Red Hair Woman And MR. MAFIA

Red Hair Woman And MR. MAFIA
VITAMINKU [ E N D ]


__ADS_3

Dua minggu kemudian, sebuah pernikahan diselenggarakan di sebuah Hotel berbintang lima. Pernikahan yang terjadi bukan hanya pernikahan Aiden dan Fressia, tapi juga pernikahan Tobias dan Karen.


Fressia sangat senang karena bisa melakukan pernikahan bersama sama dengan kakaknya dan juga sahabatnya.


Aiden berusaha berdiri menggunakan tongkat penyangga saat acara resepsi pernikahan tersebut. Ia tak ingin paractamu undangan melihat kondisinya yang hanya bisa duduk di kursi roda.


"Kamu lelah?" tanya Fressia saat melihat Aiden mulai mengeluarkan peluh di dahinya.


"Tidak."


"Jangan berbohong dan terus berusaha kuat."


"Tapi aku benar benar kuat, bahkan aku bisa membuatmu tidak tidur nanti malam," ujar Aiden.


"Kamu harus istirahat, jangan memforsir dirimu sendiri."


Wajah Aiden mulai terlihat pucat dan akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri. Anthony yang melihat itu langsung menghampiri, begitu pula Tobias yang bersama Anthony langsung memapah Aiden.


Grey, Ivander, dan Bricks langsung mengamankan situasi. Mereka diperintahkan oleh Anthony untuk segera mengakhiri acara resepsi pernikahan tersebut. Aiden pun segera dibawa ke rumah sakit.


*****


"Di mana aku?" tanya Aiden setelah ia sadarkan diri.


"Hei, apa yang kamu rasakan, Son?" tanya Anthony.


"Aku tidak apa apa, Dad. Apa yang terjadi?"


"Kamu pingsan."


"Pingsan?" Aiden mulai menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia bahkan melihat ke arah jendela di mana langit sudah terang.


"Ini sudah pagi, Dad?" tanya Aiden.


"Ya."


Aiden berdecak kesal, "Aku melewatkan malam pengantinku?"


Anthony langsung ikut berdecak mendengar keluhan putranya. Bukannya menanyakan kesehatannya, malah berpikir tentang malam pengantinnya.


"Kamu itu sedang kurang sehat, masih saja memikirkan malam pengantinmu. Siapa suruh sok sok an tak mau menggunakan kursi roda," ujar Anthony.


"Kalau difoto nanti kurang bagus, Dad," ujar Aiden lagi.

__ADS_1


"Gara gara kamu sendiri maka malam pengantinmu berantakan."


"Aku mau pulang, Dad."


"Tunggu dokter memeriksamu dulu."


"Di mana Fressia?" tanya Aiden.


"Dad memintanya beristirahat. Kemarin ia bangun pagi pagi sekali, Dad tak ingin dia jatuh sakit juga."


Dokter pun masuk setelah Anthony memanggilnya dengan menekan sebuah tombol di sebelah tempat tidur Aiden. Dokter itu tampak tersenyum saat melihat Aiden.


"Ada apa denganmu? Mengapa bisa sampai pingsan?" tanya sang dokter yang merupakan sokter yang mengoperasi Aiden dan juga menemaninya terapi.


"Aku tidak apa apa," jawab Aiden.


"Kalau kamu tidak apa apa, mengapa sampai pingsan?" Dokter tersebut memeriksa denyut nadi Aiden kemudian memperhatikan semua angka yang tertera di dalam laporan kesehatan Aiden.


"Semua bagus, atau kamu hanya grogi saja menghadapi pernikahanmu?" tanya sang dokter lagi.


Wajah Aiden langsung berubah pucat kembali saat mendengar pertanyaan dokter itu.


"Jangan katakan pada Daddy bahwa kamu grogi karena mau menghadapi malam pengantinmu?" ujar Anthony yang mulai memasang wajah penuh tanya.


