
Aiden yang sedang berbicara dengan beberapa teman dari Libero dan Amartha, melihat ke arah Fressia yang sedang diajak berbicara oleh Libero.
Seketika perasaan tidak suka berkecamuk di dalam daddanya. Ia pun izin undur diri sebentar dari mereka. Amartha yang melihat Aiden ingin pergi dari sana, langsung meraih siku lengan Aiden.
"Kamu mau ke mana, Ai?" tanya Amartha.
"Lepaskan aku, Tha!"
"Aku tak akan pernah melepaskanmu lagi, Ai. Kamu tahu aku mencintaimu. Sudah cukup lama aku menunggumu, tapi tak pernah sekalipun kamu memandang ke arahku," ujar Amartha yang terus menahan kepergian Aiden.
"Lepaskan tanganku atau kamu akan merasakan sesuatu yang tak kamu inginkan," ucap Aiden dengan tatapan tajam.
Namun, Amartha sama sekali tak melepaskan lengan Aiden yang masih dipegangnya. Ia akan mempertahankan Aiden, tak peduli dengan apa yang diucapkan oleh pria yang ia cintai itu.
"Arghhh!" Aiden melepaskan lengannya dari pegangan Amartha dengan kencang hingga wanita itu terjatuh ke atas sofa. Aiden pun melangkahkan kakinya ke arah di mana Libero dan Fressia berdiri.
"Lepaskan dia!" perintah Aiden.
"Hei Ai, tenanglah! Aku sedang meminta wanita ini menjadi kekasihku," ucap Libero tanpa peduli dengan wajah Aiden yang kini tengah menggeram kesal dan menatapnya dengan tajam.
"Lepaskan dia atau aku akan memotong tanganmu! Tak ada siapa pun yang boleh menyentuhnya atau menjadikannya kekasih. Ia adalah milikku. Aku akan membunuh siapa pun yang mengambil milikku!" ujar Aiden dengan tatapan nyalang, hingga para tamu yang datang melihat ke arah mereka berdua, termasuk juga dengan Amartha.
"Ada apa denganmu, Ai? Apa dia istrimu? Atau jangan jangan hanya selingkuhanmu?" ujar Libero yang seakan sengaja mencari masalah dengan Aiden.
Aiden langsung menarik kerah Libero dengan kasar, "Sekarang keluar dari rumahku. Aku tak akan menjalin kerja sama apapun lagi dengan kalian semua. Persahabatan kita cukup sampai di sini. Sepertinya sudah benar apa yang kulakukan dulu, menjauh dari kalian."
__ADS_1
Libero mencoba mundur agar tangan Aiden terlepas dari kerah kemejanya, "Tak kusangka ternyata levelmu sekarang hanyalah seorang pengasuh, seorang babysitter."
Bughhh
Sebuah pukulan kini mendarat di wajah Libero. Aiden seakan sudah tak peduli apakah Libero adalah sahabatnya atau bukan.
"Keluar kalian semua! Dan jangan pernah injak kan kaki di sini lagi atau pun di perusahaanku. Aku tak akan bekerja sama dengan siapa pun yang ia bawa!" ucap Aiden menatap tajam ke arah semuanya.
Aiden memerintahkan Grey dan Ivander untuk segera membawa keluar para tamu dari mansion miliknya. Setelah itu, ia membawa Fressia ke kamar tidur putranya.
"Lepaskan aku!" ucap Fressia. Ia merasa bingung dengan sikap Aiden yang begitu posesif dan mengakui dirinya adalah milik pria itu.
"Kamu bukan siapa siapaku, jangan mengontrol diriku. Aku bisa menjaga diriku sendiri," ucap Fressia.
Ia tak suka dengan sikap Aiden yang terlihat sangat kekanakan menurutnya. Lagipula, ia bisa sendiri menghadapi Libero tadi, tak memerlukan bantuan dari Aiden.
"Tuan Aiden yang terhormat, maaf jika aku mengatakan hal yang salah. Tapi, siapa yang mendekatiku dan siapa yang kusukai, bukanlah menjadi urusan anda. Aku juga berhak memiliki kehidupanku sendiri," ucap Fressia.
Aiden menghela nafasnya sedikit kasar, tapi kini ia mencoba berusaha untuk tenang. Wanita di hadapannya ini adalah ibu kandung dari putranya dan ia harus menjaganya agar selalu berada di sisinya. Aiden tak ingin memiliki masalah lagi dengan Fressia.
"Maafkan aku," ucap Aiden.
Hal itu membuat Fressia menjadi heran, pasalnya Aiden langsung mengucapkan kata maaf tanpa meluapkan kemarahannya lebih lagi.
"Maaf, bukan aku bermaksud mengotrol kehidupan pribadimu, tapi ...," ucapan Aiden terpotong ketika Tristan keluar dari kamar dan mendapati Ayah dan pengasuhnya berada di depan pintu.
__ADS_1
"Aunty, mengapa Aunty lama sekali? Aku baru mau mencari Aunty," ujar Tristan.
"Maaf, sayang. Tadi Aunty ingin membuatkanmu jus, tapi ada masalah sedikit, jadi tidak jadi," ucap Fressia.
"Aku tidak mau jus, aku ingin bermain bersama Aunty. Ayo masuk!" ajak Tristan.
Fressia pun akhirnya masuk ke dalam kamar tidur Tristan dan menoleh sedikit pada Aiden yang ternyata masih menatapnya, membuat jantung Fressia kembali berdetak dengan cepat.
Setelah Fressia masuk ke dalam kamar tidur Tristan, Aiden langsung menemui Grey dan Ivander.
"Ingatlah, jangan biarkan mereka menginjakkan kakinya lagi di mansion ini," perintah Aiden, "terutama Libero dan Amartha."
Aiden tak ingin Fressia dekat dengan pria mana pun, maka dirinya juga tidak akan dekat dengan wanita mana pun. Prinsip seperti itulah yang dipegang oleh Aiden.
"Siap, Tuan!" ucap Grey dan Ivander bersama sama. Setelah itu mereka pun pergi ke kamar tidur mereka masing masing.
Aiden pergi membersihkan diri. Setelah itu, ia pergi ke kamar tidur Tristan. Ia melihat Fressia masih berada di sana.
"Kita makan malam bersama, pelayan sudah menyiapkan semuanya," ucap Aiden.
Fressia membantu Tristan dan keluar bersama. Aiden menunggu Fressia keluar, baru setelah itu berjalan di belakangnya. Saat Tristan melangkah lebih cepat dan berjarak dengan Fressia, Aiden mendekatkan bibirnya pada telinga Fressia.
"Setelah ini, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini sangat penting. Untukku, untukmu, untuk kita," bisik Aiden.
Jantung Fressia kembali berdetak dengan cepat dan tubuhnya bergetar saat merasakan hembusan nafas Aiden yang menerpa kulitnya.
__ADS_1
🧡 🧡 🧡