Redstone: Sanctuary

Redstone: Sanctuary
Extra Story [Nolan] & Note


__ADS_3

Sekarang hari Rabu. Hari Rabu hanya punya satu arti bagi Nolan: surat Jose.


Ia berlari kencang melintasi jalan berpaving batu di Bjork, menerabas lalu lalang manusia dengan telapak di atas kepala, menahan topinya agar tidak terbang. Angin menerpanya, membuat blouse katun yang ia kenakan menempel pada tubuh.


"Hey Nolan!" seru Pierre yang sedang mengeluarkan papan iklan dari tokonya. "Bantu aku sebentar!"


"Nanti, Pierre!" seru Nolan tanpa menoleh. Ia melambai besar-besar sebagai isyarat minta maaf. "Nanti!"


"Oh! Kau pakai celana, jadi sekarang hari Rabu?" seru seseorang dari atas balkon rumah yang dilewatinya, Nolan tidak mengangkat wajah. Ia hanya menaikkan satu ibu jari.


Meski makin terbiasa mengenakan gaun atau rok, hari ini Nolan memakai celana. Ia selalu memakai celana setiap Rabu, supaya bisa berlari.


"Seorang lady tidak berlari," Jeanne selalu memarahinya seperti itu, dan Nolan tetap saja selalu berlari.


Ia sampai di depan manor Argent tepat waktu. Tukang Pos baru saja sampai. Namanya William Forbis. Pria itu pernah meminta Nolan memanggilnya dengan nama depan saja, tapi nama itu membawa kenangan buruk bagi Nolan, jadi ia tetap memanggilnya Mr. Forbis.


"Tepat waktu, Nak," Forbis tertawa melihat wajah Nolan yang kemerahan. "Kau makin cepat sekarang."


"Dan napasku makin kuat!" Nolan berseru riang.


"Seorang lady tidak berteriak-teriak," lagi-lagi salah satu teguran Jeanne melintas di benak Nolan. Namun ia segera mengenyahkan suara itu. Hari Rabu adalah miliknya. Ia akan menjadi Nolan dari Selatan, bukan Nolan Si Pembisik.


"Meski begitu, kau tahu aku tidak akan memberikan suratmu sebelum menyerahkan surat-surat pada Argent, kan?" Forbis melangkah masuk gerbang duluan.


"Aku tahu," sahut Nolan. Ia sudah menunggu selama seminggu. Ditambah beberapa menit lagi bukan masalah baginya.


George yang membukakan pintu rumah menyambut mereka. Surat-surat diletakkan dalam baki perak yang manis untuk disortir kemudian diserahkan ke masing-masing penerima. Nolan masih takjub setiap kali melihat tumpukan amplop yang datang ke rumah ini. Padahal surat yang dibawa oleh Forbis adalah "surat umum". Surat-surat khusus dibawa oleh utusan pribadi untuk menjaga kerahasiaan.


"Dan ini milikmu, Nolan." Forbis mengeluarkan surat dari kantung dadanya, bukan dari tas. Pria tua itu selalu memisahkan surat untuk Nolan dan menjaganya secara pribadi. Senyumnya hangat. "Kau sudah bisa membacanya sendiri?"


"Aku bisa membaca!" sahut Nolan cepat. Ia melirik George, yang mengangkat alis padanya dalam ketidaksetujuan. Nolan berdehem pelan, buru-buru menambahkan, "Terima kasih sudah membawakan suratku Mr. Forbis. Aku bisa membaca, kok. Hanya kadang-kadang butuh kamus."


Forbis tertawa. Ketika pria itu sudah pergi, George menghampiri Nolan dengan sopan. "Nona akan menggunakan perpustakaan?"


"Kalau boleh," kata Nolan, sekuat tenaga mengalihkan matanya dari tulisan tangan Jose. "Aku akan minta izin pada Marco atau Jeanne, kalau mereka ada."


"Tuan dan Nyonya Besar sedang istirahat bersama Nona Thea, mereka tidak ingin diganggu. Tapi Nyonya Jeanne sudah mengizinkan," George tersenyum. Ia menggerakkan tangan dalam gaya mempersilakan. "Perpustakaan bebas untuk Nona gunakan. Saya akan mengantar."

