
"Arghhh!!" untuk kesekian kalinya Libero mendapatkan pukulan dari Grey. Adrenalin di dalam dirinya masih saja belum merasa terpuaskan. Melihat keadaan atasannya saat ini, membuat Grey ingin langsung saja memenggall kepala Libero agar pria itu tak bernafas lagi.
"Giliranku, Grey!" ujar Ivander yang khusus datang ke kota New York itu, padahal ia harus mengurus Anlee Group Washington.
Tak memukul seperti Grey, Ivander malah memasang suatu alat di permukaan kulit Libero. Setelahnya, ia menekan sebuah tombol.
"Arghhhhhh!!!" teriak Libero lagi, "Hentikan! Kenapa tidak kalian bunuh saja aku? Bukankah itu keinginan bos kalian?"
"Membunuhmu? Itu terlihat mudah bagiku, tapi rasanya tidak menyenangkan!" ungkap Ivander dan kembali menekan sebuah tombol.
Teriakan kembali terdengar di dalam ruangan itu. Sesuatu yang ditempelkan oleh Ivander membuat sekujur tubuh Libero seakan mau lepas, sakit luar biasa.
"Siallan kalian semua!!" teriak Libero.
Bughhh
Sebuah pukulan kembali dilayangkan oleh Grey dan kini ditujukan ke perut Libero. Sakit yang tadi dirasakan Libero belum hilang, kini ditambah lagi dengan pukulan dari Grey.
Grey meninggalkan sepiring makanan dan segelas minuman di sana. Ia tak peduli apakah Libero akan memakannya atau tidak, yang terpenting ia akan tetap membuat Libero hidup sampai waktunya Aiden datang ke sana dan menyelesaikannya.
*****
Tangan Aiden sudah bisa digerakkan dengan leluasa, sementara kakinya belum. Ia masih menunggu dokter spesialis yang akan membantunya.
Ponsel Grey berbunyi dan tampak nama Bricks di sana. Grey pun langsung mengangkatnya karena mengira ada sesuatu yang penting yang berkaitan dengan Fressia dan Tristan.
"Ada apa, Bricks?" Grey tampak mendengarkan semua ucapan Bricks. Setelahnya ia pun menghampiri Aiden.
"Ada apa?" tanya Aiden.
"Tuan Tobias Oza mendatangi mansion dan ingin bertemu dengan Nona Fressia dan Tristan," jawab Grey.
"Biarkan saja, lagipula Tobias adalah kakak Fressia."
"Bagaimana kalau ia mencintai None Fressia? Ia tidak mengetahui bahwa Nona Fressia adalah adiknya."
Aiden menghela nafasnya pelan, "Kalau begitu, pertemukan aku dulu dengannya."
*****
Bricks tidak mengijinkan Tobias untuk masuk ke dalam mansion Aiden di Washington. Tobias merasa sedikit aneh karena Bricks justru membawanya pergi ke bandara di mana sebuah helikopter telah menunggu mereka.
__ADS_1
"Kalian mau membawaku ke mana?" tanya Tobias sedikit curiga.
"Tuan Aiden ingin bertemu dengan anda, Tuan," jawab Bricks.
Helikopter tersebut mendarat di rooftop sebuah rumah sakit. Tobias memperhatikan sekeliling, memastikan bahwa ia memang berada di sebuah rumah sakit.
"Apa Tuan Aiden sakit?" tanya Tobias.
"Silakan masuk, Tuan," ucap Bricks dan mempersilakan Tobias untuk masuk. Bricks terpaksa meninggalkan Mansion Aiden. Namun ia akan segera kembali ke sana.
Saat keluar, tangan Bricks ditahan oleh Grey, "Apa kamu sedikit bermain dan bersenang senang."
"Aku harus segera kembali."
"Ini hanya perlu waktu sebentar saja, untuk mengembalikan semangat kerjamu," ucap Grey lagi.
Bricks yang seakan tahu arah pembicaraan Grey pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia memiliki waktu hingga Tuan Tobias selesai berbicara dengan Tuan Aiden.
*****
Tobias dan Aiden kini berhadapan. Aiden duduk di atas tempat tidur sementara Tobias berada di kursi tepat di samping tempat tidurnya.
"Panggil saja aku, Aiden."
