
Perasaan Tobias tak bisa diucapkan dengan kata kata. Pelukan yang diberikan oleh Tristan membuat ia merasa tenang.
"Tentu saja kamu boleh memanggilku dengan sebutan Uncle. Aku akan sangat senang sekali. Terima kasih," Tobias membalas pelukan Tristan dengan erat.
Fressia yang melihat hal itu pun tersenyum. Tristan terlihat begitu dewasa saat ini, seperti tak sebanding dengan usianya.
"Bagaimana kalau kita makan bersama? Untuk merayakan kita menjadi keluarga," ucap Tristan dengan senyum yang begitu lebar di wajahnya.
Sejak dulu, Tristan selalu merasa sendiri. Kini ia memiliki teman yang bisa ia jadikan keluarga, membuat Tristan menjadi sangat senang. Ia terus menggenggam tangan Tobias hingga mereka sampai di meja makan.
"Kita makan sekarang, Uncle!"
Mereka pun makan bersama sambil mengobrol dan tertawa bersama. Sungguh tampilan mereka saat ini seperti keluarga kecil yang sangat bahagia.
*****
Brakkk
Aiden menutup laptop nya yang menampakkan suasana di dalam rumahnya di Washington. Tak suka? Ya, ia tak suka. Meskipun ia tahu bahwa Tobias adalah kakak dari Tishara, gadis berambut merah yang menghabiskan malam panas bersamanya, ia tak suka jika Tobias mengambil alih perhatian Tristan ... dan Fressia.
"Grey, kapan test DNA itu akan selesai?" tanya Aiden.
"Tiga hari," jawab Grey. Mereka memang membayar rumah sakit dalam jumlah besar agar menyelesaikan test tersebut dengan cepat.
Aiden berdecak kesal. Satu hari rasanya seperti satu tahun. Ia ingin secepatnya mengetahui bagaimana hasilnya.
"Katakan pada Ivan untuk menghentikan Tobias sebagai guru privat Tristan," ucap Aiden.
"Tapi, Tuan ... Saya rasa itu bukan hal yang benar. Tristan sudah sangat nyaman belajar di rumah dengan Tuan Tobias. Jika anda menggantinya lagi, bisa saja ia akan marah pada anda," ucap Grey yang berusaha membantu agar Aiden tetap berpikir dengan kepala dingin.
Aiden menghela nafas kasar, "Apa ada lagi yang harus ku tanda tangani?"
"Tak ada, Tuan," jawab Grey.
"Kita kembali ke Mansion saja sekarang," ucap Aiden. Ia ingin sendiri saat ini. Bahkan tak ingin dipusingkan dengan hal hal yang berhubungan dengan perusahaan.
__ADS_1
*****
Karen yang sudah mendapatkan pewarna rambut dari Donny pun mengantarkannya pada Fressia. Kebetulan sekali hari ini ia mendapatkan jatah libur dari pihak rumah sakit.
Karen sebelumnya sudah menghubungi Fressia dan kini ia sudah berdiri di depan pintu menunggu kedatangan sahabat sekaligus saudara angkatnya itu.
"Aunty sedang menunggu siapa?" tanya Tristan yang baru saja selesai belajar bersama Tobias.
"Aunty Karen. Aunty meminta tolong padanya mengantarkan sesuatu," jawab Fressia.
"Kalau begitu Uncle pulang dulu. Jangan lupa untuk bermain," pesan Tobias.
Ucapan Tobias tentu saja membuat Tristan tertawa, pasalnya guru privatnya itu malah berpesan padanya agar tak lupa bermain, sementara guru lain akan mengingatkannya untuk terus belajar.
"Apa besok kita bisa bermain bersama, Uncle?" tanya Tristan.
"Boleh, tapi setelah kita selesai belajar. Bagaimana?"
"Setuju!!" teriak Tristan gembira.
"Karen?" gumam Tobias pelan.
Mata Karen juga menangkap sosok Tobias, namun ia langsung memalingkan wajahnya dan menatap Fressia.
"Fre, titipanmu."
Fressia melangkah menghampiri Karen yang hanya bisa sampai di depan pagar karena tak ada yang diizinkan masuk tanpa persetujuan Aiden.
"Terima kasih, Kay. Maaf merepotkanmu."
"No problem, Fre. Aku pulang dulu ya. Bye!" Sebenarnya Karen masih ingin mengobrol dengan Fressia dan bermain bersama Tristan. Namun melihat siapa yang ada di sana, ia pun mengurungkan niatnya.
Karen langsung naik ke dalam mobil kemudian melajukannya. Tobias yang melihat Karen pun ingin berbicara dengan wanita itu.
Saat kuliah dulu, Tobias bersama teman temannya pernah membully Karen. Seorang gadis berkacamata dengan rambut dikepang dua yang selalu menjadi bahan ledekan Tobias dan teman temannya.
__ADS_1
Mereka bahkan pernah membuat berita bohong tentang kehamilan Karen, membuat gadis itu lebih banyak menjauh dan menyendiri hingga menyelesaikan kuliahnya lebih cepat.
Tobias merasa bahwa apa yang ia lakukan mendatangkan karma pada dirinya, namun adik perempuannya lah yang merasakannya. Adiknya dikhianati oleh seorang pria, kemudian dinyatakan hamil tanpa diketahui siapa pria yang menghamilinya.
Setelah kejadian itu, fokus hidup Tobias hanya keluarganya hingga ia kehilangan mereka semua.
"Maaf," guman Tobias saat melihat kepergian Karen.
*****
Tiga hari berlalu,
Ivander yang sudah mendapatkan hasil dari test DNA itu pun bergegas menemui Aiden. Pasalnya Aiden sudah berteriak dari semalam karena menginginkan hasil test itu lebih cepat.
Ia kini sudah berdiri tepat di depan pintu ruang CEO di Anlee Group New York. Tak melihat keberadaan Grey di ruang sebelah, membuat Ivander yakin bahwa Grey berada di dalam ruang kerja atasannya itu.
Baru saja Ivander mau mengetuk pintu, pintu sudah terbuka dari dalam. Tampak Grey yang sudah berdiri menyambutnya.
"Masuklah, Tuan Aiden sudah menunggumu sejak tadi," ucap Grey.
Ivander masuk ke dalam ruang kerja Aiden dan tampak mata tajam Aiden sudah menatapnya dengan tajam.
"Duduk dan katakan apa hasilnya, Van," ucap Aiden.
Ivander pun duduk kemudian membuka amplop besar berwarna putih yang diberikan oleh pihak rumah sakit. Ia langsung memberikannya pada Aiden.
Dengan tatapan yang tajam dan gerak tangan yang terburu buru, Aiden langsung meraihnya dan membacanya. Meskipun ia tidak tahu apa arti dari semua angka yang tertulis dari hasil test tersebut, tapi ia sangat mengerti saat tertulis kesimpulan positif di sana.
Sementara itu, satu lembar yang lain hanya menyatakan angka enam puluh persen. Aiden menatap Ivander untuk menjelaskan semua itu padanya.
"Dna dengan saudara kandung memang tidak akan seakurat dengan orang tua sendiri. Lembar yang menyatakan positif dengan sembilan puluh sembilan persen ini adalah test antara Nona Fressia dengan Tristan, sementara yang satunya lagi adalah antara Tuan Tobias dengan Nona Fressia," jelas Ivander.
"Positif! Berarti dia ...."
🧡 🧡 🧡
__ADS_1