Ratu Dan Pangeran CEO

Ratu Dan Pangeran CEO
Episode 7


__ADS_3

“Ratu, ke kantin yuk.”


Ajak Elizia ketika jam pelajaran telah berakhir. Sekarang waktunya istirahat makan siang, seluruh penghuni kelas XII Ipa keluar dari ruangan. Sepi, semua murid tengah berjubel di kantin untuk mengantri makanan mereka.


“Hayuk El.”


Di lorong utama sekolah, beberapa anak tengah berkumpul semari asyik mengobrol. Mereka yang kemudian dikenali oleh Elizia adalah Cleo, Oza, si kembar Farid dan Farhan, Listia, dan Rozi. Yah… perkumpulan anak-anak good looking dari kalangan atas.


“Eh Ratu noh.”


Ucap Rozi yang kemudian menghentikan obrolan seru bersama kawannya tersebut. Seluruh pandangan tertuju kepada Ratu, pasang mata itu seolah mengisyaratkan kebencian terhadap keberadaannya. Ratu dan Elizia berhenti beberapa meter di depan anak-anak tersebut. Hening, rasa takut dan trauma masa lalunya di sekolah yang lama kini kembali menghakiminya kembali. Bermacam pikiran buruk yang tergambar di benaknya.


Dua bola mata Ratu tertuju pada mainuman yang di bawa Cleo dan Farid.


“Mati, kalau mereka menumpahkan minuman itu dibajuku tidak menutup kemungkinan besok aku tidak berangkat sekolah karena tak punya seragam lagi.”


Batin Ratu. Tangannya gemetar, tetapi sempat dia sembunyikan di belakang tubuhnya.


“Sini dong kita ngobrol, boleh kan kawan-kawan?.”


Ucap Farid melayangkan senyum sinis.


“Kita lapar, permisi mau lewat.”


Sela Elizia mengacuhkan gerombolan Cleo dan temannya sembari menggandeng tangan Ratu. Dingin, dia merasakan ketakutan Ratu. Entah apa yang telah terjadi di sekolahnya yang dulu. Elizia memilih bungkam dan tak berniat untuk mengetahuinya.


“Cih sombong banget sih.”


Kata Cleo, sedikit undur karena merasa posisinya terancam akan ditabrak paksa oleh Elizia.


“Hahah… Ratu sih, ratu dari hongkong kali ya.”


Celetuk Rozi. Ia lalu mengambil minuman yang di bawa Farid dan melemparnya tepat mengenai punggung Ratu yang sedari tadi berjalan di belakang Elizia. Basah. Satu-satunya baju putih yang dimiliki Ratu habis kotor, terlebih minumannya mengandung pewarna.


“Hahahah… lihat tuh udah item, dekil lagi… hiii kotor banget bajunya.”


Rozi tertawa semakin keras kemudian diikuti oleh yang lainnya.


“Tugas kelompoknya kamu yang kerjain Ratu, awas saja kalau nilai kita sampai jelek.”


Ancam Farid mendekati Ratu yang terdiam kemudian menjambak rambut hingga Ratu nyengir kesakitan. Butiran bening perlahan meluncur membasahi wajah Ratu.


“Hei, lepaskan!.”


Dengan keras Elizia menepis cengkraman kasar Farid.


“Otakmu di mana?, oh… jadi begitu ya caramu memperlakukan orang yang lebih lemah darimu. Iya? Jawab aku Farid?.”


Farid yang selama ini diam-diam Elizia kagumi karena terkenal sebagai ketua osis yang bijaksana serta anak olahraga yang dikagumi pula oleh siswa perempuan yang lainnya, kini ia dikecewakan oleh perilaku asli yang ditunjukkan langsung di depan matanya sendiri.

__ADS_1


Karena begitu kesal, Elizia sampai tak sadar telah menarik kerah baju Farid.


“El… kita itu harus memanfaatkan keadaan.”


Ucap Farid merendahkan suaranya.


“Omong kosong, kau tak taukan gimana rasanya jadi dia, dia cuma punya satu baju, dan sekarang kotor karena ulah tololmu, besok dia tidak bisa masuk sekolah gara-gara kamu.”


Bantah Elizia sembari beberapa kali memukul pundak Farid dengan keras.


“Terus aku harus gimana?.”


Tanya Farid memansang raut muka datar.


“Minta maaf kau ini ketua osis, punya otak sedikit kenapa.”


“Hahaha kau banyak ngomong ya ternyata.”


