Red Hair Woman And MR. MAFIA

Red Hair Woman And MR. MAFIA
BISA DISEMBUHKAN


__ADS_3

Tobias langsung pergi menuju ke rumah di mana Karen tinggal. Ia harus menemui wanita itu dan berbicara sejujurnya, mengapa dulu ia pergi dan meninggalkannya sendiri.


"Tobias?" Roxane yang sudah lama sekali tak melihat Tobias merasa aneh karena pria itu tiba tiba datang dengan wajah yang gelisah.


"Aunty, di mana Karen?" tanya Tobias.


"Ia pergi ke Jepang untuk bertugas di sana. Rumah sakit meminta bantuannya karena di Rumah Sakit cabang Jepang sedang kekurangan tenaga medis."


"Apa ia sudah pergi lama?" tanya Tobias lagi.


"Hmm ... Mungkin sekitar tiga jam yang lalu. Rencananya mereka akan berkumpul lebih dulu di rumah sakit sebelum berangkat bersama ke bandara," jawab Roxane.


"Thank you, Aunty!" tak ingin menghabiskam waktu terlalu lama, Tobias langsung pergi ke bandara. Ia yakin masih bisa mengejar Karen.


Sesampainya di sana, ia langsung berlari menuju counter check in untuk bertanya tentang penerbangan ke Tokyo, Jepang.


"Pesawat akan berangkat sekitar tiga puluh menit lagi," ucap staf tersebut.


Jantung Tobias berdetak dengan cepat saat ini. Kini ia jadi merasa tidak yakin bisa bertemu dengan Karen.


"Izinkan saya masuk, saya harus menemui seseorang," pinta Tobias.


"Maaf, Tuan. Anda tidak bisa masuk. Area setelah ini adalah khusus penumpang," ucap salah seorang staf keamanan.


Tobias mengepalkan tangannya dan terlihat semakin gelisah. Hingga akhirnya ia melihat seorang penumpang masuk ke dalam, membuatnya melihat kesempatan karena sang perugas keamanan sedang melakukan pemeriksaan.


Tanpa banyak bicara, Tobias langsung menerobos area pemeriksaan itu. Petugas keamanan itu langsung berteriak, "Hei, Tuan!"


Menyerahkan proses pemeriksaan pada rekan kerjanya, petugas keamanan itu langsung berlari mengejar Tobias. Namun, langkah Tobias lebih lebar karena tubuhnya lebih tinggi dari petugas keamanan itu.


"Tuan! Berhenti!" petugas keamanan itu terus saja berteriak. Nafasnya mulai ngos ngos an karena ia berlari dari ujung ke ujung.


Sementara itu, Tobias sama sekali tak mempedulikan petugas keamanan yang mengejarnya. Ia terap berlari menuju ruang tunggu penumpang sebelum menaiki pesawat. Ia sangat yakin Karen masih berada di sana.


"Karen!" teriak Tobias saat ia sampai di ruang tunggu penumpang.


Karen yang memang masih menunggu di sana pun menoleh dan melihat kehadiran Tobias. Namun, petugas keamanan yang tadi mengejar Tobias bersama dengan petugas di bagian ruang tunggu tersebut langsung mendekati Tobias dan mencoba mengamankannya.


"Karen! Jangan pergi! Aku perlu bicara denganmu," ucap Tobias.

__ADS_1


Panggilan untuk masuk ke dalam pesawat terdengar. Sekali lagi Karen menoleh dan melihat Tobias yang terus memanggilnya dan akhirnya dibawa oleh pigak keamanan.


Sesaar setelah duduk di dalam pesawat, Karen termenung memikirkan Tobias yang menyusulnya ke bandara. Karen tak tahu apa yang ingin dibicarakan pria itu.


"Kamu masih memikirkannya? Susullah dia," ucap salah seorang rekan kerja Karen.


"Tapi ..."


"Kamu bisa menyusul kami nanti. Sepertinya ia memiliki pembicaraan yang sangat penting denganmu."


Karena perasaan Karen yang saat ini campur aduk, akhirnya ia memutuskan untuk turun lagi. Untung saja pintu jembatan penyambung pesawat dengan terminal atau sering disebut dengan garbarata belum ditutup dan dilepaskan, jadi Karen bisa membatalkan perjalanannya.


