
"Jadi Alexa itu siapa?," tanya Pangeran mulai penasaran. pria itu tak sengaja mendengar ucapan Aldoura beberapa saat yang lalu.
"temanku atau lebih tepatnya sahabat?," Aldoura beranjak dan menuju sebuah lemari yang berada di pojok kamar. ia membuka salah satu lemarinya dan mencari sesuatu di tumpukan paling bawah.
"dimana?," gumamnya terus sibuk mencari sesuatu.
Pangeran sedikit mengernyit tidak mengerti, "apa yang sedang kamu cari sayang?," ucapnya kembali penasaran.
"kok foto-foto milikku jaman dulu tidak ada yah," lantas Aldoura menarik satu kotak besar dan menumpahkan seluruh isinya hingga bercecer di lantai. hanya ada beberapa buku tulis yang diduga buku catatan hariannya dan beberapa pulpen koleksinya sewaktu masih sekolah dasar.
"Aku yakin kalau aku pernah menyimpan foto Alexa di kotak ini tapi kenapa tidak ada." Aldoura tertegun sejenak.
"dan kenapa barang-barang ini semua hanya milikku sewaktu masih sekolah dasar? dimana yang lain?," lanjutnya seketika merasa ada yang mengganjal.
"sayang, tenang lah kita bisa tanyakan nanti ketika ibu sudah pulang," Pangeran meraih pundak Aldoura.
"tapi...."
"bisa saja foto itu sudah hilang sewaktu kalian pindahan sepuluh tahun yang lalu kan,"
"benar juga," Aldoura mengangguk.
__ADS_1
"sayang!," Pekik Aldoura dengan wajah memelas dan mata berbinarnya. jika sudah mengeluarkan ekspresi seperti itu maka sudah dipastikan kalau wanita itu tengah menginginkan sesuatu.
"apa sayang hmmm?," Pangeran mengelus surai rambut milik Aldoura.
"Nanti bulan madunya ke Kanada ya," Aldoura menampilkan senyum termanisnya hingga membuat Pangeran sedikit bergidik ngeri melihatnya.
"kamu tidak perlu memasang wajah seperti itupun pasti akan aku turuti sayang,"
"memangnya kenapa?," Aldoura mengernyit.
"aneh tau nggak jadi merinding," Pangeran mengusap-usap kedua bahunya ngeri.
"dasar kamu ya," Aldoura menipuk lengan Pangeran sedikit keras membuat sang empu meringis kesakitan.
"heii aku juga masih bagian dari kantor, aku belum resign hummmm," Aldoura memanyunkan bibirnya hingga membuatnya semakin menggemaskan.
cup!
cup!
cup!
__ADS_1
cup!
empat kecupan berhasil mendarat di bibir merah Aldoura secara mendadak, membuatnya memerah seketika.
"kamu aku pecat, sekarang tugasmu hanya mengurusi diriku seorang okei istriku,"
cup!
satu kecupan lagi mendarat di kening Aldoura membuat sang empu semakin memerah. Pangeran lantas pergi keluar meninggalkan kekasihnya sendiri di kamar tersebut sembari terkekeh.
"heiii aku belum dapat pesangon," teriak Aldoura masih belum terima.
"setelah menikah aku urus sertifikat rumahnya sebagai pesangonmu Aldoura," ucap Pangeran ketika berada di ruang tamu namun suaranya masih terdengar oleh Aldoura yang sedari tadi masih terdiam di tempatnya.
"hehe dapat serifikat, memang bosku satu ini paling pengertian," Aldoura masih memegangi keningnya.
"astaga berantakan sekali,"
Aldoura teringat kembali dengan barang-barangnya yang berantakan di lantai tadi. membuatnya bergegas untuk segera mengemasnya kembali. dah yah, hari ini hari pertama dia dipecat sebagai karyawan teladan dan berpengaruh di kantor jadi dia harus kembali mengatur jadwalnya sebagai seorang pengangguran sekarang.
"padahal aku masih suka bekerja, dasar Pangeran tidak tau diri mana dipecatnya di kamar lagi sungguh tidak sopan," Aldoura terus mengoceh sembari memunguti benda-benda di depannya.
__ADS_1
"arghhh sekarang apa yang harus kulakukan?," Aldoura kembali termenung.