Tiba tiba saja dokter tersebut tertawa, "Detak jantung anda meningkat saat diberi pertanyaan itu, Tuan. Sudah dipastikan apa yang ditanyakan adalah benar. Saya bukan seorang psikolog, tapi setidaknya saya tahu tentang hal itu."


Anthony menatap putranya dan menghela nafasnya pelan, "Kapan putraku boleh pulang?"


"Sekarang juga boleh, tak ada yang salah. Ia juga sebenarnya sudah bisa berjalan beberapa langkah tanpa alat, hanya pikirannya saja yang kadang menghalanginya," jawab sang dokter.


"Baiklah, dok. Terima kasih banyak."


Tak berapa lama, tampak Fressia datang bersama dengan Kimberly. Wajahnya sudah menampakkan kekhawatiran, apalagi semalam ia tak bisa tidur memikirkan Aiden.


"Kamu baik baik saja?" tanya Fressia.


"Ia tidak apa apa, dokter juga sudah mengijinkannya pulang."


"Apa kata dokter, sayang?" tanya Kimberly pada Anthony.


"Ia baik baik saja, hanya grogi menghadapi malam pengantinnya," jawab Anthony.


"Dad!!"

__ADS_1


Sontak wajah Fressia memerah, hingga Aiden langsung menariknya dan membawa Fressia ke dalam pelukannya, "Jangan dengarkan Daddy. Ia hanya menggodaku saja."


Setelah membereskan beberapa hal, mereka pun pulang. Aiden dibawa ke kamar dengan dipapah oleh Grey dan juga Anthony. Meskipun kaki Aiden sudah bisa digunakan berjalan beberapa langkah, namun ia tetap harus berhati hati.


"Thank you, Dad, Grey."


"Beristirahatlah dulu. Jangan pikirkan perusahaan karena Dad akan menggantikanmu. Selain itu, Tobias telah berjanji pada Dad akan membantu di perusahaan, jadi kamu tak perlu khawatir."


"Baiklah, Dad. Aku akan menikmati waktu istirahatku. Apa aku bisa mengatur honeymoon ku sekarang?"


"Lebih baik pulihkan dulu kakimu, setelah itu Dad akan memberikan hadiah honeymoon padamu."


"Siap Dad!"


Fressia pun masuk setelah Anthony dan Grey keluar. Ia menghampiri Aiden yang tengah duduk bersandar di kepala tempat tidur.


"Kemarilah," pinta Aiden.


"Bukankah kamu diminta untuk beristirahat?" tanya Fressia.


"Hmm ... Tapi berikan aku vitamin dulu."


"Sebentar aku ambilkan vitaminmu."


Namun Aiden langsung menahan pergerakan Fressia dan membawa wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu ke dalam pelukannya. Aiden mengecup bibir Fressia membuat Fressia terdiam menatap Aiden.


"Ini vitaminku."


Kembali Aiden menahan tengkuk Fressia dan menyesap bibir pink itu dengan dalam, "I love you."


Aiden pernah menyatakan perasaannya pada Fressia sebelumnya, tapi ntah mengapa setiap kali mendengarnya membuat jantung Fressia berdetak dengan cepat.


"I love you too," balas Fressia.


"Maaf jika malam ini juga aku belum bisa menunaikan tugasku sebagai seorang suami. Aku berjanji akan rajin terapi agar segera sembuh. Aku ingin melakukannya dengan leluasa. Kamu mau menungguku kan?"


Wajah Fressia kembali memerah. Ia bahkan membayangkan malam panasnya dulu bersama Aiden. Dulu mereka melakukannya berkali kali, meskipun tak mabuk. Bisa dikatakan sejak malam itu, mereka telah terikat satu sama lain.


Aiden kembali menyesap bibir Fressia dengan dalam. Hanya sampai batas itu saja ia bisa melakukannya. Ia tak ingin melakukan lebih dari itu karena Aiden tak akan bisa menahan pergerakan anacondanya nanti. Namun di dalam hatinya ia sudah berjanji, akan membuat Fressia tak tidur saat pertama kali buka puasa nanti.


"I love you and thank you for loving me."


🧡 🧡 🧡

__ADS_1


__ADS_2