Red Hair Woman And MR. MAFIA

Red Hair Woman And MR. MAFIA
INFORMASI


__ADS_3

Saat ini Aiden masih berada di Kota New York. Sudah hampir satu minggu ia berada di kota itu sejak peristiwa di mana ia menodongkan senjatanya ke dahi Fressia.


Melupakan? Tentu saja tidak. Aiden justru sedang menunggu informasi dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Ivander. Ia tak ingin gegabah dan salah mendapatkan data.


"Kapan aku bisa mendapatkan informasi itu, Grey?" tanya Aiden sambil memeriksa beberapa berkas yang ada di atas meja kerjanya.


"Ivan belum mengabariku lagi, Tuan. Sepertinya ia masih memerlukan waktu untuk mendapatkan dan memeriksanya," jawab Grey.


"Lalu bagaimana keadaan Tristan?"


"Tak ada yang berubah, Tuan. Nona Fressia masih menemani keseharian aktivitas Tristan."


Aiden merasa sedikit kesal karena lambatnya informasi yang dikumpulkan oleh Ivander. Ingin sekali rasanya ia membuka penyamaran Fressia dan memperlihatkan pada wanita itu bahwa tak akan mudah berhadapan dengannya.


"Kamu sudah meminta guru Tristan untuk datang ke rumah kan, Grey?" tanya Aiden lagi.


"Sudah, Tuan. Nona Fressia dan Tristan tak akan pergi ke mana pun selama kita mengumpulkan informasi dan mendapatkan data yang akurat," jawab Grey.


"Baiklah kalau begitu lakukan semuanya secepat mungkin. Aku tak bisa menunggu terlalu lama lagi."


"Baik, Tuan," Grey meninggalkan Aiden sendiri di dalam ruang kerjanya. Aiden mengambil ponselnya dan ingin sekali ia menghubungi Tristan, tapi rasanya ia masih belum siap. Ia ingin mendapatkan bukti bukti, agar bisa memperlihatkan pada putranya itu bahwa Fressia bukanlah wanita yang baik.


*****


"Aunty melamun lagi?" tanya Tristan. Saat ini mereka sedang berada di balkon kamar tidur Tristan dan memandangi kolam renang yang ada di halaman belakang.


"Tidak, sayang. Aunty tidak melamun. Aunty hanya sedang berpikir."


"Jika Aunty memiliki masalah, ceritakanlah padaku. Bukankah kalau kita berbagi, maka semua akan terasa lebih ringan," ucap Tristan layaknya orang dewasa.


Fressia tersenyum kemudian memeluk anak asuhnya itu. Ia merasa sangat tenang saat mendekap tubuh Tristan. Ada sesuatu di dalam tubuhnya yang bergetar setiap kali ia memeluk Tristan.


"Terima kasih, Tris."


"Tak perlu berterima kasih, Aunty. Kita kan sahabat dan sahabat itu harus saling membantu."


Fressia kembali tersenyum. Ia merasa bangga pada Tristan, terutama pada pemikiran pemikirannya yang dewasa jika dibandingkan dengan anak anak seumurannya.

__ADS_1


Sebenarnya Fressia ingin sekali pergi dari Kediaman Aiden. Meskipun sudah berlalu sekitar satu minggu sejak kejadian itu, Fressia masih takut jika tiba tiba Aiden kembali ke sana. Kalau bisa ia ingin menghilang dan tak melihat kehadiran majikannya itu.


Tokk ... Tokk ... Tokk ...


Suara ketukan terdengar dan Fressia pun segera bangkit. Ia membuka dan tampak sosok seorang pelayan.


"Aunty," sapa Fressia.


"Guru yang akan mengajar Tristan sudah datang. Ia menunggu di ruang kerja Tuan Aiden," ucap pelayan berusia paruh baya itu.


"Terima kasih, Aunty," Fressia segera masuk ke dalam dan kembali melangkah ke arah balkon.


"Tris, Mr. Oza sudah datang," ujar Fressia yang kemudian mengambil buku buku yang Tristan perlukan.


Tristan melangkah malas dari sofa yang ia duduki. Ia melihat ke arah Fressia yang sedang mengambil beberapa buku miliknya.