*****


Di dalam ruang petugas keamanan, Tobias duduk dengan gelisah karena beberapa petugas menatapnya dengan tajam. Namun pikiran Tobias saat ini ada pada Karen. Wanita itu pasti sudah masuk ke dalam pesawat dan berangkat.


"Aku hanya ingin berbicara dengan kekasihku, apa salah?" tanya Tobias saat para petugas masih menatapnya.


"Kamu yakin dia kekasihmu? Dia saja tidak mempedulikan dirimu," ucap salah seorang petugas.


Tobias terdiam. Benar apa kata salah seorang petugas itu. Karen melihatnya, tapi sama sekali tak menghampirinya.


"Tak bisa! Kamu sudah melanggar peraturan di bandara ini. Kami tak bisa membebaskanmu begitu saja."


"Kalian sudah punya anak?" tanya Tobias.


"Sudah," jawab mereka bersamaan.


"Aku berikan les gratis untuk anak anak kalian, tapi izinkan aku pergi dulu," ujar Tobias.


"Dia mau menyuap kita," ujar salah seorang petugas tersebut. Mereka kembali menatapnya dengan tajam.


"Kamu bisa pelajaran apa saja?" tanya petugas itu.


"Semua pelajaran aku bisa," jawab Tobias, membiat petugas keamanan yang berjumlah empat orang itu pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Ceklekkk


"Tobias!" panggil Karen saat berhasil menemukan ruang petugas keamanan.

__ADS_1


"Karen!" Tobias langsung berdiri dan menghampiri wanita itu.


*****


"Mommy, Uncle pergi ke mana?" tanya Tristan.


"Mommy tidak tahu, sayang."


"Apa Uncle akan pergi juga seperti Daddy? Mengapa Daddy tak menghubungi kita?" Tristan duduk di sofa dan mulai memanyunkan bibirnya.


"Mommy akan mencoba bertanya pada Uncle Bricks, bagaimana?"


"Uncle Bricks akan menjawab sama seperti kemarin, Mom. Setiap kali kita bertanya, Uncle pasti akan menjawab kalau Daddy sedang sibuk bekerja," ucap Tristan.


"Kalau begitu mungkin Daddy memang sedang sibuk, sayang," ucap Fressia.


"Tapi setidaknya ia harus menghubungi kita kan? Apa kita tak lagi penting baginya?"


Fressia langsung memeluk Tristan dan mengelus punggung putranya itu sambil mencium pucuk kepalanya.


"Bukankah Uncle Tobi mengatakan bahwa Daddy sedang bekerja di tempat yang tidak memiliki sinyal. Kita tunggu saja ya. Mommy yakin Daddy akan segera kembali."


"Aku ingin pergi ke tempat Daddy, Mom."


"Tenanglah dulu, okay. Kita tunggu beberapa waktu dulu. Jika memang tak ada kabar lagi, kita akan menyewa seorang detektif untuk mencari Daddy. Bagaimana?"


Tristan pun langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju. Jika para asisten Ayahnya itu tak ada yang mau mengatakan di mana ayahnya berada, maka ia akan menggunakan jasa seorang detektif, seperti yang diusulkan oleh Fressia.


Sementara itu, Aiden tengah bertemu dengan seorang dokter yang merupakan dokter spesialis saraf.


"Bagaimana? Apa bisa disembuhkan?" tanya Aiden.


"Bisa, tapi kami memerlukan waktu. Kaki anda tak bisa hanya sembuh dengan sebuah operasi, tapi tetap harus dilakukan beberapa kali terapi," jawab dokter tersebut.


"Kira kira berapa lama semua proses itu hingga aku bisa sembuh?"


"Satu tahun, dua tahun, tergantung kemauan anda juga. Tapi paling cepat adalah satu tahun," ucap dokter.


Satu tahun? Itu lama sekali. Aku tak bisa menunggu selama itu dan mereka pasti akan mulai bertanya tanya. Apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin membuat mereka melihat keadaanku saat ini. - batin Aiden.

__ADS_1


🧡 🧡 🧡


__ADS_2