Red Hair Woman And MR. MAFIA

Red Hair Woman And MR. MAFIA
KLAN MAFIA


__ADS_3

Perasaan Aiden sangat kacau saat ini. Setelah membaca hasil test DNA yang dijelaskan oleh Ivander, ia menjadi tak bisa berkata kata.


"Kamu ada di dekatku selama ini. Mengapa aku tak menyadarinya?" gumam Aiden.


Tuan, Nona Fressia mengalami amnesia. Ia tak mengenal siapa dirinya dan yang ia ketahui hanya keluarga Moxie saja. Keluarga yang membantunya saat ia terlunta lunta di jalan setelah operasi plastik yang gagal. - Keterangan tambahan yang diberikan oleh Ivander tadi siang, membuat dirinya semakin merasa bersalah.


"Aku harus segera kembali dan meminta maaf padanya. Aku tak bisa terus seperti ini. Tapi ... Apakah dia akan memaafkanku setelah apa yang telah kulakukan? Tindakanku sungguh sangat keterlaluan," ucap Aiden bermonolog dengan dirinya sendiri.


Aiden menghubungi Grey dan memintanya untuk menyiapkan penerbangannya ke Washington. Ia akan menemui Fressia dan berusaha untuk kembali menjalin hubungan yang baik dengan seorang wanita yang adalah ibu kandung dari putranya, si gadis berambut merah.


*****


Setelah menempuh perjalanan yang tak terlalu lama, Aiden kini telah kembali sampai ke Washington DC, kota yang sejak dulu menjadi tempat pelariannya. Kota di mana putra semata wayangnya berada.


Mobil melaju dengan Ivander dan Grey duduk di kursi bagian depan, sementara Aiden di bagian belakang. Rasanya ia sudah tak sabar bertemu dengan Fressia dan Tristan.


Sesampainya mereka di Kediaman Aiden di Washington, Ivander turun dan langsung membukakan pintu untuk atasannya itu.


"Kalian beristirahatlah dulu," ujar Aiden pada dua orang asisten pribadinya itu.

__ADS_1


Aiden pun masuk ke dalam. Suasana rumah sudah sepi karena hari sudah malam. Aiden yakin Tristan juga sudah tidur. Ia melangkahkan kakinya menuju kamar tidur Tristan untuk melihat putranya itu.


Ceklekkk


Pintu terbuka dan Aiden melihat Tristan yang sudah terlelap, dengan Fressia yang sedang merapikan selimut putra mereka itu.


Mendengar suara pintu terbuka dan melihat sosok yang berdiri tepat di ambang pintu, langsung membuat tubuh Fressia gemetar. Masih terlintas di dalam pikirannya, serta rasa takut yang memenuhi hatinya. Ia bergegas menundukkan kepalanya.


Aiden melangkah masuk dan mendekati tempat tidur. Jarak dirinya dengan Fressia semakin dekat. Hal itu membuat Fressia memundurkan langkahnya dan bergerak menjauh dari Aiden.


"Saya permisi dulu, Tuan," pamit Fressia sebelum akhirnya keluar dari kamar tidur Tristan.


"Halo, Tris. Bagaimana hari harimu? Maafkan Daddy yang pasti menyakiti perasaanmu dan merusak anggapanmu tentang Daddy. Daddy kejam? Ya, hanya pada orang orang yang ingin menyakiti keluarga Daddy," ucap Aiden setengah berbisik karena tak ingin membangunkan putranya itu.


Aiden mengusap rambut Tristan kemudian mengecup kening putranya itu, "Daddy menyayangimu. Daddy telah menemukan Mommymu, Tris. Kita akan selalu bersama, menjadi keluarga yang utuh. Daddy berjanji akan hal itu."


Malam itu, Aiden kembali lagi ke kamar tidur Tristan setelah membersihkan diri. Ia naik ke atas tempat tidur putranya dan tidur bersama.


*****

__ADS_1


Pagi pagi saat Fressia terbangun, ia melihat Aiden ada di taman belakang. Majikannya itu tengah melakukan olahraga kecil. Mata Fressia seakan terpaku pada gerak gerik tubuh Aiden ke kanan dan ke kiri.


Aiden yang menyadari kehadiran Fressia, langsung menghentikan aktivitasnya. Ia mendekat ke arah Fressia.


"Maaf," ucap Aiden dengan tatapan yang begitu tulus.


Namun, Fressia hanya diam menatap Aiden tanpa mengatakan apapun. Meskipun wajah Aiden terlihat tulus, tapi Fressia masih takut hingga ia diam terpaku.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Fressia kemudian langsung pergi meninggalkan Aiden.


Ia berusaha bersikap sopan, meskipun hatinya menolak dan tubuhnya masih bergetar. Fressia akan mencari cara untuk pergi dari sana. Ia tak bisa terus berada di rumah itu jika Aiden berada di sana. Fressia juga akan mencoba berbicara dengan Tristan.


"Fre ...," Aiden menahan lengan Fressia, membuat tubuh Fressia bergetar.


"Maaf, Tuan. Saya harus menyiapkan sarapan untuk Tristan. Saya permisi dulu," Fressia menarik tangannya yang dipegang oleh Aiden.


Aiden akhirnya melepas tangan Fressia. Ia bisa merasakan tubuh Fressia sedikit bergetar ketika ia memegang tangan wanita itu. Ia tak ingin Fressia semakin takut dengannya dan malah menjauhinya.


Fressia pergi dari sana sambil memegang bagian tangannya yang tadi dipegang oleh Aiden. Ia bahkan berhenti untuk memeriksa apakah tangannya terluka. Bisa saja Aiden menggunakan senjata rahasia yang sangat kecil. Bukankah pria itu pernah mengatakan tentang klan mafia? Fressia menggelengkan kepalanya beberapa kali, karena rasa takut kembali menjalar di tubuhnya.

__ADS_1


🧡 🧡 🧡


__ADS_2