Red Hair Woman And MR. MAFIA

Red Hair Woman And MR. MAFIA
MENCARI CELAH


__ADS_3

Duduk langsung berhadapan dengan Aiden, membuat Fressia terus saja menundukkan kepalanya. Ia masih tidak nyaman berada berdekatan dengan Aiden. Sementara itu Tristan justru dengan lahap memakan kentang goreng dan sebuah hamburger besar yang dari tadi sudah membuat air liurnya ingin menetes.


"Mengapa kamu menunduk terus? Apa ada sesuatu yang salah pada diriku hingga kamu tidak mau menatapku?" tanya Aiden yang malah membuat Fressia semakin salah tingkah.


"Tidak, hanya kepalaku masih sedikit pusing, Tuan," jawab Fressia beralasan.


"Lihat aku, hmm ..."


Ingin beralasan yang lain lagi, tapi rasanya tak mungkin. Fressia akhirnya mengangkat kepalanya dan melihat Aiden yang kini tengah menatapnya.


Deghhhh


Sungguh di luar nurul. Jantungnya kembali berdetak dengan cepat. Tatapan Aiden tak setajam biasanya, kini yang Fressia lihat hanya tatapan mata yang begitu teduh. Namun hal itu justru membuat Fressia kembali menundukkan kepalanya. Ia takut jantungnya akan bermain konser kemudian melompat keluar.


Aiden tersenyum tipis saat melihat Fressia yang sepertinya salah tingkah. Ia kemudian menggeser duduknya dan kini berhadapan dengan Tristan.


"Lezat?" tanya Aiden.


"Ini luar biasa, Dad. Apa aku boleh tambah?" tanya Tristan. Kapan lagi ia diperbolehkan makan makanan cepat saji, jadi harus benar benar puas.


"Makanlah apapun yang kamu suka, tapi jangan terlalu banyak juga. Tak baik untuk kesehatanmu," jawab Aiden.

__ADS_1


"Aunty! Ayo temani aku pesan lagi," Tristan berusaha menarik tangan Fressia menuju ke area konter pemesanan. Namun sebelum mereka beranjak pergi, Aiden memberikan kartu miliknya untuk digunakan.


"Pakai ini," ucap Aiden.


"Thank you, Dad!" Tristan sangat bersemangat sekali. Melihat Tristan membawa Fressia pergi, ia kini bisa melihat kebersamaan antara ibu dan anak yang sejak dulu ia bayangkan.


Aku harus segera mendapatkanmu. - batin Aiden.


*****


"Dalin! Apa kamu sudah menyiapkan semua rencananya dengan matang?"


"Tentu saja! Aku tak akan pernah kalah dari pria bernama Aiden itu!" seru Dalin.


"Secepatnya! Aku bingung denganmu, mengapa kamu ingin menjatuhkannya? Bukankah kamu tak bermasalah dengannya?" tanya Dalin.


"Aku memang tak bermasalah dengannya, tapi kekasihku iya. Ia telah membuat kekasihku tak pernah mau mengakuiku dan hanya menganggapku sebagai pajangan dan dihubungi kalau ia butuh."


"Kalau hanya masalah seperti itu, bukankah kamu tinggal mencari wanita lain saja?"


"Tidak! Aku akan membuat wanita itu mencintaiku sampai mau mati, setelah itu aku akan membuangnya. Memperlakukannya sama seperti dia memperlakukanku saat ini."

__ADS_1


"Jadi karena masalah cinta yang bertepuk sebelah tangan?"


"Bukan hanya itu, aku adalah putra Jion Demon. Tapi mengapa ayahku malah memberikan kekuasaan tertinggi 'Dark Shades' padanya. Aku lebih berhak!"


Dalin tertawa dengan kencang, "Bukankah seharusnya kamu berkaca terlebih dahulu, mengapa ayahmu tak memberikan jabatan itu padamu."


"Jaga ucapanmu! Ayahku tak mau aku dikenal banyak orang. Ia bahkan tak pernah mengenalkanku sebagai putranya," ucap pria itu dengan kesal.


Dalin tertawa dalam hati, ia tak mungkin memberitahu pria di hadapannya ini, bahwa Jion pernah melakukan kesalahan pada keluarga Graham.


Jion salah sasaran saat diminta seorang klien untuk membunuh. Jion malah membunuh kakek dan nenek Aiden, sementara seharusnya ia membunuh tetangga sebelah rumah keluarga Graham. Sejak hari itu, tetangga keluarga Graham malah melarikan diri hingga Jion mengalami kegagalan dalam misi untuk pertama kalinya.


Mendengar bahwa Aiden secara mandiri mencari pembunuh keluarganya, membuat Jion merekrutnya. Ia membiarkan Aiden berada di dalam klan mafianya agar Aiden tak pernah mencurigainya.


"Aku pastikan akan mengambil semua yang seharusnya milikku!" teriak pria itu.


"Lakukanlah! Dan jangan lupakan aku jika kamu berhasil. Kita bisa mulai berbisnis dan itu akan sangat menguntungkan!"


Pria itu tersenyum miring, membayangkan kehancuran Aiden. Ia bahkan berpura pura dekat dengan Aiden dulu agar bisa mencari celah. Namun, tiba tiba saja Aiden menjauh dari perkumpulan mereka, hingga ia kesulitan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


Maaf up nya dikit, lagi numpuk kerjaan di RL. Begitu mau nulis, udah keburu ngantuk 😅


__ADS_2