklah.”
Ternyata banyak hal kesederhanaan yang belum sempat diketahui oleh Pangeran. Padahal sebentar lagi mereka akan segera menikah.
“Sayanggg…”
Wajah Aldoura kembali masam sembari memajukan bibirnya hingga terlihat manyun. Seperti anak kecil yang keinginannya masih belum dituruti.
Tawar pangeran. Seketika pria itu segera paham dengan keinginan Aldoura.
...###...
“Ora mau makan ayam?.”
Dari balik pintu depan kamarnya, Pangeran menunjukkan ponselnya kepada Aldoura yang tengah asyik bermain game.
“Iya beli aja nanti Ora yang habisin.”
Jawab Aldoura acuh.
“Memangnya aku beli cuma buat dia apa?.”
Gumam Pangeran sedikit kesal sembari memesan ayam melalui ponselnya.
“Aku dengar sayang ngomong apa loh.”
Ucap Aldoura tak sedikitpun mengalihkan pandangnnya.
“Iya sayang… ojek online nya lagi pada sibuk nih.”
Bantah Pangeran.
“Apaan dah aku dengar sendiri kok.”
__ADS_1
“Iya sayang iya.”
Pukul 20.00. Aldoura merasa penat. Ia meletakkan joystiknya lalu melakukan treatment berupa perenggangan setelah duduk lama di depan layar. Ia melihat di sekeliling dan baru menyadari kalau sudah makan terlalu banyak. Bungkus mie instan, camilan, ayam, minuman. Semuanya berserakan di hadapannya dan ia tak tau pergi kemana Pangeran sekarang.
Aldoura segera beranjak untuk membereskan kekacauan yang diperbuat olehnya. Entah apa yang akan dipikirkan mama pangeran ketika melihat semua ini. tapi untungya ia sedang tidak berada di rumah untuk beberapa hari kedepan.
“Sudah selesai mainnya?.”
Pangeran datang dengan handuk yang menggantung di pundaknya. Sejenak Aldoura terpana melihat sosok Pangeran yang hanya memakai kaos dan celana pendek dengan rambut basah seperti ini.
“Tampan sekali…”
Ucap Aldoura lirih namun Pangeran dapat mendengarnya dengan jelas yang seketika membuatnya tersipu malu.
“Ora juga cantik kok.”
“Eh…”
Wajah Aldoura nampak merah padam karena malu.
“Jadi beli bakarannya?.”
“Jadi dong.”
“Memangnya kamu belum kenyang sudah makan sebanyak ini?.”
“Hehe…”
Aldoura mengeluarkan ekspresi termanisnya kepada Pangeran hingga membuatnya tak berdaya dan hanya bisa meniyakan semua kemauan kekasihnya tersebut.
“Kamu mau pergi dengan pakaian kantor seperti ini memangnya?.”
Karena tadi padi buru-buru, Aldoura lupa membawa pakaian ganti.
“Pakai punyamu.”
Pangeran terdiam.
“Sayang ambilkan ya… aku mandi dulu terus kita berangkat.”
“A… ah iya aku siapkan.”
Aldoura mendekati Pangeran. Sejenak mereka saling beradu pandang. Aldoura mengankat tangannya lalu mendaratkannya di bahu Pangeran.
“Aku pinjam handuknya ya.”
Aldora menarik handuk Pangeran lalu bergegas pergi ke kamar mandi.
“Ugh…”
Geram Pangeran. Bibir merah milik Aldoura terlihat mempesona malam ini. Ingin sekali ia mengecupnya sebentar saja, tapi si handuk konyol itu malah menggagalkan rencananya.
Dengan bersungut kesal, Pangeran pergi ke ruang ganti untuk mengambilkan pakaian untuk Aldoura. Tapi di sana terlalu banyak pakaian yang besar. Hanya ada beberapa kaos yang berwarna sama dan sisanya pakaian formal untuk dikenakkannya ketika bekerja.
“Hah…harusnya aku beli banyak baju yang bisa dipakai untuk pergi ke tempat biasa.”
Pangeran menghela napas panjang kemudian meraih pakaian yang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Ini mungkin akan nampak kebesaran untuk badan Ora yang kecil.”
Batinnya.