
Aiden terus saja menatap Fressia yang sedang duduk di sofa sambil mengupasi buah apel. Grey yang biasanya ada di sana, malah tak terlihat sama sekali.
"Kamu marah?" tanya Aiden yang melihat Fressia hanya diam sejak tadi.
"Menurutmu?"
"Maaf ... Aku hanya tak ingin kalian mengkhawatirkanku," ucap Aiden.
"Justru ketidakhadiranmu membuat kami lebih khawatir. Apa kamu tidak tahu bagaimana Tristan terus bersedih karena menganggap kamu tak memperhatikannya?"
Aiden yang kini terdiam, "Aku tak bisa berjalan. Bukankah aku menjadi tak berguna untuk kalian? Aku hanya akan merepotkan saja."
Fressia yang sudah selesai mengupas apel dan memotongnya menjadi kecil kecil pun bangkit. Ia duduk persis di samping Aiden dan mulai menyuapi pria yang dulu adalah majikannya itu.
"Makanlah dulu," ucap Fressia.
Fressia merasa sedikit canggung karena Aiden terus saja menatap dirinya.
"Jangan menatapku terus," ucap Fressia malu.
Aiden meraih tangan Fressia kemudian menggenggamnya. Fressia yang sedang memegang mangkok berisi apel jadi salah tingkah.
"Tunggu, jatuh nanti," ucap Fressia.
"Biarkan saja jatuh, yang penting kamu tidak," wajah Fressia langsung memerah mendengar gombalan Aiden.
"Apa kamu bersedia menikah denganku? Dengan keadaanku yang seperti ini ... Aku akan sangat merepotkanmu. Aku ...."
Aiden sangat kaget saat Fressia menautkan bibir mereka berdua. Namun saat saat seperti itu tak mungkin di sia sia kan oleh Aiden, ia menahan tengkuk Fressia dan memperdalam ciuman mereka..
"Aku bersedia," ucap Fressia di sela sela ciuman mereka.
Senyum Aiden terukir dengan indah di wajahnya, membuat detak jantung Fressia tak bisa dikendalikan lagi.
__ADS_1
"Aku akan meminta Grey mempersiapkan pernikahan kita. Pernikahan yang mewah. Setelah itu, aku akan menjalani terapi dari rumah saja."
"Aku tak memerlukan sebuah pernikahan yang mewah, bagaimana kalau kita menikah sederhana saja, yang hanya dihadiri oleh keluarga," pinta Fressia.
"Kamu yakin?"
"Hmm ... Aku tak punya siapa siapa lagi, kecuali Tristan dan kakakku, Mom Roxane dan Karen."
"Aku akan memberikan pernikahan yang sederhana, tapi sangat indah. Kami akan mengingatnya dan menjadikan hari itu sebagai hari paling bahagia di hidupmu," ucap Aiden.
*****
"Dad!" teriak Tristan saat melihat kedatangan Aiden. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Aiden yang menggunakan kursi roda.
"Halo, Tris."
"Daddy sakit? Apa yang terjadi dengan Daddy?" tanya Tristan khawatir sambil berjalan mendekat dan langsung memeluk Aiden.
"Daddy sedang kelelahan bekerja, sayang. Oleh karena itu Daddy harus banyak istirahat," jawab Fressia yang tak ingin membuat Tristan khawatir.
Hati Aiden menghangat. Melihat Tristan begitu perhatian padanya dan Fressia yang menerima dirinya apa adanya, membuat dirinya bersyukur tak henti di dalam hatinya.
"Keluarga adalah tempat terbaik. Kamu akan segera pulih," ucap Tobias dan menepuk bahu Aiden.
"Thank you."
Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu. Bersama Fressia dan Tristan, Aiden merasa ia lebih hidup dari pada saat ia berada di rumah sakit berdua saja dengan Grey. Tobias telah kembali ke apartemennya sendiri. Tobias telah merencanakan sebuah pernikahan dengan Karen. Ia tak mau menunggu lama dan membiarkan Karen bertemu dengan pria lain.
"Kita pergi terapi bersama hari ini," ucap Fressia.
"Apa dokternya tidak bisa datang? Mengapa kita harus pergi?" tanya Aiden.
Ia lebih merasa nyaman jika terapi dilakukan di rumah. Ia tak ingin keluar dengan kondisinya yang seperti itu.
__ADS_1
"Kamu tak mau keluar? Kita akan berjalan jalan di Mall sepulang dari terapi," ucap Fressia.
"Kamu tidak malu berjalan bersamaku?" tanya Aiden.
"Untuk apa aku malu, memangnya kamu tidak pakai baju?" goda Fressia.
Aiden menautkan kedua alisnya kemudian berbalik menggoda Fressia, "Kamu malu kalau aku tidak pakai baju? Dulu saja kamu tidak malu ..."
"Ai, hentikan! Jangan ingatkan aku tentang itu," Wajah Fressia memerah jika mengingat malam panas mereka.
Aiden menarik Fressia hingga wanita itu terjatuh di pangkuannya, "Kapan kamu mau menikah denganku? Aku sudah tidak sabar ingin membuat adik untuk Tristan."
Wajah Fressia semakin memerah mendengar ucapan Aiden yang tanpa filter itu, ia pun berusaha bangun dari pangkuan Aiden, tapi Aiden menahannya.
"Jangan ke mana mana, aku ingin kamu di sini."
"Kapan Adeline akan melahirkan?" tanya Fressia. Aiden telah menceritakan pada Fressia tentang keluarganya, terutama tentang kisah Adeline. Namun, Aiden belum menceritakan pada keluarganya tentang Fressia dan Tristan.
"Mommy bilang sekitar minggu depan."
"Bagaimana kalau satu bulan setelah adikmu melahirkan. Jadi ia bisa menghadiri pernikahan kita," ucap Fressia.
"Baiklah, tapi sebelum itu ... Aku akan pergi menemui mereka. Aku harus mengatakan pada mereka tentang kebenaran yang kusimpan selama bertahun tahun," ujar Aiden.
Fressia tersenyum dan memegang tangan Aiden, "Apa mereka akan menerimaku?"
"Kedua orang tuaku adalah orang tua yang baik. Mereka tak pernah memaksakan kehendak mereka karena yang mereka inginkan adalah kebahagiaanku. Lagi pula, mereka pasti mengenal kedua orang tuamu, bukankah mereka turut hadir dalam acara pernikahan adikku," ucap Aiden.
"Ya, kamu benar. Aku hanya bisa berharap kedua orang tuaku tak memiliki masalah dengan kedua orang tuamu," ucap Fressia.
Rambut Fressia sudah mulai terlihat warna merahnya, terutama di bagian ujung dekat pangkal rambut. Ia tak lagi mengecat rambutnya, seperti permintaan Tristan dan juga Aiden.
"Kamu tahu, kamu sangat seksi sekali dengan rambut merahmu ini. Aku sudah tak sabar untuk menikahimu."
__ADS_1
"Ishhh ... Kamu ini pikirannya. Ayo kita pergi terapi dulu."
🧡 🧡 🧡