Red Hair Woman And MR. MAFIA

Red Hair Woman And MR. MAFIA
JANGAN PERGI


__ADS_3

Tobias kembali ke Kediaman Aiden di mana Fressia dan Tristan berada. Namun, ia tak sendiri. Ia kembali bersama dengan Karen.


Saat suara mobil terdengar memasuki pekarangan, Fressia dan Tristan langsung bangkut berdiri dan melihat Tobias telah kembali bersama dengan Karen.


"Aunty!" teriak Tristan.


Ia berteriak senang karena rumahnya akan ramai hari ini. Ia tak hanya berduaan saja dengan Mommynya.


"Hai, Tris!"


"Uncle menjemput Aunty?" tanya Tristan menoleh pada Tobias.


"Ya, Uncle menjemputnya langsung ke bandara. Hampir saja Aunty mu ini mau pergi meninggalkan kita," ucap Tobias yang langsung mendapat pelototan dari Karen.


"Kay!" Fressia yang kaget dengan kehadiran Karen di sana pun mulai bertanya tanya di dalam hatinya.


"Aku akan menceritakannya," ucap Tobias kemudian merangkul Fressia dan juga menggandeng tangan Karen, sementara Karen sendiri menggandeng tangan Tristan.


*****


"Kalian sepasang kekasih?" tanya Fressia yang tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tobias.


"Tidak! Kami bukan sepasang kekasih," Karen yang menjawab pertanyaan Fressia, membuat Fressia menautkan kedua alisnya karena jawaban yang berbeda antara keduanya.


"Belum ada kata putus di antara kita. Aku minta maaf jika pernah memfitnahmu dulu. Aku tahu aku salah mendekatimu dan hanya membullymu, kemudian menyebarkan kebohongan yang menyakitimu. Aku ..."


"Hentikan! Aku tak ingin mendengarnya lagi. Yang lalu biarlah berlalu, jangan diingat lagi," pinta Karen.


Tiba tiba saja Fressia memukul bahu Tobias, "Kakak menyakitinya? Ia sahabatku, bahkan ia sudah menjadi saudaraku."


Karen tampak diam saja saat melihat Tobias dipukul oleh Fressia. Ia tak berniat membela ataupun menahan Fressia melakukannya. Ia sudah cukup kaget saat mendengar Tobias menceritakan semuanya di dalam mobil saat perjalanan mereka tadi.


"Kita bermain saja yuk, Tris!" ajak Karen.


"Ayo, Aunty!" Tristan akhirnya meninggalkan Fressia dan Tobias yang masih saja bertengkar karena masalah Karen.


*****

__ADS_1


Aiden menghela nafasnya sedikit kasar. Sudah hampir enam bulan ia melakukan terapi setelah operasi pada kakinya. Bukan hal yang mudah baginya menghadapi ini semua, bahkan rasanya ia ingin sekali menyerah.


"Grey, bagaimana perusahaan?"


"Semua baik baik saja, Tuan."


"Dad dan Mom?" tanya Aiden.


"Mereka belum mengetahui apapun karena kami masih menutupinya. Anda juga masih melakukan meeting secara online, sehingga tak terlalu ada yang curiga," jawab Grey.


"Aku lelah, Grey. Apa mungkin aku bisa sembuh?" tanya Aiden seakan sudah pasrah dengan keadaannya.


"Dokter mengatakan bahwa perkembangan anda cukup baik. Saraf pada kaki anda pun sudah mulai merespon dengan baik, meski masih lemah."


"Aku merindukan mereka, Grey," ucap Aiden.


"Kalau begitu hubungi mereka, Tuan. Mereka juga pasti merindukan anda."


"Tapi ... Tampaknya mereka tak ingat padaku lagi. Bahkan Bricks sudah tak pernah mengatakan bahwa mereka menanyakan tentangku."


Aiden menghela nafasnya pelan dan tampak menatap ponselnya yang berada di atas nakas. Ingin sekali ia memghubungi, tapi ia tak ingin terlihat lemah dan tak berguna di hadapan Fressia dan Tristan.


"Tinggalkan aku sendiri, Grey."


Grey akhirnya keluar dari ruang rawat Aiden. Ia tahu atasannya itu sedang membutuhkan waktu untuk sendiri.


*****


"Kamu merasa dirimu kuat?"


"Fre ...," Aiden menatap Fressia seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Katakan padaku, apa kamu merasa dirimu kuat? Kalau iya, aku akan pergi dari sini," ucap Fressia.


Aiden langsung menggenggam tangan Fressia. Bertahun tahun ia mencari keberadaan wanita berambut merah yang merupakan ibu kandung dari putranya, tak mungkin jika ia mengusirnya saat ini.


"Jangan pergi," pinta Aiden.

__ADS_1


"Lalu mengapa kamu tak pernah pulang?"


"Dari mana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Aiden pada akhirnya.


* Flashback On


Fressia termenung seorang diri di balkon ruang duduk di lantai atas. Tobias yang sedang bermain dengan Tristan di lapangan bola khusus yang dibuat oleh Aiden, menatap adiknya itu dari kejauhan.


"Sayang, aku titip Tristan sebentar."


Tobias langsung masuk ke dalam dan naik ke lantai atas. Ia perlu bicara dengan Fressia.


"Tishara Oza, apa yang sedang kamu pikirkan?"


Fressia langsung memutar tubuhnya ketika Tobias memanggil nama lengkapnya.


"Apa kamu memikirkan Aiden?" tanya Tobias.


"Apa dia tak akan pernah kembali?" tanya Fressia.


"Ia akan kembali. Ia sudah berjanji padaku akan kembali dan menikahimu."


"Tapi di mana dia? Mengapa tak pernah sekalipun ia menghubungiku? Setidaknya ia menghubungi Tristan jika ia tak menginginkanku," ucap Fressia yang mulai merasa rendah diri.


Tobias mendekat kemudian memeluk Fressia, "Ia menginginkanmu, ia mencintaimu, karena itulah ia tak mau membuatmu bersedih dengan keadaannya."


Fressia langsung memundurkan tubuhnya kemudian menatap Tobias, "Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?"


Akhirnya Tobias menceritakan semuanya karena ia tak mau melihat Fressia bersedih. Menurut Tobias, Aiden juga seharusnya tak menutup dirinya. Bukankah dengan kebersamaan mereka, justru kesembuhan akan lebih cepat ia dapatkan?


"Katakan padaku di mana dia? Aku akan ke sana," ucap Fressia.


"Aku titip Tristan ya, Kak," ujar Fressia kemudian merapikan beberapa pakaiannya. Ia langsung menemui Bricks yang diminta Aiden untuk menjaga kediamannya. Ia meminta Bricks untuk mengantarkannya pada Aiden, kalau tidak ia akan pergi sendiri.


* Flashback Off


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


__ADS_2