__ADS_1


"Eh, tidak perlu. Terima kasih Mr. George. Aku tahu jalannya. Lagi pula kau masih banyak tugas," Nolan berkata cepat-cepat. George adalah pelayan yang sangat ia sukai. Pria itu selalu memerlakukannya dengan hormat dan sering membukakan pintu untuknya—untuknya yang hanya pekerja.


"Jika itu yang Nona inginkan," kata George sopan. "Bunyikan bel jika Nona perlu bantuan atau membutuhkan sesuatu."


Nolan mengangguk. "Aku bisa sendiri, sih. Tapi terima kasih, Mr. George!"


Ia berjalan cepat menaiki tangga ke lantai dua, menyapa beberapa pelayan yang dikenalnya, lalu segera mengurung diri di perpustakaan rumah setelah mengambil satu buku kamus.


Saat tahu bahwa Nolan akan bekerja dengan Jeanne sebagai pembisik dan sedang berjuang belajar baca tulis serta etiket, Jose mengusulkan agar mereka saling berkirim surat. Dengan surat, Nolan akan bisa memelajari ketiganya sekaligus. Jose mengiriminya surat secara rutin sekali dalam seminggu. Isinya memang hanya hal-hal remeh, membicarakan apa yang dipelajari Nolan, membicarakan orang-orang bodoh di pesta dan gelar mereka, serta hal-hal kecil lain dalam format penulisan yang sok bergaya dan sok penting, kadang menggunakan istilah-istilah sulit untuk berlagak seperti cendekiawan. Nolan menyukai surat-surat konyol mereka. Ia mendapat banyak ilmu, mengenal makin banyak nama, serta bisa bersenang-senang.


"Apa itu yu ... yurisdiksi?" Nolan bergumam heran saat membaca. Ia menggeret kamusnya untuk mencari kata yang dimaksud.


"Lingkup kuasa atau tanggung jawab dalam wilayah tertentu," jawab sebuah suara.


Nolan terperanjat, hampir meloncat kaget mendengarnya. Ia menoleh kaget ke belakang bahu, mendapati Rolan menatap dengan wajah tertarik. Bahunya disandarkan pada sisi lemari.


"Sejak kapan kau di situ?" Nolan cepat-cepat menyelipkan suratnya ke dalam kamus.


"Sejak lama," tukas Rolan. "Aku sudah di sini duluan sebelum kau masuk sambil cekikikan."


"Aku tidak cekikikan!" Pipi Nolan merona merah karena jengkel. "Ini tempatku! Harusnya kau tahu tiap Rabu aku di sini!"


"Bukan!"


"Kau tahu dia keponakanku, kan? Aku hapal tulisan tangannya."


"Kalau gitu ngapain nanya-nanya?!" balas Nolan galak. Mata birunya berkilat marah. Rasanya seperti terpergok melakukan hal kotor padahal ia hanya membaca surat biasa.


Rolan masih belum menghapus senyum dari bibirnya, yang malah membuat Nolan makin takut. Ia pernah melihat pria itu dengan santai menusuk mata orang dengan garpu—sebagai info, orang yang ditusuk matanya oleh Rolan adalah tamu tak diundang yang masuk tiba-tiba saat Nolan, Jeanne, Marco, Thea, dan Rolan sedang makan siang di ruang khusus di restoran. Rolan melempar garpunya, mengelap bibir dengan lap makan, lalu berjalan menghampiri orang yang berguling-guling di lantai dan menyeretnya pergi. Marco dan Jeanne meneruskan makan seolah tidak ada apa pun yang terjadi, tapi Nolan tidak nafsu makan setelah itu.


Pria itu tidak mungkin membunuhnya karena ia bekerja dengan Jeanne, hanya itu yang Nolan jadikan pegangan supaya tidak terlalu takut.


"Lord Marsh mencarimu sejak kemarin," kata Rolan tiba-tiba, berbelok dari topik soal surat. "Kudengar dia mengundangmu ke pestanya?"


