
Fressia yang telah memandikan Tristan pun turun ke bawah karena mereka akan sarapan.
"Daddy!" teriak Tristan saat melihat keberadaan Aiden.
Aiden tersenyum, tapi tiba tiba langkah Tristan melambat. Ia memeluk Fressia dan menjauhkannya dari Aiden.
"Aunty diam di sini dulu, aku akan berbicara dengan Daddy," ucap Tristan.
Fressia mengikuti kemauan Tristan. Ia berdiri diam sementara Tristan melangkah mendekati Aiden.
"Daddy, aku merindukanmu," Tristan memeluk Aiden dengan erat.
"Daddy juga merindukanmu," Aiden mengecup pucuk kepala Tristan.
Tristan duduk di kursi yang berada di sebelah Aiden, kemudian menatap ayahnya itu.
"Dad ..."
"Hmm ... Ada apa?"
"Daddy tak akan memarahi Aunty Fressia lagi kan? Aku tak mau Daddy marah marah lagi. Kalau nanti Aunty pergi bagaimana? Aku tak mau pengasuh lain," ucap Tristan penuh harap.
"Maafkan Daddy, sayang. Waktu itu Daddy sedang emosi saja karena mendengar bahwa dirimu diculik. Daddy tak bermaksud untuk marah marah."
"Benarkah? Aunty! Daddy tak akan marah lagi pada Aunty," Tristan menoleh pada Fressia seakan menjelaskan kembali jawaban Aiden.
__ADS_1
Fressia hanya tersenyum tipis karena perasaannya masih belum bisa ia jelaskan. Memaafkan karena fitnahan yang begitu menyakiti hati? Ntahlah.
Mereka pun sarapan bersama. Seperti biasa, Fressia akan membanti Tristan makan sampai habis. Ia juga menyuapkan makanan untuk dirinya sendiri di sela sela aktivitasnya. Sementara itu, Aiden terus menatap ke arah Fressia. Wajah wanita itu memang sudah berubah. Ia bukan lagi Tishara Oza, melainkan Fressia Moxie. Namun, bagi Aiden wanita itu tetaplah ibu kandung dari putranya. Wanita yang sangat cantik yang membuat Aiden gelisah dan takut jika ia jatuh cinta lagi, apalagi jika ibu kandung Tristan kembali muncul.
"Dad, bolehkah aku kembali ke sekolah? Aku bosan jika harus belajar di rumah terus menerus," pinta Tristan.
Aiden belum bisa menangkap siapa penculik Tristan karena ia mendapat pelindung yang kuat. Jika ia membiarkan Tristan keluar lagi, maka itu akan sangat berbahaya. Belum lagi Fressia adalah wanita yang ia cari cari selama ini. Tak mau jika keduanya berada dalam bahaya.
"Apa kamu tidak menyukai Mr. Oza?" tanya Aiden.
"Suka! Sangat suka! Uncle sangat baik, Dad. Ia mengajakku belajar sambil bermain."
"Uncle?"
"Ya! Uncle tak memiliki keluarga lagi, jadi aku mengatakan padanya bahwa ia bisa menganggapku dan Aunty sebagai keluarganya," jawab Tristan.
"Apa hari ini Mr. Oza juga akan datang?" tanya Aiden pada Fressia. Ia sebisa mungkin akan menjalin komunikasi kembali dengan Fressia agar wanita itu nyaman kembali dengan kehadirannya.
"Iya, Tuan," jawab Fressia singkat.
Aiden tak akan mengatakan apapun dulu pada Tobias, sebelum ia bisa meluluhkan kembali hati Fressia. Jika Tobias sampai mengetahui apa yang terjadi, bisa saja pria itu akan membawa Fressia pergi. Dan ia tak mau hal itu sampai terjadi. Ia tak mau kehilangan untuk kedua kalinya.
Tak berselang lama, Grey dan Ivander yang juga tinggal di Kediaman Aiden itu ikut sarapan sesuai perintah Aiden. Awalnya mereka tak mau ikut karena tak ingin mengganggu kebersamaan keluarga Aiden.
"Tuan," sapa Grey dan Ivander.
__ADS_1
"Duduklah," perintah Aiden.
"Ehmm Tuan, Tuan Libero, Nona Amartha, dan beberapa rekan bisnis anda mengajak berkumpul bersama. Mereka mengatakan bahwa ada proyek bisnis yang ingin mereka bicarakan dengan anda," ujar Ivander yang belakangan ini memang beetugas menggantikan Aiden di Anlee Washington.
"Atur saja pertemuan dengan mereka akhir minggu depan. Minggu ini aku tidak bisa," ucap Aiden. Rencananya ia ingin memiliki waktu yang berkualitas dengan Fressia dan Tristan.
"Di restoran biasa, Tuan?" tanya Ivander.
"Di sini saja," jawab Aiden.
"Baik, Tuan."
Setelah itu mereka menyelesaikan sarapan mereka. Aiden pun pamit karena ia akan pergi ke Anlee Group.
"Daddy pergi dulu, sayang," ucap Aiden pada Tristan.
"Fre, aku titip Tristan. Terima kasih juga karena kamu masih bertahan di sini meski sikapku yang kurang baik. Aku berjanji akan menjadi lebih baik," ucap Aiden.
Fressia mendengarnya tiba tiba saja menjadi sedikit heran, antara mengerti dan tidak dengan apa yang dikatakan oleh majikannya itu. Seperti biasa, Fressia hanya terdiam dan menatap kepergian Aiden.
Tristan berlari menuju pintu depan kediaman mereka dan berteriak, "See you, Dad. I love you!"
"I love you too," balas Aiden sambil tersenyum.
Hati Aiden sedang gembira saat ini karena bisa kembali dekat dengan putranya. Selain itu, ia telah menemukan wanita yang ia cari selama ini. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang ke rumah.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