Red Hair Woman And MR. MAFIA

Red Hair Woman And MR. MAFIA
CANGGUNG


__ADS_3

Sebuah resort di tepi pantai menjadi tempat yang dipilih oleh Aiden untuk berlibur. Resort itu merupakan milik keluarga Graham yang agak jarang didatangi, apalagi sejak kematian kedua orang tua Anthony, ayah Aiden.


"Wowwww!! Its beautiful, Dad!" teriak Tristan saat menghampiri bagian belakang resort yang langsung menghadap ke arah pantai.


Tristan membuka pintu geser yang terbuat dari kaca. Ia merentangkan kedua tangannya ketika berada di sebuah teras yang agak besar di mana ada beberapa sofa di sana.


"Bolehkah aku ke sana, Dad?" pinta Tristan menunjuk ke arah pantai.


"Pergilah."


"Aunty temani," ucap Fressia. Ia ingin berada di dekat Tristan saja karena sejak tadi di dalam mobil dan duduk di sebelah Aiden, rasanya ia terus berkeringat dingin.


Ingin sekali rasanya ia pindah ke kursi belakang, tapi tak enak hati karena itu pasti akan menyinggung perasaan majikannya.


Fressia berlari mengikuti Tristan, sementara Aiden duduk di salah satu sofa dengan tetap memandang ke arah keduanya. Ia mengambil ponsel, lalu menghubungi Ivander dan juga Grey. Ia meminta mereka mengurus perusahaan dan tak mengganggunya sementara waktu. Aiden membutuhkan waktu sendiri untuk meluluhkan hati Fressia.


*****


Malam tiba, Fressia ingin memasak untuk makan malam setelah ia selesai membantu Tristan berpakaian setelah membersihkan diri. Anak asuhnya itu bermain di pantai dan berguling guling di atas pasir, membuat seluruh tubuhnya tertempel pasir.


"Kamu mau memasak?" tanya Aiden di sebelah telinga Fressia, membuat Fressia kaget dan menoleh.


Fressia hampir saja terjatuh, tapi dengan cepat lengan Aiden telah melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


Deggghh


Jantung Fressia berdetak cepat dan kilatan peristiwa kembali masuk ke dalam kepalanya. Fressia memegang kepalanya yang sedikit sakit.


"Kamu sakit?" tanya Aiden dengan tetap melingkarkan lengannya di pinggang Fressia.


"Kepalaku sakit, Tuan," ucap Fressia. Ia mencoba melangkah mendekati kursi yang ada di dapur. Aiden setengah berlutut kemudian memegang kedua tangan Fressia.


"Kamu tak usah memasak, kita akan makan di luar saja."


Fressia seakan tak menyadari bahwa saat ini kedua tangannya masih digenggam oleh Aiden. Ia masih mencoba menghilangkan sakit yang muncul di kepalanya.


"Dad! Aunty!" panggilan Tristan membuyarkan keduanya, tapi Aiden masih tetap memegang tangan Fressia. Namun Fressia yang tersadar, langsung menarik kedua tangannya.


"Aku lapar sekali," jawab Tristan sambil mengelus perutnya searah jarum jam.


"Aunty akan memasak untukmu."


"Tidak perlu, kita pergi saja ke restoran terdekat dari sini. Tak perlu memasak," ucap Aiden.


Fressia kembali memegang pelipisnya dan ingin duduk kembali. Namun tiba tiba ia merasakan tubuhnya sepetti terbang, membuatnya berteriak kecil.


"Aku akan menggendongmu sampai ke mobil," ucap Aiden.

__ADS_1


"Apa Aunty sakit, Daddy?" tanya Tristan.


"Sepertinya Aunty sedikit pusing," jawab Aiden.


Fressia yang digendong oleh Aiden sungguh merasa malu. Ia yakin saat ini wajahnya tengah memerah bak kepiting rebus. Ia bisa menatap wajah Aiden yang sedang menggendongnya. Sungguh, hasil pahatan yang luar biasa.


Tampan ... Eh. - Fressia merutuki batinnya yang terlalu jujur.


Aiden mendudukkan Fressia di kursi belakang bersama dengan Tristan. Setelahnya ia pun duduk di balik kemudi dan mulai melajukan kendaraannya menuju restoran terdekat dari resort tersebut.


Dari kursi belakang, tatapan Fressia seakan tak bisa berhenti menatap Aiden. Ntah mengapa, ada perasaan aneh yang tak bisa ia jabarkan dengan kata kata. Kilatan peristiwa yang muncul di dalam kepalanya seakan memberitahukan padanya bahwa ia pernah dekat dengan seorang pria, namun ntah siapa. Bayang bayang peristiwa itu masih terlihat samar samar.


"Dad! Kita makan di sana saja!" Tristan menunjuk sebuah restoran cepat saji. Sudah lama sekali Tristan ingin makan makanan tersebut, tapi selalu dilarang oleh ayahnya.


"Kamu ingin makan di sana?"


"Sangat ingin!"


Demi menjaga kebahagiaan yang terpatri di wajah Tristan, Aiden pun akhirnya membelokkan kendaraannya menuju restoran tersebut. Saat sampai, Aiden kembali membantu Fressia untuk turun. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada wanita itu.


"Maaf, Tuan. Aku sudah tidak apa apa," ucap Fressia yang tak ingin Aiden membantunya lagi.


Fressia justru memegang tangan Tristan karena ia masih merasa canggung dengan sikap Aiden padanya.

__ADS_1


🧡 🧡 🧡


__ADS_2