Sejenak Elizia menghela napas panjang, berusaha kembali menata perasaan kejanggalan di hatinya.


“Ayo Ratu jam makan kita hampir habis.”


Berbicara banyakpun juga bakalan sia-sia karena kesombongan teramat sulit ditembus, kecuali diri mereka sendiri yang akan merubahnya.


...###...


Di kantin yang sedang ramai murid-murid, tentu saja banyak yang mengamati Ratu. Ada yang tertawa keras, ada yang tersenyum serta ada juga yang saling berbisik.


Ucap ratu ketika perasaan risinya krena dilihat banyak anak lain tidak bisa ditahan lagi.


“Eh dia yang namanya Ratu itu kan, anak baru.”


“Iya, hahah Ratu dari Hongkong kali ya.”


“Nggak sesuai sama orangnya.”


“Pengen muntah.”


“Hahahah.”


“Cih ngapain dia di sini sih, selera makanku jadi hilang nih.”


“Menganggu pemandangan.”


“Hahahah.”


“Pucet tuh dia kayaknya bentar lagi pingsan tuh.”


“Biarin aja ogah banget nolongin.”

__ADS_1


Deghhh.


Beberapa ejekan anak-anak terdengar begitu nyaring di telinga Ratu. Jantungnya berdetak dengan irama yang tak terarah. Seolah tak ada cukup ruang untuknya sekedar leluasa untuk bernapas dengan benar.


“Aku pergi El.”


Dengan pandangan blur karena air mata yang tak mau berhenti membendung, Ratu berlari kencang tanpa memperdulikan siapa yang baru saja dia lewati. Entah guru, kepala sekolah atau yang lainnya. Ia berlari menerobos ruang hampa yang ada di depannya. Membiarkan kesedihannya ikut dirasakan oleh angin yang berlaru berlawanan arah dengannya. Hingga pada akhirnya Ratu berhenti di toilet dekat kelasnya. Sepi. Di sana, ia menangis sejadi-jadinya, menyadari dirinya begitu lemah dan tak punya banyak pembelaan atas ketidak salahannya.


“Apa yang salah aku cuma ingin merasakan jadi murid sekolah. Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun dengan mereka, tapi kenapa harus aku yang selalu kena?. Aku capek!!!, aku emosi!!!, aku cuma pengen dapat ijazah SMA, apa terlalu sulit untukku menikmati semester akhir sekolahku ini?.”


Semua yang ada di hati, Ratu keluarkan. Hingga dadanya semakin terasa sesak tak kuat lagi menahan beban pikirannya.


“Ratu.”


Dari luar terdengar suara Elizia yang tesenggal sehabis kesana-kemari mencarii Ratu.


“Ratu ayo kembali ke kelas, pak Anton sebentar lagi masuk. Apa kau baik-baik saja?.”


Ajak Elizia sembari sesekali menggedor pintu toilet.


“Ah bodoh, perasaanmu pasti sedang kacau sekarang. Aku minta maaf karena tidak bisa banyak membantu.”


Ratu bungkam. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Karena sakit di dadanya masih belum kian mereda, justeru semakin menjadi.


“Ratu, ayo keluar. Kau diam juga tidak akan meyelesaikan masalah.”


“El, kamu duluan saja sana, dan aku minta tolong untuk ambilkan tasku. Aku pingin pulang.”


Ucap Ratu tak bisa menyembunyikan sesenggukannya.


“Kau akan pulang?, Ratu….”


“Aku bilang ambilkan sekarang juga El!.”


Segera Ratu memotong ucapan Elizia dengan meninggikan nada suaranya.


“Oke aku ambilkan.”


Bergegas Elizia berlari menuju ke dalam kelas untuk mengambil tas milik Ratu.


Selang beberapa menit, Elizia telah sampai lagi di toilet dan didapatinya ratu sudah menunggu di depan pintu, matanya yang sembab terlihat begitu jelas hingga membuat Elizia ikut merasakan iba.


“Hati kamu pasti sakit banget ya Ratu.”


Sembari memberikan senyuman kecut di ujung bibirnya, ratu segera mengapai tasnya yang dipegang Elizia.


“El, sekarang jangan panggil aku Ratu. Aku bukan Ratu. Kamu jangan dekat-dekat denganku, kasihan kalau kamu juga ikut dibully sama anak-anak karena selalu membelaku.”


“Ratu…”

__ADS_1


Air mata Elizia tak bisa tertahan lagi ketika mendengar Ratu yang secara paksa harus mengakhiri hubungan pertemanan mereka hari ini.


__ADS_2