
Setelah kejadian di pantai tadi, Aiden membiarkan Fressia beristirahat. Sementara ia menjaga dan bermain dengan Tristan. Kini, mereka pun makan malam bersama.
"Makanlah," ucap Aiden.
"Ini enak sekali, Aunty! Tadi aku sudah mencicipinya," ujar Tristan tersenyum dengan menampakkan giginya.
"Terima kasih," ucap Fressia. Ia masih sedikit menundukkan kepalanya karena masih merasa malu jika teringat kejadian tadi, saat Aiden menggendongnya.
"Pipi Aunty merah," ucap Tristan yang membuat Fressia merasa semakin malu berada di meja makan bersama sama.
"Mungkin karena tadi Aunty terjemur, jadi masih memerah," ucap Fressia mengelak.
Fressia mulai menyantap makan malamnya sendiri dan Tristan bahkan juga makan sendiri karena tak ingin merepotkan Fressia.
"Tadi Daddy mencium Aunty!"
Deghhhh
Aiden dan Fressia langsung menoleh pada Tristan, kemudian keduanya saling menatap. Fressia bertanya tanya juga dalam hatinya, benarkah ucapan Tristan?
"Aku tidak menciummu. Aku hanya melakukan CPR dan memberi nafas buatan," ucap Aiden.
Nafas buatan? - Fressia langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia mulai membayangkan apa yang Aiden lakukan dan sontak hal itu membuat wajahnya kembali memerah.
__ADS_1
"Wajah Aunty merah lagi!" goda Tristan sambil tertawa.
"Tidak!" elak Fressia yang benar benar malu saat ini.
Ternyata digendong Aiden tidak seberapa malu jika dibandingkan dengan nafas buatan yang ia dapatkan.
Apa aku masih punya muka berhadapan dengannya? Gila! Ini gila! - batin Fressia.
Fressia semakin tak bisa mengangkat wajahnya dan menatap majikannya itu.
*****
Setelah menikmati tiga hari dua malam di resort, mereka pun kembali ke rumah. Di dalam mobil selama perjalanan pulang, Fressia lebih banyak diam sementara Tristan terus berceloteh ria karena bahagia.
"Maafkan aku," ucap Aiden, "Maaf karena aku langsung memberikan nafas buatan padamu."
Wajah Fressia kembali memerah. Ia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana bibir Aiden menempel pada bibirnya. Hal itu membuatnya malah memperhatikan bibir Aiden dari samping.
Fressia tersadar dan langsung menggelengkan kepalanya. Ia pun menatap ke arah jendela samping.
"Apa kamu membayangkannya?" tanya Aiden.
"Tidak!!" Fressia langsung berteriak. Hal itu membuat Aiden justru tertawa.
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya Fressia melihat Aiden tertawa lepas seperti tadi. Hal itu membuat jantung Fressia berdetak cepat.
"Apa mau mencoba lagi saat sadar?" goda Aiden.
Bagaimana bisa ia menggodaku? Apa ia sedang kerasukan sesuatu? - batin Fressia.
"Hei Fre," Aiden menggoyangkan sebelah tangannya di depan wajah Fressia, karena wanita itu tampak termenung.
"Ehh, ada apa?" tanya Fressia.
"Tidak ada apa apa. Turunlah, kita sudah sampai," ucap Aiden yang membuka pintu dan turun. Ia meminta security mengeluarkan barang bawaannya dan ia sendiri membuka pintu belakang untuk menggendong Tristan.
Fressia berjalan di belakang Aiden. Ia menatap punggung tegak majikannya itu, kemudian memegang dad da nya sendiri karena merasakan sesuatu yang tak biasa.
Sesampainya mereka di dalam rumah, Aiden berhenti kemudian menoleh ke belakang.
"Beristirahatlah, biar Tristan menjadi urusanku."
Perhatian Aiden yang seperti ini membuat detak jantung Fressia menjadi tidak normal. Ia yang tadinya takut dan gemetar saat beeada di dekat Aiden, kini merasa getaran yang berbeda.
Jangan bayangkan hal yang lain, Fre. Kamu akan menyesal jika nantinya tak sesuai ekspektasimu. - batin Fressia.
Ia pun berjalan ke arah kamar tidurnya dan membiarkan Aiden yang menjaga Tristan. Ia kembali memegang bibirnya dan membayangkan perkataan Tristan lagi, membuat jantungnya bagai genderang mau perang. Fressia melangkahkan kalinya cepat ke arah kamar tidurnya, setidaknya ia bisa menetralkan jantungnya yang berdetak tak karuan setiap berada di dekat Aiden.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