Tobias tampak menautkan kedua alisnya dan menatap Aiden.
"Tobias Oza, putra dari Darius dan Lenny Oza. Memiliki seorang adik bernama Tishara Oza. Kedua orang tuamu telah meninggal dalam sebuah kecelakaan."
"Anda menyelidikiku?" tanya Tobias. Ia tahu bahwa Aiden bukan orang sembarangan. Pria di hadapannya ini adalah CEO Anlee Group yang terkenal di Kota New York, sudah pasti ia akan menyelidiki siapa pun yang akan bekerja padanya, meskipun hanya menjadi guru les bagi putranya.
"Tidak. Aku tak menyelidikimu, tapi aku mencari keberadaan adikmu, Tishara Oza," jawab Aiden.
"Tisha? Apa hubunganmu dengan Tisha?" tanya Tobias lagi.
"Aku akan menceritakan semuanya, tapi aku ingin anda jangan menyela perkataanku."
"Baiklah, cepat katakan!" Tobias mulai tidak sabar, pasalnya ia memang sudah lama mencari Tishara dan saat ada yang mengetahui ataupun memiliki hubungan dengan Tishara, tak akan ia sia siakan.
Aiden pun mulai menceritakan semuanya. Mulai dari bagaimana pertemuannya dengan Fressia hingga ia kehilangan wanita itu.
Greppp
__ADS_1
"Jadi kamu yang menghamili adikku?!" Tobias langsung meraih kerah baju pasien yang dikenakan oleh Aiden.
"Ya, aku yang menghamilinya. Hanya saja aku tak tahu kalau ia hamil, hingga akhirnya ia meninggalkan bayinya begitu saja pasa perawat di rumah sakit, untuk diserahkan pada adikku," jelas Aiden.
"Dan setelah nya, terjadilah kecelakaan itu ....," bisik Tobias lirih.
"Ya, sejak itu aku mencarinya dan tak pernah menemukannya. Informasi yang kudapatkan mengatakan bahwa ia telah melakukan operasi plastik namun berakhir dengan kegagalan."
"Lalu, di mana bayi itu? Jangan katakan ....," Tobias menghentikan ucapannya dan menatap Aiden.
"Ya, sesuai pemikiranmu. Ia adalah Tristan, putraku dengan Tisha."
Aku mau menjadi keluargamu, Mr. Oza. Bolehkah aku memanggilmu Uncle?
Tobias tak pernah mengira bahwa Tristan adalah benar keponakannya. Ia tak sendirian, ia memiliki Tristan, keponakannya.
"Lalu, apa kamu menemukan di mana Tisha? Aku sudah berkeliling mencarinya ... Tapi tak pernah menemukannya," ujar Tobias.
"Aku juga tak pernah menemukannya, hingga akhirnya ia datang sendiri padaku. Mungkin, masih ada benang merah yang terikat di antara kami," ucap Aiden.
"Di mana dia? Aku ingin menemuinya, aku ingin bicara dengannya," pinta Tobias.
Tak ada rasa marah lagi dalam diri Tobias pada Aiden karena pria di hadapannya ini membawakannya kabar yang begitu menggembirakan.
"Ia sudah berganti rupa dan ia kehilangan ingatannya," ucap Aiden.
"Amnesia?"
"Sebelum kamu menemuinya, izinkan aku meminta padamu untuk menjaganya. Aku berniat menikahinya, tapi kondisiku saar ini belum memungkinkan. Aku tak ingin ia melihatku dalam keadaan seperti ini. Maukah kamu menggantikanku sementara waktu untuk menjaganya?"
"Tentu saja aku akan menjaganya, ia adikku," ujar Tobias.
"Tapi jangan pernah berpikir untuk membawanya pergi dariku karena aku tak akan pernah membiarkannya. Mataku tetap berada di sekelilingmu," ucap Aiden.
"Aku tak akan melakukannya, kamu bisa memegang kata kataku. Izinkan aku bertemu dengannya."
"Kamu pernah bertemu dengannya, setiap hari. Bahkan berbicara serta bervanda dengannya, hingga membuatku dipenuhi dengan rasa cemburu yang amat sangat."
Tobias kembali berpikir kemudian menatap Aiden lagi, "Fressia?"
🧡 🧡 🧡
__ADS_1