"Aku tidak akan datang." Nolan meletakkan tangannya di atas kamus, merasa harus melindungi suratnya. Meski melakukannya dengan gerakan sealami mungkin, ia tahu tidak bisa menipu mata Rolan. Pria itu pasti tahu tujuannya karena senyum yang terulas di sana jadi mengejek.


"Kenapa tidak?" Rolan menopangkan kepalanya ke atas tangan. Mata cokelat kacang di balik kaca mata bening itu terlihat seramah biasa. "Sepertinya dia menyukaimu."

__ADS_1


"Aku tidak suka dia."


"Siapa yang kau suka? Jose?" saat mengucapkan nama itu, suara Rolan berubah dingin hingga Nolan bergidik ngeri.


"Siapa yang kusuka bukan urusanmu!" Nolan menarik napas panjang, bisa mengerti kenapa Rolan menginterogasinya. Pria itu khawatir rumah tangga keponakannya rusak, seolah Nolan bisa merusaknya saja. "Marsh tidak menyukaiku. Dia cuma melihatku seperti binatang baru yang menarik perhatiannya. Semacam selingan supaya tidak bosan. Dia berganti pacar tiap minggu."


"Dia tidak pernah mengundang orang kecuali dia menyukai orang itu."


"Jika dia menyukaiku," suara Nolan bergetar karena emosi yang tak bisa dipahaminya, "dia akan mencari tahu apa kesukaanku, apa yang membuatku senang, apa yang sebaiknya tidak dia katakan padaku. Aku. Benci. Pesta. Borjuis. Kalau dia menyukaiku, dia akan tahu itu dan menghormatinya. Kau pikir pestanya akan seperti apa? Aku akan ditertawakan dan diolok-olok di sana!"


Rolan diam, mengamati Nolan agak lama. "Pestanya pesta minum teh. Bukan pesta malam. Kenapa kau selalu curiga sih? Apa yang membuatmu krisis kepercayaan?"


"Sama saja! Dia menyukai orang yang berdandan seperti boneka," Nolan menghela napas. "Dengar, Dok. Jose sudah punya istri, aku tahu itu. Aku juga tidak mengganggunya. Kami cuma berkirim surat seminggu sekali, dan isinya juga biasa saja." Matanya panas berair. "Dia cuma menganggapku temannya, maksimal menganggapku adik. Dan aku ingin menikmati itu. Aku tidak mengganggu Maria!"


"Aku tahu." Rolan bangkit berdiri dari duduknya. "Aku cuma mencemaskanmu," katanya penuh pengertian. "Kalau kau terus menenggelamkan diri dan menjadikan surat itu satu-satunya kesenanganmu, cahaya hidupmu, kau akan terluka." Ia berjalan melewati Nolan, menepuk singkat kepala gadis itu dengan lembut dan berkata, "Itu tidak sehat. Bahkan Marco pun mencemaskanmu."


Nolan diam. Air matanya mengalir jatuh ke atas meja. Jangan tertipu Nolan, pikirnya keras kepala, dia cuma pura-pura pengertian tanpa ketulusan.


***


Bab extra ini sekalian memuat pengunguman ya manteman.


Apa kalian mau dapat update bonus Redstone hari Minggu besok? Kalau iya, silakan cek akun instagramku di @narazwei untuk cek.


Di akunku dan akun @noveltoon_ind ada video mini kutipan Bloody Love. Kalian bisa share video tersebut (boleh share di FB, share di IG story, atau repost) dan tag @mangatoon_ind @noveltoon_ind serta @narazwei


Pilih aja mau share video dari akunku atau akunnya Novel Toon, mau keduanya juga boleh sih. Kalau mau download sendiri videonya trus upload sendiri juga gapapa 💕


Kalau yang share banyak, aku akan update 2 chapter di hari Minggu. Iya, 2 chapter aja, soalnya ga kuat kalo banyak-banyak 😂 makasih ya untuk yang mau ikut serta.


Untuk yang belum tahu cara share, kalian bisa pake aplikasi repost for instagram, atau share aja ke story dengan cara ini:




__ADS_1


Ingat, jangan lupa tag 3 akun di atas ya saat share. Makin banyak yang share makin bagus 😘😘


__ADS_2