
Satu minggu berlalu dan hari ini Aiden memiliki janji dengan sahabat sahabatnya saat ia masih kuliah dulu. Sebelumnya, ia dekat dengan mereka, tapi setelah peristiwa kematian kakek dan neneknya, Aiden sedikit menjauh.
Belum lagi ketika peristiwa ia menghabiskan satu malam dengan seorang gadis berambut merah, membuatnya semakin jauh dengan sahabat sahabatnya karena pikirannya hanya tertuju pada wanita itu.
Dua tahun setelah kejadian itu, sahabat sahabat Aiden pernah datang mengunjunginya untuk melakukan kerja sama bisnis.
Amartha, seorang wanita yang Aiden ketahui bahwa ia menyimpan perasaan padanya, namun tak pernah ia tanggapi, apalagi ia balas. Aiden hanya akan setia pada satu orang wanita apalagi wanita itu telah memberinya seorang anak.
"Libero, Amartha, silakan duduk," sapa Aiden menyalami mereka, juga beberapa orang yang dibawa oleh Libeto dan Amartha untuk memeriahkan pertemuan bisnis mereka itu.
"Ai, sudah lama sekali kita tak berkumpul seperti ini. Seharusnya kita bisa lebih sering melakukannya," ucap Amartha yang duduk di samping Aiden dan berusaha dekat dengannya.
"Ya benar, seharusnya kita lebih banyak berkumpul atau membuat proyek bersama," sahut Libero.
"Maafkan aku, tapi aku benar benar sibuk," ucap Aiden kemudian menggeser tubuhnya karena merasa risih dengan Amartha yang terus berusaha dekat dengannya.
"Aihhh kamu ini benar benar workaholic. Bagaimana keluargamu jika kamu terus saja bekerja seperti ini?" tanya Libero.
"Keluargaku akan tetap menjadi prioritasku. Pekerjaanku tak akan membuatku melupakan mereka," ucap Aiden.
"Dad!" teriak Tristan dari arah atas di mana kamar tidurnya berada.
__ADS_1
"Dad? Apa kamu sudah menikah?" tanya Libero. Hal itu tentu saja membuat Amartha ingin tahu. Rasa cintanya pada Aiden yang sudah lama membuatnya ingin sekali memiliki Aiden. Namun, kenyataan yang berada di hadapannya seakan menjatuhkan harapannya.
Aiden diam dan tak menjawab. Beberapa tamu yang hadir pun membuat pembicaraan lain karena tak ingin Aiden menjadi canggung ataupun salah tingkah, hingga membuat rencana kerja sama mereka berantakan.
Fressia keluar dari kamar tidur Tristan untuk mengajak anak asuhnya itu kembali masuk ke dalam. Amartha bangkit dari duduknya, hendak pulang dan mengambil tas miliknya. Ia perlu menata hatinya terlebih dulu sebelum ia kembali untuk mengambil kembali Aiden dari tangan istri dan anaknya.
Namun, saat melihat Aiden juga bangkit, ia pun menggunakan kesempatan itu. Amartha berpura pura mau terjatuh, hingga akhirnya tubuhnya ditangkap oleh Aiden. Posisi mereka saat ini terlihat seperti sedang berpelukan dengan mesra.
Fressia yang berniat memanggil Tristan untuk kembali ke kamar tidur, malah disuguhkan pemandangan yang langsung membuat hatinya menjadi sakit.
Dasar playboy! - batin Fressia.
"Tris."
"Siapa yang Aunty lihat? Ahhh Aunty itu. Dia itu sangat menyukai Daddy, tapi untung saja Daddy tak pernah menyukainya. Daddy hanya menyayangi Mommy. Aku percaya itu," ucap Tristan sambil memegang tangan Fressia.
"Kita kembali ke kamar tidur ya," ajak Fressia.
"Baik, Aunty. Oya Aunty, bisa buatkan aku segelas susu cokelat? Aku ingin sekali," pinta Tristan.
"Tentu saja, sayang. Sebentar Aunty buatkan ya. Kamu kembali ke kamar dulu."
__ADS_1
Fressia pergi ke dapur. Ia mengambil sebiah gelas, tapi saat ini pikiran dan hatinya sedang tidak tenang. Ia masih saja membayangkan bagaimana Aiden memeluk wanita lain.
Ia pasti diam diam juga menyukainya. Kalau tidak, tak mungkin ia berada sedekat itu. Lihatlah, Fre! Apakah hal itu sesuai ekspektasimu? - batin Fressia.
Fressia yang melanjutkan membuat susu di dapur, kini merasakan ada seseorang di dekatnya.
"Hai! Bolehkah aku mengenalmu? Namaku Libero."
"Maaf, Tuan. Aku harus segera memberikan susu ini pada Tristan," ucap Fressia yang ingin segera menjauh.
"Hei tunggu dulu," ucap Libero dan mencekal pergelangan tangan Fessia dengan erat agar wanita itu tak pergi ke mana mana.
"Maaf, Tuan. Saya harus permisi" ingin sekali Fressia segera pergi dari sana. Menghindar kata tepatnya.
"Jangan menghindariku. Kamu tahu, aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu."
Fressia memeriksa apakah pria itu mabuk ataukah hanya berniat menguji dirinya. Namun, ia tak melihat apapun seperti yang ia pikirkan.
"Jadilah kekasihku," kata Libero.
🧡 🧡 🧡
__ADS_1