"Aunty, aku ingin pergi ke sekolah. Aku tidak mau belajar di rumah seperti ini," gerutu Tristan, "Aku ingin bertemu teman temanku. Aku ingin bermain sepak bola bersama mereka."


Fressia melangkah mendekati Tristan kemudian tersenyum, "Maafkan Aunty, sayang."


"Aunty tidak perlu minta maaf. Aunty tidak bersalah. Baiklah aku akan belajar, Aunty jangan menyalahkan diri sendiri lagi," ucap Tristan.


Ceklekkk


Pintu ruang kerja terbuka dan tampak sosok seorang guru yang akan mengajar Tristan. Seorang pria berkacamata berusia sekitar tiga puluh tahun yang dipilihkan khusus oleh Ivander, tentu setelah ia memeriksa semua hal tentang pria tersebut.


"Selamat siang Mr. Oza," sapa Tristan.


"Selamat siang, Tristan. Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Tobias Oza.


"Membosankan. Aku ingin sekolah bersama teman temanku," jawab Tristan.


"Selamat siang Mr. Oza," sapa Fressia, kemudian meletakkan buku buku milik Tristan di atas meja.


"Selamat siang, Nona Fressia," balas Tobias. Tobias tersenyum ke arah Fressia. Setiap kali ia melihat Fressia, ada suatu rasa di dalam hatinya yang tak bisa dijabarkan dengan kata kata, tapi ia tahu itu bukan cinta.


"Saya permisi dulu kalau begitu. Tris, yang rajin belajarnya. Aunty akan menyiapkan makan siang untukmu," ucap Fressia.

__ADS_1


"Aunty di sini saja, temani aku," pinta Tristan.


"Kalau Aunty di sini, nanti kamu tidak akan fokus belajar. Aunty siapkan makan siang kesukaanmu saja ya," ucap Fressia lagi.


"Aku tidak perlu makanan kesukaanku. Aku ingin Aunty tetap di sini."


"Duduklah di sofa, Nona Fressia. Tristan pasti akan lebih fokus jika anda berada di sini," ucap Tobias. Ia tak mau jika saat ia mengajari Tristan, pikiran anak laki laki itu justru malah memikirkan pengasuhnya.


"Baiklah kalau begitu. Aunty akan duduk di sana, kamu belajar ya," Fressia mengusap rambut Tristan, membuat Tristan tersenyum.


Benar saja, Tristan belajar dengan sangat fokus. Ia bahkan bisa mengerti semuanya dengan cepat. Namun, Tobias lah yang justru tidak fokus. Ia terus mencuri pandang ke arah Fressia, berusaha mencari tahu tentang rasa apa yang ada dalam dirinya.


*****


"Siapa guru privat yang mengajar Tristan, Grey?" tanya Aiden.


"Mr. Tobias Oza," jawab Grey.


"Tobias Oza?" gumam Aiden.


"Anda tidak salah jika mengenal nama itu, Tuan. Mr. Tobias Oza adalah kakak Nona Tishara," ucap Grey.


"Mengapa memilihnya? Apa tidak ada yang lain?" tanya Aiden.


"Ivander yang memilihkannya, Tuan. Mr. Tobias terkenal akan kecerdasannya. Ia memiliki bimbingan belajar yang sangat terkenal dan menguasai hampir bahasa bahasa di dunia," jelas Grey.


Aiden menghela nafasnya pelan. Ia diam dan mencerna semua yang dikatakan oleh Grey.


"Lalu bagaimana dengan informasi yang kuminta,apa sudah ada titik terangnya?" Tanya Aiden.


"Ivan sudah menemukannya dan akan segera menemui anda malam ini, Tuan," jawan Grey.


"Baiklah, kita pulang sekarang. Minta Ivan ke Mansion saja," ujar Aiden.


"Baik, Tuan."


Aku sudah tak sabar untuk mengetahui semuanya. Jika ia memang mata mata Tuan Dalin, aku akan pastikan ia akan menyesal telah menyusup ke dalam mansionku. - batin Aiden.

__ADS_1


🧡 🧡 🧡


__ADS_2