
"Ayo, Aunty!" Tristan menarik tangan Fressia hingga mereka mendekat ke arah pantai. Tristan sudah mengenakan pakaian renangnya dan Fressia membawakan sebuah ban renang besar berwarna kuning.
"Sebentar, Tris. Ban-nya mau lepas dari tangan Aunty," ujar Fressia.
"Aunty sih, tadi kan Daddy bilang mau membawakan, tapi Aunty malah bawa sendiri," Tristan memanyunkan bibirnya.
"Kalau menunggu Daddy Tristan, kita tak akan berenang berenang," ucap Fressia.
"Aku di sini," Fressia langsung menoleh ketika Aiden sudah berdiri tepat di belakang tubuhnya. Ia seakan terpana sesaat ketika melihat tubuh kotak kotak Aiden bak roti sobek yang baru selesai di panggang, kinclong.
"Aunty, ayo!" Tristan kembali menarik pergelangan tangan Fressia dan memintanya meletakkan ban yang besar itu, yang akan Tristan gunakan seperti perahu.
"Daddy, sini!" panggil Tristan agar Aiden mendekatinya. Aiden tersenyum dan mendekat. Ia mendorong ban tersebut hingga Tristan tertawa lepas.
"Aunty kembali ke pantai ya," ujar Fressia.
"Temani aku, Aunty. Apa jangan jangan Aunty tak bisa berenang ya?" tanya Tristan.
"Enak saja! Aunty bisa!" gerutu Fressia yang kini memanyunkan bibirnya. Aiden yang melihat hal itu ingin sekali menggigit bibir Fressia dan melum matnya.
__ADS_1
Akhirnya dengan perlahan Aiden dan Fressia mendorong ban di mana Tristan sudah duduk di atasnya. Ia mengepakkan tangannya sesekali ke air dan membuat Fressia beberapa kali terkena cipratan air itu.
"Tris!" Fressia mengusap wajahnya yang kembali terkena air, sementara Tristan hanya tertawa melihat itu.
"Daddy, bawa aku ke sana!" pinta Tristan yang berusaha turun dari ban pelampung besar itu.
Dengan cekatan Aiden menggendong Tristan dan membawanya sedikir ke tengah. Fressia hanya melihat keduanya sambil terus memegang ban pelampung tersebut. Ia tak ingin ban tersebut terseret ombak dan hilang. Selain itu adalah ban pelampung kesayangan Tristan, harganya juga pasti mahal.
Namun tiba tiba ombak besar datang dan menyapu ke arah pantai. Aiden memeluk Tristan dengan erat, sementara Fressia yang kaget, berusaha mempererat pegangannya pada ban, namun sayang gagal. Tangannya terlepas.
Fressia berusaha naik ke atas, tapi sebelah kakinya terasa kram. Ia mencoba menggerakkan kakinya tapi ia malah seperti semakin tertarik ke bawah. Ia mulai tenggelam.
Tristan. - batin Fressia
"Dad, Aunty!" teriak Tristan yang menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari pengasuhnya.
"Shittt," umpat Aiden saat tak melihat keberadaan Fressia.
Aiden mengantar Tristan sampai ke tepi pantai, "tunggu di sini dulu. Daddy akan mencari Aunty, okay."
__ADS_1
Tristan menganggukkan kepalanya. Ia melihat Aiden kembali berlari sedikit ke tengah dan menyelam. Ia mencoba mencari Fressia di bawah. Ia terus melihat ke segala arah dan mencari keberadaan Fressia, hingga akhirnya ia menemukan sosok yang ia cari.
Tisha. - batin Aiden yang langsung berenang mendekat.
Ia mengambil bagian dalam lengan Fressia kemudian membawanya ke permukaan. Aiden melihat bahwa tak ada pergerakan dari Fressia, membuat jantungnya berdetak berkali kali lebih cepat dari biasanya.
Jangan meninggalkan kami. - batin Aiden lagi.
Aiden merebahkan Fressia di atas pasir di tepi pantai. Tristan yang melihat pengasuhnya itu tak bergerak sama sekali mulai berteriak memanggil.
"Aunty, bangun!"
Aiden mulai memposisikan dirinya untuk memberikan CPR dan nafas buatan. Beberapa kali Aiden melakukannya, hingga pada akhirnya Fressia terbatuk dan mengeluarkan air dari mulutnya.
"Aunty!" Tristan langsung berlari mendekat dan memeluk Fressia.
"Kita bawa Aunty masuk dulu, okay," ucap Aiden dan Tristan kembali mengangguk.
Aiden menggendong Fressia ala bridal. Fressia yang masih lemas hanya bisa berpegangan pada leher Aiden. Di hadapannya juga adalah langsung tubuh Aiden. Jika Aiden menggendongnya lebih erat lagi, mungkin bibirnya akan mengenai bagian atas tubuh Aiden yang tak memakai apa apa.
__ADS_1
Fressia masih belum bisa mencerna dengan baik apa yang terjadi padanya. Ia hanya merasa bahwa sebelum ini, ia juga pernah mengalami peristiwa yang persis sama, tapi ia belum bisa mengingatnya. Setiap kali mencoba mengingat sesuatu, Fressia merasakan sakit di kepalanya, hingga akhirnya ia memilih untuk tak mengingat apapun.
🧡 🧡 🧡